Management

Langkah Strategis di Medan Pangan

Tim PT Wilmar Padi Indonesia (Dok. WPI)

swa.co.id, Jakarta - Tahukah Anda berapa kebutuhan beras di Indonesia saat ini?

Jawabnya, sekitar 30 juta ton per tahun. Banyak, sudah tentu. Namun, pemenuhan kebutuhan komoditas ini di dalam negeri belum optimal. Total potensi produksi beras nasional pada Maret dan April 2024 diperkirakan mencapai 8,46 juta ton. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan potensi produksi beras pada Maret 2024 adalah 3,54 juta ton, sementara April 2024 mencapai 4,92 juta ton.

Di tengah pemasok kebutuhan tersebut, salah satu produsen beras yang diperhitungkan di Indonesia adalah PT Wilmar Padi Indonesia (WPI) yang terjun ke bisnis beras sejak tahun 2018. WPI menggarap semua segmen pasar beras, mulai dari premium hingga murah, dengan berbagai kemasan seperti 1 kg, 2,5 kg, dan 5 kg. Perusahaan ini memproduksi lima merek beras: Sania, Fortune, Sovia, Siip, Rumah Hijau, dan Sawah Panen. Beras-beras ini dipasarkan melalui supermarket, minimarket, dan marketplace, seperti Superindo, Alfamart, dan Tokopedia.

Brand beras seperti Sania, Fortune, dan Sovia mungkin sudah tidak asing lagi bagi konsumen, karena nama-nama ini juga digunakan untuk produk minyak goreng dari Wilmar. "Memang benar, nama merek minyak goreng dan beras dari Wilmar sama. Tujuannya agar mudah diingat saja," ujar Saronto Soebagio, Presiden Direktur PT Wilmar Padi Indonesia kepada swa.co.id saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu.

Berdasarkan profil perusahaan WPI, kepemilikan sahamnya dikuasai oleh Wilmar Group. Wilmar Group memiliki lebih dari 500 pabrik dan jaringan distribusi yang luas yang mencakup Indonesia, Malaysia, China, India, dan sekitar 50 negara lainnya. Wilmar Group bergerak di bidang agribisnis dan industri terkait, yang meliputi budidaya kelapa sawit, pengolahan dan penyulingan minyak nabati, penggilingan dan pemurnian gula, lemak khusus, oleokimia, biodiesel, pupuk, serta penggilingan tepung dan beras. Inti dari strategi bisnis Wilmar adalah model agribisnis terintegrasi yang mencakup seluruh rantai bisnis komoditas pertanian, mulai dari budidaya, pemrosesan, perdagangan, hingga pembuatan berbagai produk pertanian.

Wilmar Group didirikan oleh Kuok Khoon Hong (William), seorang pengusaha kayu asal Malaysia, dan Martua Sitorus dari Indonesia, yang bersama-sama memutuskan untuk mengembangkan bisnis kelapa sawit. Nama perusahaan ini, Wilmar International, diambil dari gabungan nama depan mereka: William dan Martua, menjadi "Wil-Mar". Pada tahun 2022, Martua Sitorus masuk dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi Forbes, menempati posisi ke-17 dengan kekayaan mencapai US$3,1 miliar atau setara dengan Rp44 triliun.

Saronto Soebagio, Presiden Direktur PT Wilmar Padi Indonesia (WPI), menjelaskan bahwa saat ini produksi beras WPI mencapai 1.000 ton per hari. “Tahun 2024, kami menargetkan tingkat produksi padi 15% dari produksi petani konvensional. Target tersebut pun sebenarnya berbeda berdasarkan tiap lokasi lahannya. Contohnya di Palembang, kenaikannya bisa ditargetkan 40% dan lainnya, tergantung bagaimana produksi petani di sana Saat ini, WPI memiliki 9.000 hektare lahan,” jelasnya.

WPI memiliki beberapa lokasi utama lahan padi, yaitu di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Serang, dan Ngawi. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada pertimbangan bahwa WPI telah memiliki pabrik di lokasi-lokasi tersebut, sehingga kinerja dan operasional pengolahan padi dapat berjalan efektif dan maksimal.

Proses Panjang Produksi Beras

Proses transformasi padi menjadi beras yang siap disantap konsumen sebagai nasi yang lezat memerlukan waktu 3-4 bulan. Proses ini melibatkan beberapa tahap mulai dari penanaman, panen, penggilingan, hingga pengemasan. “Sebelum tanam padi, kami lakukan soil test (tes tanah) untuk memberikan jenis pupuk yang tepat,” ujar Saronto.

Menurut Saronto, WPI adalah satu-satunya pabrikan beras yang memiliki laboratorium uji kualitas gabah. Semua jenis gabah yang diterima dari petani atau distributor diuji terlebih dahulu untuk memastikan standar kualitas yang akurat. “Semua gabah harus diuji di lab. Ini terkait penentuan harga dan kualitas gabah masuk grade apa,” dia menegaskan.

Pada awalnya, laboratorium uji gabah ini mendapat penolakan dari para distributor karena mereka tidak bisa lagi "memainkan" harga gabah. Namun, seiring waktu, para distributor menyadari bahwa dengan adanya uji laboratorium, gabah berkualitas tinggi dapat diidentifikasi dan dihargai lebih tinggi di pasaran.

Proses transformasi gabah menjadi beras siap konsumsi melibatkan beberapa tahap: receiving, drying, silo, husking, milling, dan packing. Pada tahap receiving, kualitas gabah dari petani dicek di setiap karungnya untuk memastikan kondisi gabah apakah bagus, berjamur, atau warnanya hitam. Setelah itu, gabah masuk ke tahap drying menggunakan sistem uap dari China, yang memakan waktu 12-20 jam.

Setiap pabrik WPI memiliki beberapa mesin pengering dengan kapasitas 110 ton per mesin. Setelah pengeringan, gabah kering dikirim ke silo untuk disimpan. Selanjutnya, gabah melalui proses husking (pemecahan kulit) untuk menghasilkan brown rice. Sekam yang dihasilkan dari proses ini digunakan sebagai bahan bakar pabrik. Proses berikutnya adalah milling, di mana gabah diproses menjadi beras bersih dan bekatul. Bekatul dijual untuk pakan ternak dan keperluan lainnya.

Untuk membantu meningkatkan kemampuan pelaku usaha penggilingan padi dalam mengolah gabah menjadi beras yang memenuhi standar industri, WPI memiliki program Mill Engagement Program (MEP) atau Program Penguatan Usaha Penggilingan Padi. Saronto berharap program ini dapat sejalan dengan arahan pemerintah dalam mendorong revitalisasi usaha penggilingan untuk meningkatkan bisnis jangka panjang.

Selama ini, pelaku usaha penggilingan padi menghadapi berbagai masalah teknologi. Oleh karena itu, program MEP ini akan fokus pada peningkatan teknologi dan memberikan pendampingan dari tim perusahaan.

Proyek percontohan MEP telah dilaksanakan di Kabupaten Serang, Banten sejak Agustus 2023. Bantuan yang diberikan dalam MEP disesuaikan kebutuhan masing-masing penggilingan. Misalnya, masalah yang umum dihadapi penggilingan di Serang adalah gabah yang berbau asap karena pemanggangan dilakukan secara tradisional. Hal ini menyebabkan beras dari penggilingan belum memenuhi standar industri, sehingga pelaku usaha penggilingan memasarkan produk mereka di luar perusahaan, meski dengan harga jual yang lebih rendah.

Saat ini, WPI telah menjalin kerja sama dengan sekitar 92 penggilingan padi di Banten dan Jawa Timur. Ke depan, diharapkan lebih banyak lagi pelaku usaha yang bergabung dalam MEP.

Menurut Saronto, saat ini WPI memiliki tiga pabrik beras di lokasi yang berbeda. Setiap pabrik mampu menyerap hingga 800 ton gabah per hari dengan kapasitas penuh, menghasilkan sekitar 400 ton beras. Pabrik pertama berlokasi di Mojokerto, Jawa Timur, dan kemudian melakukan ekspansi ke Ngawi, Jawa Timur, pada tahun 2020, serta ke Serang, Banten, pada tahun 2022. Selain itu, ada dua pabrik lagi di Palembang dan Sumatera Utara, dengan kapasitas total mampu menyerap 1 juta ton gabah atau setara dengan 500 ribu kilogram beras.

Saronto menegaskan bahwa visi dan misi bisnis WPI tidak hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga ingin menyejahterakan petani Indonesia. Hal ini penting karena dalam 5-10 tahun ke depan, swasembada beras sangat mengkhawatirkan. Masalahnya bukan hanya pada luas lahan yang semakin berkurang, tetapi juga pada minimnya minat anak muda dalam pertanian. WPI fokus pada produksi beras dengan mengutamakan praktik-praktik pertanian yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Gudang beras WPI (Dok. WPI)

Mengubah Lahan Tidur Jadi Produktif

Sebagai produsen beras terkemuka di Tanah Air, kegiatan sosial (corporate social responsibility/CSR) WPI tidak jauh dari kegiatan pertanian. Perusahaan ini aktif mengembangkan lahan tidur menjadi produktif sekaligus membangun saluran irigasinya, yang dikemas dalam program Farmer Engagement Program (FEP).

Salah satu proyek percontohan FEP telah dilaksanakan di Desa Kedungrawan, Sidoarjo, Jawa Timur, pada lahan seluas 6 hektare. WPI diminta mengelola lahan tersebut selama tiga kali musim tanam (MT). Meskipun sempat mengalami satu kali kegagalan pada awalnya, WPI berhasil menuai kesuksesan pada dua musim tanam berikutnya. Terakhir, WPI bersama Mahkota Fertilizer (Wilmar Chemical Indonesia), Syngenta (perusahaan agritech berbasis sains), pemerintah daerah setempat, dan kelompok tani, melakukan panen padi sawah swakelola.

Saronto menjelaskan bahwa lahan yang digarap semula merupakan lahan tidur yang tidak produktif selama 10 tahun karena sering kebanjiran. WPI ditawari untuk mengelola lahan seluas 10 hektare oleh perangkat desa, namun setelah evaluasi, hanya 6 hektare yang bisa digarap sejak tahun 2022.

Menurutnya, kegagalan pada tahun pertama disebabkan oleh banyaknya gulma yang tumbuh di lahan tersebut. “Untuk penanganan lahan 6 ha itu butuh biaya sekitar Rp210 juta. Jadi kira-kira 1 ha biayanya sekitar Rp35-40 juta, hasilnya panen 1,6 ton. Kami rugi, Karena targetnya 5 ton. Tapi tidak apa-apa dan kami siap menggarap lebih baik lagi. Alhamdulillah, musim tanam kedua berhasil panen 6 ton dengan biaya Rp10 juta, tapi dapat keuntungan sekitar Rp60 juta,” ungkap Saronto. Pada musim tanam ketiga, yang merupakan fase terakhir pengelolaan lahan oleh WPI sesuai perjanjian dengan petani, hasil panen mencapai 7-8 ton per hektare.

Keberhasilan ini menegaskan bahwa tujuan lain dari menghidupkan lahan tidur adalah memberikan edukasi kepada petani bahwa lahan tidak produktif bisa menghasilkan secara ekonomis jika dikelola dengan baik. “Kami edukasi petani juga bahwa mekanisme pengairan harus ditata lebih baik. Karena padi itu tidak akan tumbuh baik jika airnya tidak cukup. Kebanyakan air juga masalah, kekurangan air juga masalah karena padi itu jenis tanaman agak rewel dan harus tepat penanganannya,” ujar Saronto.

Imam Baihaqi, ketua kelompok tani, mengaku puas dengan kemitraan bersama WPI. “Petani sangat terbantu. Kami tidak perlu mengeluarkan modal banyak sekaligus. Karena penanganan lahan dilakukan oleh WPI sekaligus mau membeli hasil panen petani dengan harga yang baik,” ucapnya. Dari sisi kualitas, produksi panen juga mengalami peningkatan. Setelah kerja sama dengan WPI selesai, para petani melanjutkan penggarapan lahan tersebut dengan bantuan teknologi dan inovasi dari WPI.

Selain di Jawa Timur, WPI juga menggarap lahan tidak produktif di Sumatera, bekerja sama dengan Kelompok Mitra Tani Desa Mukti Jaya, Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Produksi panen musim tanam kali ini sangat memuaskan, dengan kelompok tani memperoleh 100 karung per hektare atau 7,5 ton gabah dari 78 hektare sawah, dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya menghasilkan 60 karung per hektare. Lahan tersebut dikelola oleh 30 anggota kelompok tani.

Tidak hanya dari segi produksi, kelompok tani mitra juga mampu meningkatkan indeks pertanaman (IP) dari 100 menjadi 200, yang berarti mereka dapat menanam dua kali setahun. Artinya, petani dapat meningkatkan produksi tanpa perlu memperluas lahan. Dengan hasil tersebut, petani semakin percaya diri dalam meningkatkan kesejahteraan mereka.

Saronto mengatakan, keberhasilan kemitraan di Muara Telang, Banyuasin (Sumatera Selatan) tidak lepas dari peran petani yang turut mempromosikan program tersebut. Dimulai awal 2023, kemitraan di daerah tersebut hanya diikuti oleh satu kelompok dengan luas lahan 23 hektare. Hingga kini, luas lahan yang dikerjasamakan melalui FEP di Banyuasin ini telah mencapai 2.200 hektare, dengan 1.005 hektare di antaranya berada di Muara Telang. “Tujuan utama kemitraan tersebut adalah meningkatkan kesejahteraan petani melalui peningkatan produktivitas lahan pertanian,” ujarnya.

Pada tahun 2024, WPI menetapkan target kemitraan dengan petani melalui FEP meningkat menjadi 20 ribu hektare dari sebelumnya 12.600 hektare pada tahun 2023. Model kemitraan melalui program FEP dimulai sejak musim tanam II tahun 2021 dengan luas lahan kemitraan 141 hektare, yang mendapat sambutan positif dari petani sehingga peserta dan luas lahan terus meningkat.

Pada musim tanam I (November 2022-Februari 2023), jumlah petani peserta FEP mencapai 2.302 orang dengan luas lahan 2.815 hektare. Angka tersebut melonjak dibanding periode sama tahun sebelumnya yang hanya melibatkan 1.626 orang dengan luas lahan 1.113 hektare. Sedangkan realisasi kemitraan pada 2023 mencapai luas 12.600 hektare dengan jumlah petani 9.655 orang, meliputi wilayah Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Timur, dan Banten.

Saronto menjelaskan bahwa peningkatan kemitraan terjadi karena program tersebut mendapat respons positif dari petani, terutama karena adanya pendampingan dari tim agronomis perusahaan yang membantu meningkatkan produktivitas mitra. Dari data di lapangan, peningkatan produktivitas dengan pendampingan tersebut minimal mencapai 15%. Selain pendampingan, perusahaan juga melakukan pembelian gabah petani sesuai dengan harga pasar melalui efisiensi produksi.

Dengan program-program seperti Farmer Engagement Program dan Mill Engagement Program, WPI menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya menjadi pemimpin dalam industri beras, tetapi juga sebagai mitra yang mendukung pertumbuhan dan kesejahteraan petani lokal. Melalui inovasi teknologi, pendampingan yang intensif, dan kerjasama yang erat dengan komunitas pertanian, WPI berusaha untuk memastikan bahwa pertanian di Indonesia tetap produktif dan berkelanjutan.

Visi ini tidak hanya berorientasi pada keuntungan bisnis, tetapi juga berfokus pada pembangunan sosial dan ekonomi yang lebih luas, dengan tujuan akhir mencapai ketahanan pangan nasional dan peningkatan kesejahteraan para petani. Dengan langkah-langkah ini, WPI berharap dapat menginspirasi lebih banyak pelaku usaha untuk bergabung dalam upaya bersama untuk memajukan pertanian Indonesia. (***)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved