Entrepreneur

Radjak Group, dari Rumah Sakit Merambah Universitas

drg. Abdul Firman, Generasi Kedua Radjak Group sekaligus CEO Radjak Hospital (Dok. Radjak Group)

swa.co.id, Jakarta - Seperti roda, Radjak Group, salah satu pemain di industri kesehatan nasional, terus berputar. Bahkan semakin cepat. Di tengah persaingan yang makin ketat, kelompok usaha ini makin fokus di bisnis rumah sakit dan pendidikan dengan semangat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kini, di bawah kepemimpinan drg. Abdul Firman, putra mendiang dr. H. Abdul Radjak, DSOG, Radjak Group terus mengukir kiprah untuk berkontribusi bagi masyarakat.

Kisah kelompok usaha ini berawal dari tekad dan idealisme seorang dokter, dr. H. Abdul Radjak, DSOG, yang tak puas hanya dengan menjadi seorang dokter kebidanan. Dia bermimpi besar, mendirikan rumah sakit yang mampu memberikan pertolongan bagi banyak jiwa yang membutuhkan. Maka, berdirilah RS MH Thamrin di Salemba, Jakarta Pusat, sebagai bukti nyata dari mimpi dan dedikasinya. Rumah sakit ini bukan sekadar bangunan, melainkan simbol perjuangan dan pengabdian yang tulus.

Kini, Radjak Group menaungi enam rumah sakit ternama: Radjak Hospital Salemba, Radjak Hospital Cikarang, Radjak Hospital Cileungsi, Radjak Hospital Purwakarta, Radjak Hospital Cibitung, dan RS Harapan Kita Cengkareng. Setiap rumah sakit berdiri sebagai benteng kesehatan, siap melayani dan memberikan harapan baru bagi setiap pasien yang datang.

Sementara di bidang pendidikan, Radjak Group juga mengibarkan panji Yayasan Pendidikan Abdul Radjak, memayungi Universitas MH Thamrin di Jakarta Timur. Yayasan ini didirikan dengan tekad mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sejalan dengan amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Berawal dari Kursus

Bicara tentang bisnis pendidikan, pada awal pendiriannya, pendidikan yang dikelola oleh Radjak Group bermula dari kursus sederhana yang diberi nama Penolong Orang Sakit (POS), berlangsung dari tahun 1982 hingga 1983. Namun, seperti tunas yang tumbuh menjadi pohon besar, Radjak Group mengembangkan sayapnya dengan membuka sekolah-sekolah formal setingkat diploma di bawah naungan Departemen Kesehatan. Akademi Keperawatan, Akademi Gizi, Akademi Analis Kesehatan, Akademi Analis dan Farmasi, Akademi Manajemen Pelayanan Rumah Sakit, serta Akademi Kebidanan menjadi bagian dari perjalanan panjang yang penuh dedikasi ini.

Pada tahun 2000, perubahan besar terjadi. Berdasarkan aturan baru, seluruh akademi di bawah Kementerian Kesehatan RI dilebur menjadi satu institusi: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) MH. Thamrin. Selain STIKes, Yayasan Pendidikan Abdul Radjak juga mengelola Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) MH. Thamrin yang berdiri sejak tahun 1996, serta Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) MH. Thamrin.

STMIK sendiri adalah hasil pengembangan dari Akademi Manajemen dan Informatika (AMIK) serta Akademi Manajemen MH. Thamrin. Kemudian, pada tahun 2013, ketiga sekolah ini digabung menjadi satu universitas, yakni Universitas MH Thamrin. Penggabungan ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 357/E/O/2013, tanggal 30 Agustus. Selain itu, universitas ini juga membuka dua program studi tambahan: S1 Gizi, D4 Teknik Elektromedik, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), dan Pendidikan Bahasa Inggris.

Kini, Universitas MH Thamrin memiliki sekitar 5.000 mahasiswa yang terdaftar. Namun, saat pandemi Covid-19 melanda, jumlah mahasiswa sempat menurun menjadi sekitar 1.400-1.500 mahasiswa.

Universitas MH Thamrin menawarkan beragam jurusan yang menarik bagi para calon mahasiswa, mulai dari Prodi Teknik Laboratorium Medis (D3), Prodi Gizi (S1), Prodi Keperawatan (S1), Prodi Kebidanan (S1), Prodi Manajemen (S1), Prodi Teknik Informatika, Prodi Pendidikan PAUD, dan masih banyak lagi. "Di sini ada 19 prodi yang ditawarkan kepada mahasiswa, dengan prodi yang paling banyak diminati yakni Prodi Keperawatan (S1), Prodi Teknik Laboratorium Medik (D3 dan D4), Prodi Kebidanan (S1), Prodi Gizi (S1), dan Prodi Kesehatan Masyarakat (S1)," ujar dr. Daeng Mohammad Faqih SH. MH., Rektor Universitas MH Thamrin, kepada swa.co.id beberapa waktu lalu.

Rektor Daeng menjelaskan bahwa universitas ini memiliki akreditasi yang sangat baik. Setiap tahunnya, tingkat kelulusan mahasiswa mencapai lebih dari 90%. Biaya uang kuliah tunggal (UKT) tertinggi ada di prodi kesehatan sebesar Rp17 juta, sementara yang terendah ada di prodi komputer dengan biaya UKT Rp 6 juta. "Biaya Rp17 juta itu sudah termasuk biaya magang, PKL ke lapangan, baik ke puskesmas, ke komunitas, maupun ke rumah sakit. Namun, biaya tersebut tidak termasuk biaya skripsi dan wisuda," jelas Daeng.

Daeng juga menjelaskan bahwa tracer study menunjukkan mahasiswa lulusan Universitas MH Thamrin biasanya menunggu sekitar tiga bulan untuk mendapatkan pekerjaan.

"Di bidang kesehatan, bahkan sebelum lulus, sudah banyak yang mencari dan meminta kami untuk memasukkan mereka ke rumah sakit. Contohnya, kami memiliki MoU rekrutmen dengan Brawijaya Hospital Jakarta. Ada juga yang masuk ke rumah sakit di bawah naungan Radjak Group atau rumah sakit MH. Thamrin. Namun, mahasiswa kami tidak diwajibkan untuk terikat dengan yayasan kami, kecuali bagi mereka yang menerima beasiswa dari kami," tegas Daeng.

Dalam upaya mencari sumber daya manusia (SDM) untuk jaringan RS Radjak, prioritas pertama adalah mahasiswa Universitas MH Thamrin, dan prioritas kedua adalah mahasiswa dari luar kampus tersebut. "Tenaga dosen di sini berjumlah sekitar 200 orang, termasuk banyak lulusan Universitas Indonesia yang mengajar di sini," tambah Daeng.

Ke depan, menurut Daeng, prospek pendidikan bidang kesehatan dalam menyalurkan SDM masih sangat dibutuhkan, terutama di daerah terpencil. Daeng mengungkapkan keinginannya untuk mendorong pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan yang baik dan merata. "Pemerintah harus banyak membangun fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas di daerah-daerah dan memastikan tenaga ahli tersebar merata. Pemenuhan pelayanan kesehatan yang merata membutuhkan tambahan fasilitas, SDM, obat, dan alat kesehatan," ujar Daeng.

Keunikan dari Universitas MH Thamrin adalah mempunyai bangunan dan fasilitas memadai dan representatif, memiliki akses internet gratis bagi mahasiswa di lingkungan kampus serta memiliki sistem online dan sesuai dengan Standar Himpunan Perguruan Tinggi Kesehatan Indonesia. “Misalnya di Prodi Perawat harus memenuhi standar nasional dan standar internasional, kami mencoba ke situ. Jadi termasuk pengadaan lab-lab itu yang bisa mendorong kompetensi standar internasional, di universitas ini sudah melakukan. Kemudian, kami juga sudah membuktikan bahwa tenaga lulusan Universitas MH Thamrin berhasil mengirim perawat ke Jepang, Arab Saudi dan Jerman,” ujarnya

dr. Daeng Mohammad Faqih SH. MH., Rektor Universitas MH Thamrin (Dok. Radjak Group)

Selanjutnya, kebencanaan dan emergensi. “Karena kami anggap itu penting di pelayanan terkait dengan emergency dan disaster atau kebencanaan sangat krusial, kami buat mereka tampil dengan sigap dan tangguh. Untuk tenaga lab, kami pastikan untuk bisa mengikuti zaman, karena kedepan laboratorium akan berbasis biomolekuler,” Daeng mengungkapkan.

Tak Cukup Hanya Mempersiapkan SDM

Dalam upaya meningkatkan layanan kesehatan di Indonesia, diperlukan perbaikan menyeluruh pada setiap sub sistem yang ada. Sub sistem ini mencakup upaya, fasilitas, logistik dan obat-obatan, pembiayaan, serta sumber daya manusia (SDM). Rektor Universitas MH Thamrin, Daeng Mohammad Faqih, menyatakan bahwa fokus utama haruslah pada ketersediaan seluruh sub sistem tersebut.

"Jika sudah tersedia dan merata, baru lah kita bicara tentang mutu dan kualitas. Dan itu tidak bisa dilakukan hanya dengan membandingkan jumlah layanan dengan populasi saja, tapi harus dilakukan per daerah, sesuai dengan kebutuhan tiap daerah," ucapnya.

Dia menyebutkan pemerintah telah menyatakan bahwa saat ini Indonesia masih membutuhkan tenaga dokter spesialis. Dinyatakan Indonesia masih kekurangan 31.481 dokter spesialis untuk melayani 277.432.360 penduduk.

"Harus dipetakan, kebutuhan dokter spesialis itu dimana saja. Lalu, itu kan hanya di sektor dokter spesialis saja. Bagaimana dengan tenaga kesehatan lainnya, itu juga harus dievaluasi," ungkapnya.

Karena dalam layanan kesehatan, bukan hanya dokter umum dan dokter spesialis saja dibutuhkan. Tapi juga tenaga pendukung layanan kesehatan lainnya. Dokter spesialis dasar itu kan ada empat, anak, obgyn, bedah dan internis. Lalu, penunjangnya ada ahli anestesi, ada laboratorium untuk pemeriksaan lanjutan, dan ada operator mesin, seperti untuk radiologi. Lalu, harus dihitung juga kebutuhan perawat dan bidangnya. Perawat pun berbeda, ada yang untuk di ICU, ada di ruang rawat inap dan lainnya.

Selanjutnya, yang perlu diingat adalah pelayanan kesehatan itu membutuhkan tempat untuk melakukan layanan kesehatan. "Jadi bukan hanya SDM saja yang perlu dicukupi, tapi juga infrastrukur, fasilitas, hingga obat-obatan juga perlu dicukupi. Kalau SDM ada, tapi infrastrukurnya tidak ada, ya tidak bisa. Dokter sudah menganalisa, tapi obatnya tidak tersedia, ya juga tidak bisa," kata Daeng lebih lanjut.

Dia menegaskan bahwa layanan kesehatan itu adalah satu paket yang tidak bisa saling dilemahkan. "Semuanya sinergi dalam melakukan pelayanan. Jadi, saya mengimbau pemerintah untuk melakukan evaluasi yang lebih mendalam untuk memastikan kebijakan dalam sektor layanan kesehatan ini bisa dioptimalkan," ujarnya.

Jika sudah mencapai ketercukupan dan pemerataan layanan kesehatan, barulah berbicara tentang kesanggupan SDM kesehatan Indonesia untuk bersaing. Baik dengan SDM luar negeri yang datang ke Indonesia atau dengan SDM tenaga kesehatan di skala internasional.

Bahkan, pada Prodi Keperawatan, Universitas MH Thamrin juga membekali anak didiknya dengan standar penanganan korban disaster and emergency, sebagai refleksi atas wilayah Indonesia yang menjadi wilayah Ring of Fire.

Universitas MH Thamrin berperan aktif dalam pengembangan SDM yang berkualitas, mempunyai wawasan luas, bertanggungjawab serta mempunyai kredibilitas yang tinggi sesuai bidang ilmu yang dipelajarinya dan mampu menjawab tantangan diera globalisasi dengan menyediakan tenaga yang berkualitas.

Prospek Cerah Bisnis Kesehatan

Layanan kesehatan menjadi sektor penyangga dalam rangka penetrasi bisnis di dalam dunia usaha rumah sakit (RS) sebagai salah satu wadah dalam pelayanan kesehatan menjadi tempat harapan bagi seluruh sektor industri dalam menopang kesehatan para SDM untuk berkarya dengan lebih baik.

Menurut drg. Abdul Firman selaku CEO Radjak Hospital, kehadiran jaringan Radjak Hospital adalah memberikan layanan kesehatan dalam rangka mendukung kesehatan nasional. “Layanan kesehatan itu merupakan hal primer. Pasti dibutuhkan oleh setiap lapisan masyarakat. Jadi baik yang mampu, yang tidak mampu atau kurang mampu pasti semuanya butuh layanan kesehatan. Dan dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 285 juta pasti tidak mungkin dilayani oleh hanya RS yang dimiliki oleh pemerintah. Karena itu, RS swasta ini juga sangat penting,” jelasnya.

Dari awal berdiri negara Indonesia hingga sekarang, lanjut Firman, reformasi kesehatan dan peran RS swasta terus digalakkan. “Bahkan sempat ada wacana untuk membolehkan investasi asing, khususnya di bidang RS atau kesehatan, dan itu harus hati-hati,” ucapnya.

Firman menyebut, pelayanan kesehatan itu bukan hanya RS, tapi dimulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama atau FKTP. Jadi dulu mungkin istilahnya klinik, puskesmas, sekarang ini yang melayani ada dokter, mantri, bidan, perawat yang buka praktek mandiri.

“Salah satu fungsi RS adalah kuratif untuk kesehatan. Jadi kalau sudah terjadi penyakit, itu baru datang ke RS setelah pasien itu tidak bisa ditangani lagi di klinik atau di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Dan fungsi kuratif ini yang masih sekarang ini top of mind adalah RS,” dia menambahkan.

Lantas, apa ada strategi Radjak Hospital dalam mengolah home management?

“Untuk meningkatkan revenue, kami menekan cost dengan mengefisienkan biaya-biaya yang ada, sehingga pada intinya pelayanan itu tidak boleh terganggu. Pelayanan itu tidak boleh terdistraksi karena biaya yang meningkat, sementara pendapatan dari layanan itu meningkatnya tidak signifikan,” tegasnya. Intinya, strategi Radjak Hospital adalah bagaimana menambah penghasilan tanpa harus meningkatkan atau menaikkan tarif untuk pasien.

Firman menyebut, potensi bisnis kesehatan di Indonesia masih sangat luas, masih sangat besar ditambah jumlah penduduk Indonesia yang terus bertambah. Selain itu, tingkat perekonomian masyarakat juga meningkat, artinya kemampuan atau daya beli masyarakat untuk membayar biaya kesehatan jauh lebih baik.

“Harapan kami, terutama dari pemerintah sebagai regulator ya harus bisa juga mengerti kondisi bahwa pihak swasta butuh dukungan, terutama soal aturan-aturan memenuhi perpajakan, mengenai penyediaan bahan-bahan logistik, bahan-bahan obat-obatan dan sebagainya,” Firman mengakhiri penjelasannya. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved