Capital Market & Investment

Bappebti dan Pintu Menjabarkan Tantangan Pasar Kripto Domestik

swa.co.id, Jakarta- Investor kian meminati investasi kripto. Ini terefleksikan dari peningkatana jumlah investor kripto. Data dari Badan Pengawas Berjangka Perdagangan Komoditi (Bappebti) menunjukkan jumlah investor kripto mencapai 20 juta dengan total transaksi Rp211,1 triliun pada 2024. Di balik peningkatan tersebut, masih banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh semua pihak terkait edukasi hingga regulasi.

Guna menjawab hal tersebut, PT Pintu Kemana Saja (Pintu) bersama dengan Bappebti menggelar diskusi bertajuk Langkah Bappebti Kembangkan Pasar Crypto Indonesia. Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) Bappebti, Tirta Karma Senjaya dan General Counsel Pintu Malikulkusno Utomo (Dimas), menjabarkan berbagai langkah untuk melindungi investor.

Tirta mengungkapkan, Bappebti dipercaya oleh pemerintah untuk menata pasar kripto kendati adanya beragam tantangan di berbagai aspek. Tantangan ini disikapi regulator sebagai ruang untuk eksplorasi dan berinovasi kepada pelaku industri maupun pendukung ekosistem kripto serta memberikan keamanan dan kenyamanan investasi bagi para investor. “Kami melihat tantangan tersebut menjadi tanggung jawab bersama, khususnya pemerintah agar bisa mengatur terkait dengan penggunaan blockchain ini karena kami yakin dari sisi hulu ini akan memberikan keuntungan besar bagi Indonesia jika dikembangkan. Tentu saja, kami bersama pemerintah dan kementerian serta lembaga terkait saling bekerja sama untuk membangun industri crypto dari hulu ke hilir,” jelas Tirta dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (4/6/2024).

Dimas menjabarkan tantangan yang dihadapi pelaku usaha kripto, yakni regulasi di aspek hulu dan hilir. Pasar kripto bergerak sangat cepat dan dinamis dengan berbagai use cases yang muncul setiap harinya. Investasi perdagangan spot hanyalah salah satu produk, sementara banyak hal lain seperti Decentralized Finance (DeFi), NFT, Web3, dan produk crypto lainnya yang menjadi tantangan seluruh pihak.

Berikutnya adalah tantangan mengedukasi publik dan investor. Pintu berkomitmen untuk terus melakukan edukasi kepada masyarakat yang sudah bisa dilihat dari berbagai kegiatan komunitas seperti webinar, roadshow ke berbagai kampus dan memanfaatkan berbagai platform seperti Pintu Academy. “Kami justru melihat ada sarana lain untuk edukasi yaitu langsung mencoba berinvestasi crypto. Hal tersebut tidak hanya dapat mendorong penetrasi investor crypto di Indonesia, namun menjadi bagian dari perjalanan self-learning investor itu sendiri bahwa terdapat berbagai risiko di dalam investasi crypto. Jadi investor yang sudah mencoba diharapkan secara perlahan melakukan riset hingga menentukan profil risiko dan alokasi persentase dana yang akan diinvestasikan ke aset crypto,” ucap Dimas menguraikan.

Berdasarkan survei Coinvestasi kepada 1.086 responden pada Desember 2023 sampai Januari 2024, mengungkapkan dana alokasi masyarakat Indonesia untuk berinvestasi kripto sebesar 53% menghabiskan lebih dari Rp500 ribu. Survei ini terangkum pada laporan bertajuk Latest Survey: 5 User Behaviors of Indonesian Crypto Investor yang dirilis Indonesia Crypto Network.

Per kuartal I/2024, aset kripto yang mendominasi perdagangan crypto di Indonesia adalah USDT, BTC, Pepe , Shiba Inu, dan Doge. Terdapat pergeseran pilihan aset dibandingkan dengan kuartal keempat tahun lalu lantaran koin seperti RNDR dan Solana ada di lima besar aset yang diperdagangkan bersandingan dengan BTC dan ETH. “Fenomena ini menjadi tantangan bagi kami agar tetap memberikan edukasi menyeluruh bagi investor crypto, menyiapkan ekosistem yang memberikan keamanan, dan mengimbau para pedagang crypto untuk menjaga stabilitas layanan,” ungkap Tirta.

Regulasi yang tepat akan membangun kepercayaan dan mempercepat adopsikripto. ”Di Indonesia, kami mengapresiasi Pemerintah Indonesia melalui Bappebti, yang kemudian akan dilanjutkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang telah mendukung berkembangnya industri ini. Kami menyambut hal tersebut dengan baik untuk memastikan kemajuan industri crypto di Indonesia,” ujar Dimas.

Menurutnya, kemajuan industri kripto di Indonesia juga ditandai oleh adopsi teknologi blockchain pada berbagai institusi besar yang tertarik dan mulai berinvestasi ke aset kripto serta memanfaatkan teknologi blockchain. Contohnya, perusahaan fintech PayPal dan Square, Tesla hingga Bank Indonesia yang beberapa waktu lalu meluncurkan whitepaper Central Bank Digital Currency (CBDC) yaitu Proyek Garuda.

Ini merupakan sinyal positif untuk mendorong pertumbuhan industri kripto. Secara global, kepemilikan aset kripto terus meningkat. Triple A, sebuah perusahaan blockchain yang berbasis di Singapura mengestimasikan jumlah kepemilikan aset kripto di seluruh dunia mencapai 320 juta users atau rata-rata 4.2% dari populasi masyarakat dunia yang mencapai 8 miliar jiwa Adapu,n Asia menjadi negara dengan kepemilikan aset kripto terbanyak mencapai 130 juta orang disusul oleh Afrika dengan 53 juta, dan Amerika Utara dengan 51 juta. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved