Trends

Pertamina Berupaya Meningkatkan Porsi EBT

Jhon Eusebius Iwan Anis Chief Executive Officer Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) (ketiga dari kanan) pada diskusi bertajuk Transformasi Hijau Menuju Masa Depan Energi yang Lebih Bersih dan Berkelanjutan yang digelar Energy Institute for Transition (EITS) di Jakarta pada Rabu, 5 Juni 2024. (Foto : Darandono/SWA).

swa.co.id, Jakarta- Pemerintah memacu partisipasi aktif para pemangku kepentingan untuk mengejar target bauran energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025. Bila dilihat dari capaian lima tahun terakhir, porsi EBT dalam bauran energi nasional menunjukkan peningkatan.

Pada 2021, misalnya, pemanfaatan EBT pada bauran energi nasional sebesar 12,16%. Tahun berikutnya, porsinya naik menjadi 12,3%. Namun demikian, capaian ini masih cukup jauh dari target bauran tersebut. Berbagai upaya tengah dilakukan oleh Pemerintah dan stakeholder terkait untuk mendorong percepatan peningkatan pemanfaatan EBT. “Diperlukan komitmen yang kuat dari pemerintah dan para stakeholders terkait sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM)," kata Komaidi Notonegoro, Pengamat Energi dari Reforminer Institute, di sela-sela diskusi bertema Transformasi Hijau Menuju Masa Depan Energi yang Lebih Bersih dan Berkelanjutan di Jakarta, Rabu (5/6/2024).

Chief Executive Officer Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), Jhon Eusebius Iwan Anis mengatakan masyarakat saat ini di masa transisi energi. “Jadi energi fosil yang ada harus didekarbonisasi, dengan volume bertambah namun dikurangi karbonnya. Di sisi lain kita mulai mengurangi peran dari energi fosil ini dengan energi baru dan terbarukan,” ujarnya.

Jhon menyampaikan transisi dengan dekarbonisasi dan energi baru dan terbarukan harus dilakukan secara sikron dan pararel dengan baik sehingga tidak ada hambatan terutama pada ketahanan energi nasional. “Bicara transisi energi mudah namun dalam prakteknya sulit. Mengganti energi fosil dengan terbarukan itu mudah karena energinya sudah ada semua, pertanyaannya mengapa tidak bisa dilakukan, karena mahal,” tegasnya.

Tantangannya, menurut John, adalah membuat energi terbarukan ini lebih ekonomis, sehingga dekarbonisasinya bisa lebih ekonomis, dalam arti harga energi fosil yang sudah di dekarbonisasi tidak lebih mahal dan juga energi terbarukan ini juga bisa lebih kompetitif harganya.

Indira Pratyaksa, Vice President Sustainability Program, Rating & Engagement PT Pertamina (Persero), mengungkapkan, Pertamina melakukan dekarbonisasi dan juga menyediakan energi baru dan terbarukan untuk mulai mengganti energi fosil adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi.

Pertamina berkomitmen menggulirkan program energi keberlanjutan dengan menetapkan dua pilar strategis untuk mendukung aspirasi Net Zero 2060. Pilar pertama adalah dekarbonisasi antara lain efisiensi energy, pengurangan kerugian (misalnya, suar, metana), pembangkit listrik ramah lingkungan, peralatan statis elektrifikasi, bahan bakar nol karbon atau rendah untuk armada termasuk melalui elektrifikasi, portofolio aktif peningkatan, dan pengembangan energy lain.

Pilar kedua adalah Bisnis Rendah Karbon & Pengimbangan Karbon antara lain, teknologi Carbon Capture Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS), Solusi Berbasis Alam-Ekosistem, Solusi Berbasis Ekosistem (NEBS), Bisnis Pasar karbon, Panas bumi, Matahari, Angin, - Bahan Bakar Nabati, Hidrogen Biru & Hijau, Baterai & Ekosistem Kendaraan Listrik.

Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Wiluyo Kusdwiharto, berpendapat pengembangan renewable energy secara bertahap guna menggantikan energi fosil adalah salah satu strategi jitu dalam mengakselerasi transisi energi. Kemudian mengakselerasi transisi energi dengan optimalisasi pemanfaatan EBT sebagai pengganti fosil, sebaiknya pemerintah mendahulukan air (hydro energy) dan panas bumi (geothermal energy) untuk pembangunan pembakit listrik.

Alasanya, potensi sumber daya kedua jenis energi tersebut terbilang melimpah di wilayah Indonesia. Sebut Sumatera, terdapat tiga potensi hydro energy untuk pembangkit listrik, masing-masing sebesar 6 gigawatt (GW), 14 GW, dan 6 GW. Kemudian, Sulawesi (25 GW) dan Papua (25 GW).

Sedangkan, energi panas bumi, Indonesia merupakan negara kedua terbesar di dunia setelah Amerika Serikat yang memiliki potensi geothermal energy, dengan kapasitas sebesar 25 hingga 30 GW. “Ini harus kita kembangkan dari sekarang karena proses pembangunan EBT butuh waktu lama,” ujarnya.

Andriah Feby Misna, Direktur Aneka Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM menuturkan Indonesia memiliki potensi EBT besar, tersebar, dan beragam, untuk mendukung ketahanan energi nasional dan pencapaian target bauran EBT. “Saat ini telah dimanfaatkan 0,3% dari total potensi sehingga peluang pengembangan EBT sangat terbuka,” ujarnya.

Sebagai catatan , Feby mengingatkan penyediaan energi di Indonesia masih didominasi oleh energi fosil yang mencapai 86,83% dari bauran energi primer nasional pada 2023. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved