Trends

IATA: CEO Boeing Berikutnya Harus Pahami Kesalahan Masa Lalu

IATA: CEO Boeing Berikutnya Harus Pahami Kesalahan Masa Lalu
CEO Dave Calhoun akan resmi meninggalkan Boeing akhir tahun ini (foto: dok).

CEO Boeing berikutnya harus memiliki pemahaman tentang apa yang menyebabkan krisis saat ini dan siap untuk melihat ke luar untuk mencari contoh-contoh praktik industri terbaik, kata kepala Asosiasi Transportasi Udara Internasional pada hari Minggu (2/6).

Produsen pesawat terbang AS, Boeing, dilanda krisis keselamatan yang meluas, yang diperparah oleh ledakan panel di udara pada bulan Januari pada pesawat 737 MAX yang relatif masih baru. CEO Dave Calhoun akan meninggalkan perusahaan tersebut pada akhir tahun ini sebagai bagian dari perombakan manajemen yang lebih luas, tetapi Boeing belum menunjuk penggantinya.

"Bukan hak saya untuk mengatakan siapa yang seharusnya menjalankan Boeing. Namun saya pikir pemahaman tentang apa yang salah di masa lalu, itu sangat penting," kata Direktur Jenderal IATA Willie Walsh kepada Reuters TV dalam sebuah konferensi maskapai penerbangan di Dubai, seraya menambahkan bahwa Boeing telah mengambil langkah yang tepat.

IATA mewakili lebih dari 300 maskapai penerbangan atau sekitar 80% dari lalu lintas global.

"Industri kita beruntung bisa belajar dari kesalahan, dan berbagi pembelajaran tersebut dengan semua orang," kata Walsh, seraya menambahkan bahwa proses ini harus mencakup "pengakuan atas apa yang salah, melihat praktik terbaik, dan melihat apa yang dilakukan orang lain."

Dia mengatakan bahwa sangat penting bagi industri ini untuk memiliki budaya "di mana orang merasa aman untuk menyampaikan dan mengatakan bahwa segala sesuatunya tidak berjalan sebagaimana mestinya."

Boeing sedang menghadapi penyelidikan oleh regulator AS, kemungkinan tuntutan atas tindakan di masa lalu, dan produksi jet terlarisnya, 737 MAX merosot.

Langkah yang tepat

Calhoun, anggota dewan Boeing sejak 2009 dan mantan eksekutif GE, ditunjuk sebagai CEO pada tahun 2020 untuk membantu membalikkan keadaan perusahaan pembuat pesawat tersebut setelah dua kecelakaan fatal yang melibatkan MAX, jet terlarisnya. Namun, produsen pesawat ini telah kehilangan pangsa pasar dari pesaingnya, Airbus, dengan sahamnya kehilangan hampir 32% nilainya tahun ini karena produksi MAX anjlok pada musim semi ini.

"Industri ini frustrasi dengan masalah-masalah yang dihadapi Boeing. Namun secara pribadi, saya senang melihat mereka mengambil langkah yang tepat," kata Walsh.

Penundaan pengiriman jet baru dari Boeing dan Airbus merupakan bagian dari masalah yang lebih luas dalam rantai pasokan kedirgantaraan dan industri perawatan pesawat yang mempersulit rencana pertumbuhan maskapai.

Walsh mengatakan bahwa masalah rantai pasokan tidak berkurang secepat yang diinginkan oleh maskapai penerbangan dan dapat berlangsung hingga tahun 2025 atau 2026.

"Ini mungkin hal yang positif karena tidak memburuk, tetapi saya pikir ini akan menjadi ciri khas industri ini untuk beberapa tahun ke depan," ujarnya. Awal tahun ini, IATA mengumpulkan sejumlah maskapai penerbangan dan produsen untuk mendiskusikan cara-cara untuk meringankan situasi ini, kata Walsh.

"Kami mencoba untuk memastikan bahwa ada dialog terbuka dan kejujuran," di antara mereka, katanya. [my/jm]

Sumber: VoAIndonesia.com


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved