Entrepreneur

Menyulap Stigma Menjadi Kesuksesan: Klinik Gigi Ita yang Menggurita

Ita Lestari mampu mengembangkan FDC Dental Clinic (Foto: Prio Santoso/SWA)

Dipicu oleh hasrat yang menggelora untuk merombak stigma klinik gigi yang sering dipandang seram bahkan menakutkan, Ita Lestari melahirkan FDC Dental Clinic dengan konsep modern dan kekinian, menghadirkan nuansa kenyamanan bagi para pasiennya. Didirikan pada tahun 2016, FDC Dental Clinic tidak sekadar menawarkan pelayanan kesehatan gigi, tetapi juga mengemban misi edukasi melalui para dokter yang penuh dedikasi.

Melalui FDC, Ita ingin menciptakan pengalaman yang unik dan berkesan, seolah kunjungan ke dokter gigi menjadi seperti singgah di kafe, menonton di bioskop, atau merasakan kehangatan ruangan bernuansa Jepang. Desain klinik yang berwarna-warni dan ceria menggantikan kesan monoton dan menakutkan dari warna hitam-putih. Visi utama FDC adalah mengedepankan pengalaman pelanggan yang menyenangkan dan nyaman.

Konsep yang diusung Ita terbukti berhasil membawa FDC berkembang pesat bak angin yang menerbangkan layang-layang ke puncak langit. Kini, jumlah karyawan dan mitra dokternya sekitar 1.000 orang, dengan 400 di antaranya merupakan mitra dokter.

“Saat ini, kami sudah memiliki 41 klinik. Dalam waktu dekat akan buka di Medan, Makassar, Palembang, Purwokerto, dan Riau,” ungkap Ita, dengan semangat yang membara. Sebanyak 41 klinik ini dikelola sendiri dan belum diwaralabakan.

Apa saja kelebihan FDC Dental Clinic?

Menurut Ita, dahulu, reservasi ke klinik gigi bisa memakan waktu lama, tak ubahnya menunggu datangnya hujan di musim kemarau. Untuk mengatasi masalah ini, FDC meluncurkan aplikasi yang memungkinkan reservasi hanya dalam hitungan detik. Melalui aplikasi ini, calon pasien dapat melihat jadwal dokter yang tersedia dan langsung memilih waktu yang sesuai.

Saat ini FDC mengembangkan kecerdasan buatan (AI) untuk mengedukasi masyarakat. “AI ini bisa membantu masyarakat. Misalnya, untuk jadwal, bisa langsung di-suggest oleh AI dan AI ini nantinya akan seperti virtual dentist,” kata dokter gigi lulusan Universitas Airlangga Surabaya tahun 2001 itu dengan harapan besar.

Agar klinik giginya digandrungi masyarakat, pihaknya selalu fleksibel terhadap perubahan. Ita mengatakan, orang mau ke dokter gigi itu karena 3R, yaitu Review, Rating, dan Rekomendasi. “Nah, kemudian bagaimana kami memberikan pelayanan terbaik sehingga masyarakat itu mau memberikan review yang baik. Zaman sekarang itu serba transparan. Jika bagus, dibilang bagus, dan jika kurang bagus, akan dikatakan kurang bagus,” kata dokter yang mengenyam pendidikan Program Magister Administrasi Rumah Sakit di Universitas Indonesia (2002-2004) itu dengan tegas.

Review bisa diberikan pelanggan melalui aplikasi FDC, di Google hingga media sosial. Rating FDC kini sebesar 4,9 dari 5, dan rating ini yang terus dijaganya. Dengan adanya review dan rating tersebut, FDC bisa terus melakukan perbaikan, instrospeksi, dan improvisasi.

Terkait rekomendasi dari pasien, FDC memperlakukan mereka sebagai pemasar yang mau bekerja 24 jam tanpa dibayar. Rekomendasi ini muncul karena FDC memberikan pelayanan sepenuh hati sehingga pasien tanpa diminta mau merekomendasikan dan menceritakan kepada teman-temannya tentang klinik FDC.

“Internal FDC pun selalu melakukan training dan coaching agar SDM FDC bisa mengikuti visi perusahaan dan memiliki satu mindset, yaitu fokus ke customer experience,” kata Ita yang banyak memiliki pengalaman berbisnis, mulai dari bisnis fotokopi saat masih kuliah, jualan obat di pinggir jalan, membuka klinik bidan untuk melahirkan, hingga bisnis apotek.

Ita mulai praktik sebagai dokter gigi pada 2007. Dan, pada 2010 mendirikan klinik gigi sendiri. Klinik giginya itu awalnya ramai dikunjungi pasien hingga kemudian sepi karena ia kurang fokus. Di saat yang sama, ia berbisnis properti juga.

Berbagai pengalaman itulah yang mendorongnya kembali membangun klinik gigi pada 2016 dengan nama FDC, dan ia pun lebih fokus menggarapnya. “Saya belajar the power of focus,” ujarnya .

Bahkan, suaminya pun resign dari pekerjaannya untuk ikut fokus membesarkan FDC. “Dengan modal percaya, kalau niatnya baik, akan ada jalannya,” kata Ita penuh semangat.

Lantas, bagaimana peluang bisnis klinik gigi di masa depan?

Ita dengan antusias menyatakan bahwa membawa solusi melalui klinik gigi merupakan sebuah kebanggaan, meskipun masih banyak tantangan. Kesadaran masyarakat tentang pentingnya perawatan gigi belum merata, sehingga membuka peluang besar untuk mengembangkan bisnis klinik gigi. Indonesia, sebagai salah satu negara dengan tingkat kesadaran kesehatan gigi yang masih rendah, menawarkan kesempatan luas bagi pertumbuhan klinik gigi.

“Oleh karena itu, saya ambil peran sebagai bagian dari solusi atas apa yang terjadi di masyarakat. Saya melihat bisnis ini akan berkembang, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri,” kata Ita.

Tak heran, Ita menargetkan untuk memiliki 100 klinik gigi pada tahun ini. Dalam lima tahun ke depan, FDC Dental Clinic diharapkan sudah bisa merambah pasar global, mengingat tantangan yang serupa juga terjadi di luar negeri.

Dengan setiap kunjungan yang berujung pada senyuman puas, Ita membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari sebuah gagasan yang sederhana. Sebuah pelajaran penting bahwa ketika niat baik dan keberanian bertemu, batas-batas hanya ada dalam pikiran. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved