Management

Kisah Persahabatan yang Retak dan Perebutan Aset yang Menggetarkan

Kolase foto : Teguh S. Pambudi/SWA.

swa.co.id, Jakarta - Iwan Sunito dan Paul Sathio adalah dua nama besar yang bergema di dunia properti Australia. Mereka adalah diaspora Indonesia yang dengan tangan dingin dan visi luar biasa telah membangun Crown Group dari nol menjadi kekuatan besar yang disegani di panggung industri properti Negeri Kanguru. Mereka telah menancapkan kuku di lokasi-lokasi utama Sydney, menghadirkan karya-karya arsitektur yang menjulang dan menawan.

Pada tahun 2023, nilai aset Crown Group diperkirakan mencapai miliaran dolar Australia. Proyek-proyek besarnya tidak hanya berfokus di Sydney, tetapi juga merambah ke Melbourne, Brisbane, dan bahkan Los Angeles. Di antara proyek-proyek terbesar adalah Mastery by Crown Group di Waterloo dan Eastlakes Live by Crown Group, dengan nilai sekitar Aus$500 juta (Rp5,4 triliun dengan kurs Rp10.811). Gedung-gedung ini bukan sekadar bangunan, melainkan simbol dedikasi dan keunggulan dua tokoh ini.

Namun, setelah hampir tiga dekade bergelimang kesuksesan, persahabatan yang dulu erat kini retak. Mereka terlibat dalam pertarungan sengit di pengadilan, memperebutkan kendali dan aset perusahaan yang dulu dibangun dengan cinta serta penuh semangat, yang mengangkat keduanya ke puncak jagat bisnis Negeri Kanguru.

Iwan dan Paul mendirikan Crown Group pada tahun 1996. Iwan, lahir pada tanggal 29 Juli 1966 di Surabaya, masih berusia 30 tahun saat itu. Dia bertemu dan bermitra dengan Paul, yang usianya 10 tahun lebih tua, yang lahir di Denpasar pada 28 Agustus 1956. Perjalanan hidup membawa mereka dari Indonesia ke Australia, di mana mereka menemukan panggilan jiwa dalam dunia arsitektur dan konstruksi.

Besar di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, pada tahun 1984 Iwan pindah ke Australia untuk melanjutkan studi di University of New South Wales. Di universitas ini, dia meraih gelar Bachelor of Architecture dan kemudian Master of Construction Management. Lelaki ini adalah seorang arsitek muda yang sedang merintis bisnis ketika bertemu Paul. Pada tahun 1994, dia mendirikan biro arsitektur bernama Joshua International Architects, sebuah langkah awal yang menandai ambisinya yang besar.

Sementara Paul, yang meninggalkan Denpasar, mengambil jurusan Civil Engineering di New South Wales Institute of Technology pada tahun 1976, kemudian melanjutkan pendidikan magisternya di University of New South Wales. Setelah bekerja di Transfield Construction Company Australia, pada tahun 1990 Paul mendirikan Gryk Holding Pty. Ltd., yang proyek awalnya adalah pembangunan 15 vila di suburb Sydney, Ryde. Paul seorang penggemar berat bulu tangkis, yang membawa semangat dan ketekunan ke dalam setiap proyek yang ditanganinya. Untuk urusan tepuk bulu angsa, Paul bahkan kerap menjadi sponsor event besar, termasuk menggelar The SATHIO GROUP Australian Badminton Open.

Ketika bertemu, mereka bukanlah siapa-siapa. Iwan seorang arsitek muda dengan impian besar, sementara Paul adalah ahli konstruksi yang baru merintis bisnis. Bersama seorang mitra, Anthony Sun, yang ahli marketing, mereka sepakat mendirikan Crown International Holding Group. Mereka memulai bisnis dengan visi yang sama: membangun proyek-proyek properti yang tidak hanya bernilai tinggi tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Setelah Anthony mundur, Iwan dan Paul menjadi pengendali perusahaan, masing-masing memegang 50% saham dan berbagi otoritas. Paul menjadi CEO Construction, memastikan konsep pengembangan yang dirancang Iwan bisa diimplementasikan dengan sempurna. Adapun Iwan menjadi CEO Development Crown Group, yang mengurusi aspek pemasaran dan pengembangan. Dia juga menjadi front man, yang menjual proyek ke seantero Australia, bahkan ke negeri-negeri tetangga, terutama Indonesia, tempat dua diaspora ini lahir. Saking aktifnya tampil di publik, Iwan kerap dijuluki "The Face of Crown".

Dari Sekutu, Jadi Seteru

Duet diaspora ini berubah menjadi duet maut, atau lebih dikenal sebagai dynamic duo. Di tangan mereka, Crown menangguk sukses besar. Proyek demi proyek residensial yang mereka bangun berhasil diserap pasar dengan antusiasme yang luar biasa. Dari rumah tapak hingga vila, mereka merambah proyek-proyek pencakar langit yang megah. Crown tumbuh menjadi salah satu perusahaan pengembang properti terkemuka di Australia, dengan berbagai proyek besar yang terutama berpusat di Sydney. Mereka berhasil mengembangkan sederet proyek ikonik dan meraih banyak penghargaan bergengsi.

Salah satu produk ikonik Crown, Infinity Park, Green Square. (Istimewa)

Namun, di tengah balutan kesuksesan, riak pun mulai muncul. Dalam versi Iwan, konflik mulai terpantik sekitar tahun 2017 ketika anak sulung Paul, yang menurutnya masih muda dan kurang berpengalaman, diberikan posisi penting dalam proyek besar perusahaan.

"Anaknya terlalu muda dan tidak memiliki pengalaman yang cukup, tapi Paul menempatkannya di posisi penting (urusan konstruksi) dalam proyek Ashfield," ujar Iwan. Sementara anak lelaki kedua dilibatkan di bagian penjualan.

Menurut Iwan, mitranya itu terlalu mengistimewakan putra-putranya. “Waktu sales launch, dia minta anaknya diprioritaskan dulu daripada anak sales lain. Padahal sistem kami adalah rotasi. Jadi kalau anaknya punya potensi 15 sales, semuanya harus jalan di depan. Saya nggak setuju itu, karena menurut saya nggak fair. Sebab sistem kami adalah rotating.”

Mulanya Iwan mendiamkan. Lalu mulai menegur perlahan.

Paul tak mau terima. Friksi kecil ini kemudian perlahan-lahan menjadi api dalam sekam. Terlebih ketika proyek di mana anak Paul terlibat, kata Iwan, ternyata biayanya membengkak 100%; dari Aus$17 juta menjadi Aus$34 juta dengan waktu pengerjaan yang molor dari target 12 bulan menjadi 30 bulan.

Iwan mulai mencium ketidakberesan di sektor kontruksi. Hal yang sama juga muncul di proyek EastLake. Selain proyeknya molor dari 3 tahun menjadi 5 tahun, biayanya juga membengkak Aus$40 juta. "Bagaimana gak rugi kalau begini caranya," Iwan mengeluh.

Situasi pun kian memanas. Meski di luar tampak biasa, kedua sahabat ini secara bertahap menjadi seteru. Satu sama lain merasa partnernya adalah "duri dalam daging". Menurut Iwan, situasi diperburuk karena Paul begitu protektif terhadap anak-anaknya. Siapa pun yang mengusik keberadaan putra-putranya akan langsung diturunkan posisinya, atau bahkan dipecatnya tanpa ampun.

Pola di Crown di mana masing-masing founder memiliki 50% saham tampaknya turut berandil terhadap situasi ini. Dengan posisi masing-masing sebagai CEO, Iwan dan Paul membawahi divisi sendiri-sendiri sesuai kesepakatan.

Sebelum putra-putra Paul masuk, situasi berjalan normal. Namun setelah anak-anaknya masuk, Iwan tak memahami mengapa partnernya berubah demikian drastis.

Dalam upaya mengatasi masalah, dia mengaku beberapa kali mengingatkan Paul bahwa Crown bukanlah bisnis keluarga. “Saya ingatkan bahwa dari awal kami sudah sepakat bahwa ini bukan bisnis keluarga. Bahwa ini hanya saya dan dia. Jangan libatkan keluarga. Karena itu, sebetulnya kami sudah mulai membagi-bagi aset,” katanya.

Entah mengapa Paul menjadi emosional setelah mitranya itu beberapa kali menegurnya. Menurut Iwan, dalam beberapa kesempatan, Paul bukan hanya menyindir-nyindir di ruang rapat, tapi juga sering mendatangi ruangannya dan dengan marah-marah mengatakan beragam hal yang tidak menyenangkan. “Salah satunya dia bilang, ‘Partner gua ini nggak baik buat gua’,” Iwan bercerita.

Paul dan kedua putranya (sathiogroup.com.au)

“Main Kayu”

Namanya manusia, ketika berada dalam suasana seperti itu, Iwan pun lama-lama tak tahan. Ketegangan yang kian meruncing membuat batinnya bergolak. Apalagi, menurutnya, setelah itu Paul mulai “main kayu” secara agresif.

Email-email penuh tuduhan dan fitnah sering kali diterima Iwan, ditembuskan ke banyak karyawan dengan tujuan mendiskreditkan mitranya itu. Paul menuduh Iwan melakukan tindakan yang merugikan perusahaan. Tak hanya itu, akses yang seharusnya juga menjadi kewenangan Iwan mulai dihambat, termasuk tindakan mendadak Paul mengganti password akses ke bank yang sejak awal disepakati diketahui bersama, dan tidak diubah tanpa persetujuan satu sama lain.

Bulan demi bulan berjalan bagai api. Kantor yang semula nyaman, seakan menjadi ruang yang panas. Karyawan pun ikut terbelah. Ketegangan yang kian memanas itu akhirnya meledak pada pertengahan 2023. Masing-masing pihak mengajukan klaim ke pengadilan untuk memperebutkan kendali dan aset-aset Crown.

Menyikapi situasi yang makin tak kondusif, Iwan mengungkap, ada keinginan dalam dirinya untuk menyelesaikan semua ini secara damai. Karena itu dia sempat memilih untuk mengalah dan merendah. Dia bahkan rela bekerja di kafe bersama timnya untuk menghindari konfrontasi di gedung kantor Crown yang makin tak kondusif. Bersama istrinya, Iwan juga mengunjungi kediaman Paul, untuk mengingatkan segala kenangan manis dan kebersamaan mereka, serta menawarkan pembagian aset alih-alih membawa masalah ini ke pengadilan.

Namun, Paul bergeming. Lewat media massa, dia bahkan mengeluarkan sejumlah tuduhan. Salah satunya adalah bahwa Iwan tidak menyuntikkan dana untuk operasi perusahaan, sementara Paul sendiri telah menyuntikkan hampir Aus$50 juta untuk menjaga kelangsungan operasional Crown Group, termasuk pembayaran gaji karyawan, sewa kantor, pajak, bunga bank, dan tagihan lainnya.

"Semua tuduhan itu bohong," ujar Iwan dengan nada keras. Sebaliknya, dia menuduh Paul sebagai akar masalah sesungguhnya yang menciptakan semua kekacauan dan kehancuran untuk kerajaan bisnis yang sudah dibangun dengan susah payah itu. “Selain tidak transparan, membuat keputusan bisnis sendiri, Paul sering kali menggunakan kekuasaan dan pengaruhnya secara semena-mena. Dia menciptakan lingkungan kerja yang penuh ketakutan dan ketidakpastian," katanya. Salah satu bukti yang diungkap Iwan adalah penutupan kantor Crown Indonesia di Jakarta pada tahun 2022 tanpa memberikan hak-hak karyawan yang sesuai undang-undang yang berlaku.

Akhirnya, pada Agustus 2023, setelah menerima pengajuan dari Paul, pengadilan menunjuk Andrew Sallway dari BDO sebagai likuidator sementara untuk mengelola aset serta kewajiban-kewajiban Crown.

Di tengah situasi yang semakin panas, Iwan sempat mengajukan penawaran Aus$45 juta dolar untuk membeli 50% saham Paul di Crown Group, agar perpisahan bisa berlangsung baik-baik tanpa harus ke pengadilan. Belakangan, tawaran itu malah dinaikkannya menjadi Aus$97 juta atau sekitar Rp1 triliun, plus dua lokasi proyek strategis, West Ends dan Strathfield. “Paul, kenapa sih kita nggak pisah baik-baik saja?” keluhnya.

Tawaran itu menurut Iwan jauh lebih tinggi daripada penawaran Paul yang sempat diberikan padanya, yang sebesar Aus$15 juta dolar AS untuk 50% saham di Crown Group. Menurutnya, dia menaikkan tawaran ini atas pertimbangan kemanusiaan. "Usia Paul 10 tahun di atas saya. Mendekati 70 tahun. Dengan tawaran ini, akan mendukungnya dalam transisi ke masa pensiun atau memulai kembali usahanya," dia menambahkan dengan nada serius.

Namun, Paul rupanya tetap bergeming. Dia tak bergerak menyambut tawaran itu. Dia mengajukan tuntutan melalui pengadilan di Sydney untuk memutuskan kemitraan dengan Iwan dan melikuidasi Crown Group. Sepertinya dia merasa sudah kepalang basah. Dan dia mungkin merasa akan menang sehingga alih-alih berdamai dan memilih jalan kekeluargaan, dia lebih suka Perang Bubat (perang habis-habisan) di pengadilan.

Merasa jalan kekeluargaan tak lagi memungkinkan, Iwan melihat langkah hukum adalah satu-satunya cara untuk melindungi hak-haknya. “Saya sebenarnya selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan semua orang. Tapi saya percaya bahwa integritas dan transparansi adalah kunci untuk menyelesaikan masalah ini," tegas Iwan yang mengakui bahwa masuk ke pengadilan, sejatinya memaksa dia harus merogoh uang dalam-dalam untuk membayar pengacara yang sangat mahal.

Maka bangunan bisnis serta persahabatan yang terjalin hampir tiga dekade itu pun hancur berkeping-keping. Dua sahabat yang lama berduet ini memilih untuk berduel sebagai jalan keluar dari kemelut yang ada. Masing-masing menyiapkan peluru, para pengacara hebat yang harganya mahal.

Tak hanya mengganggu sisi psikologis keduanya, konflik ini juga menimbulkan dampak besar pada Crown Group. Beberapa proyek besar perusahaan, seperti pembangunan apartemen serta pusat ritel di Sydney dan Brisbane yang bernilai lebih dari Aus$1 miliar kini berada dalam pengawasan ketat dan mengalami penundaan akibat perseteruan ini​. Langkah ini diambil untuk memastikan pembayaran kepada kontraktor dan menyelesaikan kewajiban finansial perusahaan​.

Iwan sendiri hingga kini tetap tidak mengerti mengapa Paul bisa sampai bertindak demikian. Dia bahkan sampai pada kesimpulan yang dulu sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya. “Sepertinya ada greedy dalam dirinya,” katanya dengan nada masygul. Dia juga berencana untuk satu hari kelak melakukan audit forensik terhadap proyek-proyek yang membengkak di tangan Paul dan anaknya. "Saya tak menuduh. Tapi saya penasaran."

Keputusan Pengadilan

Di tengah pengadilan yang terus berlangsung, Iwan yang sekian lama mengaku sempat stres dan sulit tidur karena menghadapi situasi buruk ini, perlahan-lahan mulai bangkit. Dia fokus mengembangkan bisnisnya yang dibangun di masa-masa konflik mulai memanas, lewat bendera ONE Global Capital, yang lama terbengkalai karena waktu serta pikirannya tersita dalam konflik di Crown.

ONE Global Capital fokus pada pengembangan proyek residensial dan hotel dengan fasilitas yang biasanya hanya ditemukan di hotel-hotel mewah. Iwan mendirikan perusahaan ini sebelum perseteruan masuk ke pengadilan. Visi untuk ONE Global Capital adalah menyediakan tempat tinggal yang menggabungkan kenyamanan hotel dengan hunian berkualitas tinggi​.

Proyek pertama ONE Global Capital adalah pembangunan di Macquarie Park, Sydney, yang meliputi tiga menara dengan total biaya proyek sekitar Aus$450 juta. Proyek ini akan mencakup 270 apartemen, sebuah hotel dengan 100 kamar, dan ruang ritel premium. Lelaki plontos ini menjelaskan bahwa perubahan gaya hidup masyarakat Australia, yang semakin menginginkan akses ke layanan dan fasilitas hotel dalam hunian mereka, menjadi latar belakang pendirian perusahaan ini.

Selain itu, dia juga memiliki rencana untuk proyek-proyek lainnya, termasuk pengembangan di daerah Chatswood, Sydney dengan nilai total Aus$750 juta dan proyek di Los Angeles serta Brisbane. Fokus perusahaan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan hunian yang beragam, dari profesional muda hingga keluarga, dengan menawarkan fasilitas seperti layanan concierge, ruang rekreasi, dan area hijau yang dirancang untuk menciptakan komunitas yang terhubung.

Dengan berterus terang, Iwan mengungkap dia mendapat banyak dukungan institusi finansial yang percaya bahwa dirinya berada di jalan yang benar dalam perang besar di Crown. Sesuatu yang diakuinya membuatnya happy. Karena itulah sembari menunggu keputusan pengadilan, dia terus bergerak. Termasuk ke Indonesia. Salah satu proyek terbaru di tanah kelahirannya ini adalah proyek di Ancol.

Sewaktu ditanya apakah dia akan membuka hati untuk peluang rekonsiliasi dengan Paul demi mengingat hal-hal baik dan indah yang telah dilalui bersama, Iwan menggeleng. “No mercy. Pintu sudah tertutup. Dia yang memulainya. Dia yang memilih perang. Saya sudah menawari jalan kekeluargaan tanpa mesti masuk pengadilan,” ujarnya menggeleng saat ditemui di Fairmont Hotel, Jakarta. Menurutnya, dia sama sekali tak menyangka akan diperlakukan sedemikian rupa oleh mitra yang dulu sangat dipercayanya.

Bagi orang yang mengenal Iwan sebagai sosok yang terlihat kalem, ramah, dan santun, pernyataan semacam ini mungkin terasa mengejutkan. Namun, tampaknya hal itu bisa dipahami dengan mempertimbangkan rasa sakit seseorang yang bertahun-tahun menaruh kepercayaan tapi kemudian diajukan ke pengadilan dengan beragam tuduhan dan ancaman pengambilan aset oleh orang yang selama ini dipercayainya.

Yang menarik, di tengah upayanya untuk membangun masa depan, Iwan kini berada di atas angin. Mei 2024, dia berhasil mendapatkan kepemilikan penuh atas beberapa properti utama, termasuk Skye Suites Green Square dan One Global Conference Centre di Infinity Park, Sydney, sebagai bagian dari pembagian aset dengan Paul. Transaksi ini memperkuat portofolio bisnis ONE Global Capital sebesar Rp1,2 triliun.

swa.co.id mencoba mengonfirmasi seluruh cerita ini kepada Paul untuk mendapatkan berita yang berimbang. Termasuk rumor-rumor yang berkembang bahwa dia tengah mengalami kesulitan keuangan untuk mendanai proyek-proyeknya. Juga langkahnya menggalang dana, termasuk ke Indonesia. Sayang, setelah beberapa kali dikirimi permohonan wawancara, Paul -- yang memang terkenal pendiam -- tidak memberikan tanggapan apa pun. Yang pasti, Paul sendiri telah lama memiliki Sathio Group yang menaungi bisnis-bisnisnya yang terpisah dari Crown.

Bagaimana kesudahan pertikaian dua sahabat yang kini menjadi musuh bagi satu sama lain itu memang masih ditunggu. Namun Iwan sudah mencanangkan dua hal. “Pertama, saya akan memasukkan Crown dalam ONE Global Capital. Kedua, saya ingin menyelesaikan unfinished business di Indonesia, tidak saja membangun proyek-proyek Indonesia yang tertunda, tapi juga memulihkan hak-hak karyawan Crown Indonesia sebagaimana mestinya.”

Dia sendiri merasa di balik situasi yang tidak menyenangkan, ada hikmah yang bisa dipetiknya. “Ini sebuah percepatan buat saya. Karyawan ONE Global Capital terus bertambah. Dari 5 orang, kini sudah 40 orang dan akan menjadi 100 orang. Ini menjadi fondasi untuk tumbuh berkembang. Target saya, ONE Global Capital akan go public dalam 7 tahun mendatang.” (*)

Reportase: Anastasia A. S

Eduardo Saverin dan Mark Zuckerberg: Dari Sahabat Menjadi Rival

Eduardo Saverin dan Mark Zuckerberg memulai perjalanan mereka bersama sebagai mahasiswa Harvard yang memiliki impian besar. Pada tahun 2003, mereka mendirikan Facebook bersama-sama, dengan Saverin memberikan dana awal sebesar US$15,000 untuk membantu Zuckerberg mengembangkan platform tersebut. Namun, persahabatan dan kemitraan bisnis mereka tidak bertahan lama dan berubah menjadi salah satu konflik paling terkenal dalam sejarah teknologi.

Pada awalnya, Saverin dan Zuckerberg berbagi visi untuk menciptakan jejaring sosial yang revolusioner. Saverin bertanggung jawab atas pendanaan dan model bisnis, sementara Zuckerberg fokus pada pengembangan teknis. Namun, ketegangan mulai muncul ketika Zuckerberg merasa bahwa Saverin tidak sepenuhnya mendukung langkah-langkah ekspansi yang diperlukan untuk mengembangkan Facebook lebih jauh. Perbedaan visi ini diperparah oleh kehadiran Sean Parker, pendiri Napster, yang membawa perspektif baru dan mendorong Zuckerberg untuk lebih agresif dalam mengembangkan Facebook.

Ketika Zuckerberg dan Parker bekerja sama, Saverin semakin terpinggirkan dari pengambilan keputusan strategis. Keputusan-keputusan penting mulai diambil tanpa melibatkan Saverin, termasuk perubahan struktur hukum perusahaan untuk mengurangi pengaruh Saverin. Puncaknya terjadi ketika saham Saverin dalam perusahaan dilarutkan dari 34% menjadi kurang dari 10% tanpa sepengetahuannya. Selain itu, namanya juga dihapus dari masthead Facebook, yang menyatakan bahwa dia adalah salah satu pendiri.

Merasa dikhianati, Saverin mengajukan gugatan hukum terhadap Zuckerberg dan Facebook pada tahun 2005. Gugatan ini menuduh bahwa Zuckerberg telah melanggar kesepakatan kemitraan mereka dan menggunakan dana investasi Saverin untuk kepentingan pribadi. Kasus ini diselesaikan di luar pengadilan dengan persyaratan yang dirahasiakan, tetapi Saverin dilaporkan menerima saham Facebook yang bernilai miliaran dolar. Pada akhirnya, nama Saverin dipulihkan sebagai salah satu pendiri Facebook, dan dia tetap memiliki persentase saham yang signifikan di perusahaan tersebut.

Konflik antara Saverin dan Zuckerberg menjadi sorotan publik setelah diangkat dalam film "The Social Network" pada tahun 2010. Film ini menggambarkan hubungan kompleks antara dua sahabat yang berubah menjadi rival, serta dampak besar yang ditimbulkan oleh ambisi dan keputusan bisnis mereka. Perseteruan ini juga memberikan pelajaran berharga tentang betapa pentingnya kejelasan peran dan komunikasi dalam kemitraan bisnis, serta dampak dari keputusan yang didorong oleh ambisi pribadi. (*)

Sandy Weill vs Jamie Dimon: Dari Mentor dan Murid Menjadi Rival

Jamie Dimon dan Sandy Weill (Dok. @aschwags3)

Jamie Dimon dan Sandy Weill adalah dua tokoh besar di dunia perbankan yang perjalanan kariernya penuh dengan pencapaian besar, tetapi juga diwarnai oleh konflik yang signifikan. Dimon, yang bergabung dengan Weill setelah lulus dari Harvard Business School, menganggap Weill sebagai mentornya. Bersama-sama, mereka membangun Citigroup, salah satu perusahaan jasa keuangan terbesar di dunia.

Namun, hubungan mentor-murid ini tidak bertahan lama. Pada tahun 1998, Weill, yang saat itu menjabat sebagai ketua Citigroup, meminta Dimon untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai presiden perusahaan. Keputusan ini mengejutkan Dimon dan menciptakan keretakan besar di antara mereka.

Alasan di balik konflik ini bervariasi, tetapi sebagian besar sumber menyebutkan bahwa perbedaan visi dan ambisi antara keduanya menjadi pemicu utama. Weill merasa Dimon terlalu ambisius dan mengancam posisinya, sementara Dimon merasa Weill tidak mau memberi ruang baginya untuk tumbuh lebih jauh dalam perusahaan. Setelah dikeluarkan dari Citigroup, Dimon mengambil jeda sejenak dari dunia perbankan, memanfaatkan waktu tersebut untuk berintrospeksi dan mempersiapkan langkah berikutnya.

Pada tahun 2000, Dimon kembali ke dunia perbankan sebagai CEO Bank One di Chicago. Di bawah kepemimpinannya, Bank One berhasil bangkit dari kerugian besar dan meraih keuntungan signifikan dalam beberapa tahun. Keberhasilannya di Bank One menarik perhatian JPMorgan Chase, yang kemudian mengakuisisi Bank One pada tahun 2004. Dimon kemudian menjadi CEO JPMorgan Chase pada tahun 2005 dan ketua dewan pada tahun 2006. Sementara itu, Weill melanjutkan kariernya di Citigroup hingga pensiun pada tahun 2003.

Meskipun hubungan mereka sempat tegang, Dimon dan Weill akhirnya berdamai. Dimon mengakui bahwa meskipun ada perbedaan, dia tetap menghargai kontribusi Weill dalam kariernya. "Saya tahu saya harus mengatakan terima kasih atas apa yang dia lakukan untuk saya. Saya juga tahu dia dan saya harus berbicara tentang apa yang terjadi. Saya ingin menyelesaikan ini agar bisa melanjutkan hidup," ujar Dimon. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved