Technology

Teknologi AI Berpeluang Tangkal Serangan Siber

(kedua dari kiri) Wakil Menteri Kementerian Komunikasi dan Informatika, Nezar Patria . (Foto : Kemenkominfo).

swa.co.id, Jakarta- Fortinet, perusahaan teknologi keamanan siber (cyber security), menerbitkan LaporanLanskap Ancaman Global Semester II Tahun 2023 FortiGuard Labs. Laporan ini menggambarkan lanskap ancaman aktif dan menyoroti tren dari Juli hingga Desember 2023. Ini termasuk analisis kecepatan penyerang siber (cyber attack) dalam memanfaatkan eksploitasi yang baru teridentifikasi di seluruh industri keamanan siber serta peningkatan serangan ransomware dan wiper yang menyasar sektor industri dan teknologi operasional (OT).

Wakil Menteri Kementerian Komunikasi dan Informatika, Nezar Patria, menekankan pentingnya peningkatan langkah-langkah keamanan siber Indonesia di tengah adopsi teknologi digital yang cepat. Laporan terbaru Fortinet itu menunjukkan pelaku serangan siber mengeksploitasi kerentanan baru 43% lebih cepat dibandingkan paruh pertama tahun 2023.

Untuk mengatasi tantangan yang semakin meningkat ini, Nezar menyoroti peran inovatif AI generatif dalam meningkatkan postur keamanan siber dan ketahanan operasional nasional. "Dengan memanfaatkan teknologi AI, kita dapat secara proaktif mengantisipasi dan mengurangi potensi ancaman siber. Ada juga seruan untuk upaya terus-menerus dalam meningkatkan kesadaran publik dan mengembangkan kemampuan individu dalam mencegah serangan siber," ujar Nezar seperti ditulis pada Minggu (9/6/2024). Semangat kolaboratif dan visi bersama ini menciptakan suasana yang menjanjikan serta komitmen bersama pada prinsip-prinsip ini.

Dia menyampaikan untuk mengubah arus melawan kejahatan siber memerlukan budaya kolaborasi, transparansi, dan akuntabilitas dalam skala yang lebih besar daripada hanya organisasi individual di bidang keamanan siber. “Setiap organisasi memiliki peran dalam rantai disrupsi melawan ancaman siber,” ucap Nezar.

Edwin Lim, Country Director di Fortinet Indonesia, memaparkan lanskap keamanan siber yang semakin hari semakin berubah menuntut adanya pendekatan baru. Seiring makin meluasnya permukaan serangan dan minimnya tenaga ahli keamanan siber di seluruh industri, makin besar pula tantangan yang dihadapi dunia bisnis dalam mengelola infrastruktur kompleks yang terdiri dari beragam solusi, apalagi merespons banyaknya jumlah peringatan dari point product (produk yang menyediakan solusi untuk satu masalah ketimbang memenuhi semua kebutuhan) serta berbagai taktik, teknik, dan prosedur yang dimanfaatkan oleh pelaku ancaman untuk menyerang korban.

Lanskap ancaman yang terus berkembang di Indonesia mendesak adanya peralihan ke pendekatan yang berpusat pada platform dalam keamanan siber. Solusi tradisional dan berbeda-beda tidak mampu lagi menangani teknologi yang beragam, model kerja hybrid, dan integrasi IT/OT yang menjadi karakter jaringan modern.

Keamanan terpadu dan platform jaringan Fortinet menjawab kompleksitas ini dengan menyediakan perlindungan ancaman komprehensif, pengelolaan celah keamanan otomatis, dan operasi yang efisien. “Strategi terintegrasi ini tidak hanya mengurangi biaya dan kerumitan operasional, tetapi juga memastikan bahwa perusahaan dapat beradaptasi dengan cepat terhadap ancaman baru, sehingga mampu membangun operasi keamanan siber yang tangguh dan siap menghadapi masa depan,”ungkap Edwin pada saat pemaparan Laporan Lanskap Ancaman Global Semester II/2023 FortiGuard Labs.

Senada dengan Edwin, Rashish Pandey, Vice President of Marketing and Communications Fortinet Kawwasan Asia & ANZ (Australia & Selandia Baru), menyampaikan pentingnya berkolaborasi transparansi, dan akuntabilitas pada skala yang lebih besar daripada masing-masing perusahaan dalam ruang keamanan siber. Tiap perusahaan memiliki tempat pada rantai disrupsi melawan ancaman siber (cyberthreat).

Kolaborasi dengan sejumlah perusahaan terkemuka dan kenamaan, baik dari sektor publik maupun privat, termasuk tim respons darurat keamanan siber (Cybersecurity Emergency Response Team/CERT), lembaga pemerintahan, dan kalangan akademis, adalah aspek fundamental dari komitmen Fortinet untuk meningkatkan ketahanan siber (cyber resilience) secara global.

Laporan Lanskap Ancaman Global Semester II/2023 dari FortiGuard Labs ini menggarisbawahi betapa cepatnya pelaku ancaman mengeksploitasi celah keamanan yang baru diungkap. Di lingkungan seperti ini, vendor dan pelanggan sama-sama memainkan peran penting, terutama di Asia Tenggara. Vendor harus memastikan keamanan yang kuat di seluruh siklus kehidupan produk sekaligus menjaga transparansi dalam pengungkapan celah keamanan.

Seiring makin canggihnya ancaman keamanan siber, mengadopsi pendekatan yang berpusat pada platform pun makin penting. Pendekatan ini menggabungkan alat keamanan, meningkatkan efisiensi kegiatan operasional, dan memungkinkan adaptasi cepat terhadap ancaman baru. “Sehingga membantu perusahaan membangun pertahanan keamanan siber yang tangguh dan siap menghadapi masa depan,” papar Rashish.

Inovasi dan kolaborasi teknologi yang konstan dari seluruh industri dan kelompok kerja, seperti Cyber Threat Alliance, Network Resilience Coalition, Interpol, the World Economic Forum (WEF) Partnership Against Cybercrime, dan WEF Cybercrime Atlas, secara kolektif akan menjadi kunci peningkatan perlindungan dan membantu perjuangan melawan kejahatan siber secara global. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved