Strategy

Intip Praktik Bisnis Crowdsourcing di Dekoruma, SweetEscape dan Garasi

(kiri-kanan) CEO Garasi.id Ardyanto Alam, CEO SweetEscape David Soong dan CEO Dekoruma Dima Priawan di Jakarta pada Kamis, 6 Juni 2024. (Foto : M.Ubaidillah/SWA)

swa.co.id, Jakarta - Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki banyak startup atau usaha rintisan. Masing-masing startup memiliki model bisnisnya masing-masing, salah satunya crowdsourcing, yakni model bisnis yang mengandalkan kontribusi dari banyak orang yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan perusahaan.

Untuk menerapkan crowdsourcing yang efektif, perusahaan harus memiliki tujuan yang jelas dan spesifik, memilih platform yang sesuai untuk menjangkau dan berinteraksi dengan target partisipan, serta menetapkan aturan yang jelas mengenai penggunaan kontribusi dan hak kepemilikan intelektual. Keamanan dan privasi data harus dijamin untuk melindungi informasi partisipan.

Selanjutnya, komunikasi kepada partisipan sangat penting untuk membangun kepercayaan dan meningkatkan keterlibatan mereka. Evaluasi dan pengoptimalan berkelanjutan dari proses crowdsourcing ini memastikan adaptasi dan peningkatan strategi berdasarkan umpan balik dan hasil yang diperoleh.

Model bisnis ini sudah dipraktikkan banyak startup di Indonesia seperti Gojek, Grab, SweetEscape, Garasi.id dan juga Dekoruma. Ketiga perusahaan yang terakhir merupakan portofolio GDP Venture yang dinilai cukup berhasil menerapkan crowdsourcing pada model bisnisnya itu.

SweetEscape merupakan platform layanan jasa fotografi oleh fotografer lokal, yang telah hadir di lebih dari 500 kota di lima benua dengan lebih dari 1,000 partner fotografer. Para fotografer di ekosistem bisnia bukanlah karyawan tetap, melainkan partner yang telah terkurasi.

David Soong, CEO SweetEscape, menjelaskan, dengan berbagai klien hingga ke mancanegara, perusahaannya harus memilih mitra fotografer yang tepat untuk memenuhi kebutuhan klien. Selain menghasilkan foto yang bagus, fotografer harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik dengan anak-anak maupun klien yang datang dalam kelompok besar. “Untuk pemotretan di luar negeri, fotografer kami sering kali juga berperan sebagai pemandu lokal dengan memberikan informasi tentang tempat-tempat menarik untuk dikunjungi, tempat makan, dan aktivitas yang bisa dilakukan. Oleh karena itu, mereka diwajibkan mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Dengan soft skills seperti ini, klien kami menjadi lebih puas dengan layanan yang kami berikan,” kata David, Kamis (6/6/2024).

David Soong menekankan model ini tidak hanya menguntungkan perusahaan dengan efisiensi waktu dan biaya operasional, tetapi juga memberikan keuntungan kepada mitra crowdsourcing. Mereka adalah tenaga kerja dengan modal yang tidak besar dan mendapat kompensasi yang adil sesuai hasil kerja mereka.

Tugas penyuntingan (editing) foto dilakukan oleh tim di kantor SweetEscape dengan dibantu oleh Machine Learning untuk mempercepat waktu editing, sehingga fotografer hanya perlu fokus memotret tanpa merasa terbebani untuk melakukan editing yang menghabiskan waktu sangat banyak.

Pada kesempatan ini, Ardyanto Alam, CEO Garasi.id, mengungkapkan, penerapan crowdsourcing secara efektif itu harus menerapkan standar operasional yang jelas untuk mendapatkan kualitas yang sama dari partner kerja, hal ini sekaligus untuk meminimalisasi resiko akan ketidakpuasan pelanggan. Garasi.id bekerjasama dengan bengkel-bengkel pilihan untuk memastikan layanan yang diberikan kepada pelanggan kami mempunyai kualitas yang sama. Perusahaan memilih mitra bengkel yang selalu menggunakan komponen asli agar selaras dengan standar operasional.

Saat ini Garasi.id mempunyai produk warranty, jasa inspeksi, jasa servis dan asisten darurat. Layanan Garasi.id tersebar di Sulawesi, Jabodetabek dan Banten, Jawa Barat, jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Batam, Kalimantan dan Sumatera.

Ardyanto menegaskan bahwa tidak semua perusahaan dapat menerapkan model crowdsourcing. Model crowdsourcing sangat cocok untuk perusahaan yang membutuhkan keahlian khusus. Jika diterapkan dengan hati-hati dan strategis, model bisnis ini bisa sangat ampuh untuk meningkatkan skalabilitas, inovasi, dan efisiensi. “Dengan membangun jaringan mitra yang luas, menerapkan standar yang jelas, memanfaatkan teknologi, dan berfokus pada kualitas serta kepuasan pelanggan, perusahaan dapat mencapai pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan dan sukses. Contohnya seperti di Garasi.id, mitra bengkel kami mendapatkan keuntungan karena mobil yang warrantynya diperbaiki di bengkel tersebut bisa menjadi langganan untuk maintenance selanjutnya,” ungkapnya.

Dekoruma dalam menjalankan bisnis bekerjasama dengan desainer-desainer interior yang mampu mengerjakan desain dengan gaya Japandi (Jepang dan Skandinavia), gaya interior khas Dekoruma. Mengenai hak cipta, Dekoruma selalu mencantumkan nama desainer interior di setiap karyanya, karena hak cipta adalah milik mereka.

Salah satu desainer Dekoruma berhasil menjadi mandiri dari hasil kerja sama dengan Dekoruma. Si desainer membuka usahanya. Manajemen Dekoruma tidak merasa tersaingi dan mengapresiasi pencapaian si desainer ini. "Seringkali kami masih tetap bekerjasama dengan baik. Kelebihan dari kami adalah kami membangun suatu teknologi yang kami namakan Thudio by Dekoruma, para desainer bisa langsung mengetahui estimasi biaya dari desain yang mereka kerjakan, sehingga bisa menyesuaikan dengan anggaran yang dimiliki oleh konsumen,” ujar Dimas Harry Priawan, Co-Founder & CEO Dekoruma.

Perlu diketahui bahwa model crowdsourcing tidaklah semudah yang terlihat. Meskipun menawarkan potensi pertumbuhan yang besar, perusahaan perlu melakukan pendekatan yang hati-hati dan strategis dalam mengembangkan jaringan mitra. Mengambil langkah kecil, melakukan riset yang menyeluruh, dan memahami perilaku konsumen adalah kunci untuk memastikan kesuksesan dalam mengimplementasikan model ini.

Dekoruma menggunakan pendekatan yang berbeda dalam mengembangkan toko offline mereka. Dengan membuka 29 toko offline di berbagai lokasi, mereka dapat secara langsung mempelajari perilaku pembeli di setiap kota dan menyesuaikan strategi pemasaran mereka sesuai dengan kebutuhan pasar lokal. Sebaliknya, SweetEscape mengadopsi pendekatan yang lebih fleksibel dengan membuka terlebih dahulu di beberapa kota sebelum melanjutkan ke lokasi lain. Dengan demikian, masing-masing perusahaan dapat memanfaatkan potensi crowdsourcing untuk mencapai pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved