Entrepreneur

Om Jo dan Bangkitnya Bisnis Piringan Hitam

Berawal dari hobi mengoleksi vinil, Johan Mantiri kini berbisnis vinil (Foto-foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)

swa.co.id, Jakarta - Lima puluh tahun silam, bisnis piringan hitam atau vinil pernah berjaya. Setelah setengah abad mati suri, kini industri tersebut bangkit kembali.

Setidaknya hal itu dibuktikan dengan pendirian pabrik vinil oleh Piringan Hitam Record (PHR) Pressing di Kawasan Industri Mutiara Kosambi, Tangerang, Banten, pada 5 Agustus 2023. Kapasitas pabrik ini per hari untuk satu shift bisa mencapai 300 keping. Dengan dua shift kerja dan lima hari kerja per minggu, sebulan bisa dihasilkan 7.000-7.500 keping, dan bila di-push, bisa sampai 9.000 keping.

Pabrik piringan hitam PHR Pressing didirikan oleh Johan Mantiri bersama Taufik sebagai mitra bisnis. Inspirasinya dari hobi mengoleksi vinil yang dilakukan Johan bersama putranya, Arnold. Tahun 2008, mereka hunting ke toko-toko di Jabodetabek, antara lain di Jalan Surabaya, Blok M Square, dan Pasar Santa. Lama-lama koleksinya semakin banyak, mencapai 1.000 keping.

Akhirnya, ayah dan anak ini menjual koleksi piringan hitam mereka melalui media sosial (Facebook dan Kaskus) sejak 2012. Ternyata, direspons pasar dengan antusias, dalam seminggu bisa mengirimkan 3-5 kali ke pembeli.

“Kami lakukan cara penjualan ini selama dua tahun dan mulai membangun store bernama PHR tahun 2014 di STC (Senayan Trade Center), Jakarta. Namun, kami mulai berdagangnya tahun 2012. Makanya, kami mengklaim, tanggal 30 September 2024 akan menjadi hari ulang tahun kami yang ke-12,” kata lelaki yang lebih akrab disapa “Om Jo” ini.

Om Jo bercerita, awal merintis toko PHR di lantai dua STC Senayan sangat berat. Setiap hari hanya 2-3 orang yang datang ke toko dalam kurun dua tahun (2012-2014). Akhirnya, tahun 2016, toko pindah ke lantai LG dan trafik pengunjung lebih banyak.

Untuk mengatasi sepinya penjualan, Om Jo juga aktif melakukan penjualan secara online. “Riset kecil-kecilan kami menunjukkan bahwa selama empat tahun berdiri, rata-rata yang berbelanja berumur di atas 40 tahun. Namun menariknya, dalam empat tahun terakhir ini 80% yang berbelanja di PHR berusia 40 tahun ke bawah,” ungkapnya.

Perkembangan berikutnya, tahun 2020 saat pandemi, Mal STC ditutup sehingga zero omzet. Namun, kebetulan Om Jo juga memiliki kantor di BSD, Tangerang Selatan, untuk mengirimkan orderan online.

Nah, di tengah pandemi itu, permintaan akan piringan hitam naik di atas dua digit (online). Maka, di tengah pandemi, ketika banyak perusahaan lain kolaps, bisnis piringan hitam Om Jo masih tumbuh. Alhasil, tahun 2021 PHR berani membuka toko di Bintaro.

“Pada Juni 2020, tercetuslah ide untuk membantu musisi Indonesia yang ingin merilis album mereka dengan piringan hitam. Saya diskusikan dengan Arnold, tapi karena kami tidak mengerti, lalu mengajak Pak Taufik yang menangani Elevation Record Label. Kami berkolaborasi dan Oktober 2020 berhasil merilis karya pertama, yaitu Gombloh Live. Kami membuat karya itu melalui brand/co-label Mastersound,” Om Jo menjelaskan.

Kolaborasi ini berlanjut. Tahun 2021, meluncurkan album Glenn Fredly, Romansa ke Masa Depan. Setelah itu, merilis album Nadin Amizah, Hindia, dan sebagainya.

Rilis piringan hitam ini masih dikerjakan di luar negeri, antara lain di Amerika Serikat dan Belanda, karena di Indonesia tidak ada pabrik. Seiring berjalannya waktu, piringan hitam menjadi booming di dunia. Ini menyebabkan molornya waktu pengerjaan, dari target selesai 4-6 bulan menjadi setahun.

Om Jo yakin prospek bisnis vinil sangat cerah.

Membangun Pabrik

Menghadapi dinamika bisnis piringan hitam tersebut, ide pembuatan pabrik piringan hitam yang dipendam sejak tahun 2020 baru terwujud tahun 2023. Hal itu karena butuh modal besar.

“Akhirnya, kami menabung dan tetap menjalankan store. Ini juga didorong oleh lamanya pembuatan piringan hitam di luar negeri, sementara di saat yang bersamaan industri piringan hitam di Indonesia semakin seru,” kata Om Jo.

Kehadiran pabrik PHR ini menjadi angin segar di industri piringan hitam di Tanah Air. Maklum, Lokananta terakhir memproduksi piringan hitam di Indonesia tahun 1972.

Om Jo pun berbagi peran di PHR. Ia menjadi Founder & Chief Executive Officer, sedangkan Taufik sebagai Co-Founder dan Arnold sebagai Executive Director, yang bertugas mengatur impor barang raw material, yakni PVC untuk vinil, dan memantau operasional pabrik.

“Prospek bisnis ini sangat menjanjikan. Tahun 2024 ini kami akan menambah cabang yang tempatnya masih dipilih antara Jabodetabek atau di luar kota,” kata Om Jo. Penambahan toko, menurutnya, menunjukkan bahwa perusahaannya tumbuh.

“Mesin kami berasal dari Italia dan perakitan di Hong Kong. Kualitasnya tidak kalah dari Eropa. Bahkan, kami punya stemper yang berbahan nikel untuk merekam semua audio sebelum dicetak. Setelah disimpan, baru audionya dicetak.” paparnya. Untuk membuka sebuah toko piringan hitam, tambahnya, dibutuhkan modal Rp 200 juta - Rp 1,5 miliar.

Ekosistem Musik

PHR bercita-cita menciptakan ekosistem musik Indonesia dengan mewujudkan minimal 1% atau 2,8 juta penduduk Indonesia mencintai rilisan musik. Dari 2,8 juta itu, katakanlah, sebulan mereka mengeluarkan Rp500 ribu untuk beli vinil. Artinya, perputaran uang dalam sebulan sebesar Rp1,4 triliun atau Rp16,8 triliun per tahun. Saat ini, PHR memiliki total 25 karyawan, dari yang tadinya hanya satu (menjaga toko di STC).

Strateginya untuk mencapai ekosistem musik Indonesia yaitu aktif melakukan edukasi dan literasi. Misalnya, menginformasikan perbedaan antara rilisan analog (vinil) dan digital, yang ada pada kualitas suara. Analog memiliki suara yang lebih hangat dan tebal. Sementara digital, akan membuat telinga sakit jika didengarkan terlalu lama. Perlu adanya literasi bahwa vinil merupakan personal experience dan memiliki art work atau design cover.

Selain itu, banyak orang membeli vinil sebagai hadiah untuk teman, saudara, orang tua, atau mitra bisnis. Hal ini juga perlu ditingkatkan edukasinya agar lebih banyak.

“Bahkan, vinil bisa memiliki nilai investasi. Jika butuh duit, bisa dijual dengan harga bagus. Contohnya, Nadin Amizah waktu merilis album harganya hanya Rp500 ribu - Rp800 ribu, sekarang harganya sudah di atas Rp5 juta hingga Rp8 juta, dalam 2,5 tahun. Ini harus diinformasikan,” kata Om Jo.

Strategi berikutnya, rajin berpromosi. Contohnya, lewat acara Record Store Day Indonesia pada April 2024, yang mengumpulkan para tenant di seluruh Indonesia (Bali, Yogyakarta, dan wilayah lain). Tujuan pameran ini ialah mendekatkan diri dengan konsumen.

Kegiatan promosi lainnya, program We The Fest, Synchronize, Joyland, Pesta Pora, dan pameran di MBloc Jakarta. PHR pun berkolaborasi dengan perusahaan label, musisi indie, dll. Misalnya, pada April 2024 bersama Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) berkumpul dengan para pentolan label rekaman. Yang tak kalah penting, strategi marketing and sales, yang terus ditingkatkan untuk menggenjot penjualan.

Om Jo menyebutkan, prospek bisnis ini sangat menarik. Pertumbuhan bisnis piringan hitam dalam tiga tahun ini cukup baik. Harganya rata-rata mencapai Rp300 ribu - 400 ribu per keping. Dalam 10 tahun terakhir, PHR sudah menjual sekitar 100 ribu keping piringan hitam untuk pasar dalam dan luar negeri.

Kira-kira pertumbuhan bisnisnya di atas 10%-11% tiap tahun. “Saat ini, kami juga sudah ekspor piringan hitam ke Malaysia, Singapura, Belgia, dan Belanda,” ujarnya. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved