Technology

Banyan Investment dan Perusahaan Teknologi Indonesia Bermitra Kembangkan Kredit Karbon

PT Eidara Matadata Presisi dan PT Aeroterra, perusahaan teknologi yang berbasis di Indonesia jadi mitra Banyan Investment sebagai pilot project dalam mengembangkan Data Deposit Karbon di Kenya (Foto: Dok. Banyan Investment)

swa.co.id, Jakarta-Banyan Investment Banking & Hedge Fund Statutory Trust pada Mei 2024 membangun kantor pusat regional di Nairobi, Kenya. Kantor di Nairobi ini merupakan kantor regional Banyan Investment Bank yang kedua di Afrika. Sebelumnya, kantor regional Afrika beroperasi di Cape Town, Afrika Selatan.

Banyan Investment Banking & Hedge Fund Statutory Trust juga mengumumkan peluncurann Lets Coin, mata uang pelengkap digital. Lets Coin dirancang untuk memberdayakan komunitas lokal dengan memungkinkan pedagang, pengusaha, dan pengguna lain untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi digital. Lets Coin juga telah mendapatkan dukungan perbankan dari Deutsche Bank Jerman dan ABC Bank sebagai bank kustodian lokal.

Banyan Investment Banking & Hedge Fund Statutory Trust juga telah memperkenalkan teknologi artificial intelligence (AI) untuk meninjau simpanan kredit karbon di Kenya dalam mentransformasi peluang ekonomi bagi petani dan pemangku kepentingan lainnya dalam perekonomian yang lebih besar.

Dalam mendorong inisiatif ini, PT Eidara Matadata Presisi dan PT Aeroterra, menyediakan teknologi utama untuk melaksanakan pilot project pengembangan Data Deposit Karbon di Kenya. Eidara Matadata Presisi dan Aeroterra merupakan perusahaan teknologi asal Indonesia yang telah dipilih oleh Banyan Investment Banking & Hedge Fund Statutory Trust untuk menjalankan ‘Proyek Percontohan Swadaya Sukarela’ perdananya demi memenuhi kepentingan ekonomi sosial bagi Bangsa Kenya dan masyarakat Afrika Timur di bawah Program Kampanye Kontribusi Kemanusiaan milik Banyan Investment Banking & Hedge Statutory Trust Fund.

Thana Balan, Banyan Investment Banking & Hedge Statutory Trust Fund, menjelaskan forum kemitraan ini bertujuan untuk memenuhi komitmen yang diambil selama kunjungan ke Kenya pada 25 Mei 2024 lalu mengenai upaya peremajaan Bumi melalui penggunaan teknologi perangkat lunak dan keras untuk menganalisis dan mengukur data tanah menggunakan drone berbasis kecerdasan buatan. “Teknologi canggih ini dapat memberikan data geografis secara real-time yang akurat untuk mengukur deposit karbon di area survei tanah,” ujar Balan dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (7/6/2024).

Bhalan menyampaikan pihaknya memberikan semua dukungan teknis dan teknologi yang dibutuhkan untuk menyediakan data real-time mengenai kondisi aktual kesehatan area lahan yang dipilih sebagai proyek percontohan, serta untuk mengukur deposit kredit karbon dengan akurat. Thana menegaskan, saat ini merupakan waktu yang ideal untuk melaksanakan proyek lingkungan tersebut, mengingat Pemerintah Kenya baru-baru ini menghadapi penangguhan program pelestarian kredit karbon oleh Veera. Pihaknya percaya bahwa teknologi drone AI ini memiliki kapasitas untuk memberikan analisis data yang akurat sesuai dengan prosedur standar pengukuran yang ditetapkan oleh Verra. “Solusi inovatif ini bertujuan untuk memastikan akurasi pengukuran deposit karbon global dan proses penyemaian untuk menghijaukan kembali Bumi dengan menggunakan kekuatan Artificial Intelligence dan teknologi drone mutakhir. Dua perusahaan penyedia perangkat lunak dan keras PT Eidara Matadata Presisi dan PT Aeroterra siap meluncurkan proyek percontohannya di Kenya,” jelas Executive Chairman Banyan Investment Banking & Hedge Statutory Trust Fund, Jean Baptiste Bilala.

Banyan Investment Banking & Hedge Statutory Trust Fund telah bersama-sama menciptakan proyek yang memanfaatkan penggunaan Let’s Coin, sebuah sistem perdagangan pertukaran lokal yang revolusioner serta mampu menciptakan paradigma baru dalam keberlanjutan lingkungan dan ekonomi yang akan mengubah lanskap global.

Sinergi antara para pemain utama di sektor energi global akan membentuk masa depan yang lebih hijau dengan meluncurkan Let's Coin sebagai mata uang komplementer untuk platform pertukaran komoditas bernilai miliaran dolar. Inisiatif ini akan mendorong kerja sama internasional, dan pertemuan eksklusif ini menandai dimulainya era baru dalam pelestarian dan pertukaran kredit karbon global. Langkah ini juga akan memberikan kontribusi ekonomi yang besar bagi produsen dan pemerintah Kenya.

Bilala mengatakan Banyan telah menciptakan sejarah baru dengan mengimplementasikan Sistem Rantai Blok Mata Uang Komplementer untuk memenuhi kebutuhan pendanaan proyek yang dipilih, menggunakan Let’s Coin sebagai mode penyelesaian pembayaran. Let’s Coin bukanlah mata uang kripto, melainkan mata uang komplementer yang berfungsi sebagai sistem barter digital untuk pertukaran barang dan jasa.

Let’s Coin beroperasi di bawah Blockchain Trust, serta terdaftar dalam Blockchain Registry di Amerika Serikat sebagai Organisasi Let’s Coin dan juga Bank Blockchain. Saat ini, Let’s Coin terdaftar di jaringan Polygon melalui blockchain Metamusk.“Market maker kami adalah P2B, dan kami terdaftar di dua bursa, yaitu Coin Gecko dan Coin Market Cap Internasional.

Di tingkat lokal, Let’s Coin juga memiliki kontrak dengan PT Gudang Krypto Indonesia. Struktur dan algoritma bisnis yang dikembangkan oleh Dr. Thana Balan, mitra modal internasional kami, untuk menciptakan dan mengadopsi perdagangan barter digital menggunakan mata uang komplementer dan penyelesaian pertukaran komoditas di pasar digital global, merupakan pencapaian matematika yang luar biasa,” tambah Bilala.

Di samping proyek percontohan sukarela yang didanai oleh Banyan Investment Banking & Hedge Fund Statutory Trust untuk pemerintah Kenya, terdapat juga proyek komersial yang saat ini sedang dilakukan dengan menggunakan mata uang komplementer Let’s Coin, dan sedang dalam proses penerbitan 5 dompet kunci pribadi.

Perusahaan ini berupaya memperkenalkan teknologi yang dikembangkan oleh perusahaan Indonesia sendiri ke tingkat global. "Kami antusias akan kolaborasi ini dan menyoroti posisi penting Let’s Coin sebagai mata uang komplementer (Bursa Perdagangan Barter Digital) yang mulai diterima oleh komunitas pengguna platform ini untuk memfasilitasi dan memenuhi kebutuhan keuangan mereka baik dalam proyek domestik dan internasional, terutama di sektor energi serta berbagai inisiatif transformasi sosial ekonomi global,” ungkap Bilala. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved