Entrepreneur

Ambisi Fishlog: Menjadi House of Brand Produk Perikanan

Fasilitas cold storage milik Fishlog (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)

swa.co.id, Jakarta - Tahun 2020, Fishlog lahir sebagai buah impian tiga sahabat karib: Bayu Anggara, Reza Fahlepi, dan Abdul Halim. Namun, kisah ini sesungguhnya telah dimulai jauh sebelumnya, ketika benih-benih ide ditanam pada akhir tahun 2018.

Bayu, yang memiliki latar belakang pendidikan perikanan (Teknologi Hasil Perairan IPB) membawa pengalaman berharga sebagai konsultan untuk proyek United Nations di sektor perikanan. Abdul Halim, dengan pengetahuan mendalamnya tentang bisnis dan peternakan, menambah kekuatan tim dengan wawasan agribisnisnya. Sementara Reza, fokus pada keberlanjutan komersial, menjalin sinergi yang sempurna di antara mereka bertiga.

Motivasi mereka sederhana namun begitu mendalam, seperti arus sungai yang mengalir tenang namun pasti menuju lautan luas. Mereka ingin mengubah wajah industri perikanan Indonesia, yang begitu kaya potensi namun sering terabaikan.

Bayu, yang sejak kecil telah akrab dengan kehidupan nelayan di Jepara, memahami sepenuh hati kesulitan dan harapan para pelaut yang bergelut dengan ombak dan badai demi membawa pulang hasil laut. Abdul dan Reza melihat bagaimana teknologi dapat menjadi jawaban atas masalah distribusi ikan yang tidak efisien dan nilai ekspor yang rendah. Dengan semangat yang membara dan tekad yang kuat, mereka memulai perjalanan penuh tantangan ini.

Modal awal mereka berasal dari patungan, kemenangan dalam lomba, dan dukungan dari beberapa angel investor. Total Rp70 juta menjadi pijakan pertama mereka, digunakan untuk memulai trading dan mengembangkan teknologi platform selama setahun penuh. Mereka bekerja keras, membagi waktu antara pekerjaan tetap dan mimpi mereka, hingga akhirnya pada awal 2020, mereka memutuskan untuk sepenuhnya berfokus pada Fishlog. Keputusan ini bukan tanpa risiko, tetapi semangat dan keyakinan mereka lebih besar dari segala kekhawatiran.

Tiga Pilar Bisnis

Fishlog berkembang dengan tiga pilar bisnis utama yang kokoh: pengelolaan cold storage, trading supply and demand, dan pembiayaan. Mereka bermitra dengan pemilik gudang untuk mendigitalisasi dan menyewakannya kepada pihak yang membutuhkan. Dalam trading, Fishlog menjadi jembatan yang menghubungkan supply dan demand antara berbagai mitra. Sementara dalam pembiayaan, mereka membantu nelayan mendapatkan akses kredit dengan menjaminkan stok ikan yang tersimpan di gudang mereka.

“Itu tiga bisnis utama yang kami lakukan. Kami B2B dengan partai besar,” ujar Bayu Anggara, Co-founders & CEO Fishlog. Dan ini bukan hanya bisnis, tetapi sebuah misi untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan para pelaku industri perikanan.

Strategi pengembangan Fishlog berakar kuat pada pemanfaatan teknologi canggih. Mereka mengadopsi blockchain dan sistem manajemen gudang untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi proses bisnis. Fokus mereka juga pada keberlanjutan, dengan menyediakan informasi traceability untuk konsumen, terutama di pasar ekspor.

Fishlog dapat menjelaskan detail dari mana ikan itu berasal, cara penangkapannya, hingga alat yang digunakan, sehingga konsumen dapat merasa yakin akan kualitas dan keberlanjutan produk yang mereka beli. Dalam dua tahun, Fishlog berhasil mengelola 40 titik gudang di berbagai wilayah Indonesia, bermitra dengan 600 mitra dari beragam latar belakang.

Pandemi COVID-19 membawa tantangan tersendiri bagi Fishlog, namun juga menjadi katalisator yang mempercepat pertumbuhan mereka. Di satu sisi, permintaan ikan sempat menurun drastis, namun kebutuhan akan protein tetap tinggi. Fishlog merespons dengan cepat, meningkatkan distribusi dan ekspansi produk mereka. Mereka bahkan berhasil menembus pasar ekspor, mendirikan anak perusahaan di Amerika untuk distribusi langsung ke restoran dan konsumen. Dalam satu tahun, mereka mengirim 70 ton ikan ke Amerika, menunjukkan ketangguhan dan fleksibilitas mereka dalam menghadapi situasi yang tidak terduga.

Tantangan

Namun, perjalanan Fishlog tidak selalu mulus. Dalam dunia perikanan, tantangan bisnis selalu hadir bak ombak yang tak henti-hentinya menghantam pantai. Industri ini memang besar, dengan nilai ekspor mencapai Rp100 triliun, sementara pasar domestik hanya sekitar Rp40 triliun yang angkanya sering tidak pasti. Tantangan terbesar yang dihadapi Fishlog adalah bagaimana mengelola kemitraan dan kerjasama dengan berbagai pihak yang terlibat dalam rantai nilai perikanan.

Saat ini, Fishlog memiliki sekitar 600 mitra yang terdiri dari berbagai latar belakang —nelayan, supplier, pabrik, hingga buyer. Pabrik-pabrik tersebut pun beragam, mulai dari UMKM, korporat besar, hingga perusahaan keluarga. Mengelola mitra yang begitu beragam membutuhkan standar yang jelas, empati, dan pengetahuan industri yang mendalam. Pemain konvensional di industri ini cenderung skeptis terhadap perubahan, tetapi jika kita memahami dan memenuhi kebutuhan mereka, mereka akan lebih loyal. Oleh karena itu, komunikasi dan penetapan target harus disampaikan dengan jelas dan terus-menerus diperbaiki.

Untuk mengatasi tantangan ini, Fishlog menetapkan Standard Operating Procedures (SOP) yang rinci. Setiap mitra diklasifikasikan berdasarkan ukuran cold storage, jenis komoditas, dan lokasinya. Dengan menetapkan hal ini, Fishlog bisa menentukan pendekatan yang tepat untuk setiap mitra, mengurangi ekspektasi yang tidak sesuai dan menghindari kesalahpahaman. Proses ini dievaluasi secara berkala setiap minggu untuk memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

Selain itu, tantangan lainnya adalah mengelola SDM dan tim yang tersebar. Sebagai startup yang didukung oleh 100 orang, koordinasi menjadi kunci utama. Lokasi yang tersebar menambah tantangan dalam komunikasi internal dan manajemen ekspektasi. Model pelatihan dan koordinasi harus terus diperbaiki untuk memastikan semua anggota tim berada pada jalur yang sama dan bekerja dengan tujuan yang sama.

Profitabilitas juga menjadi tantangan berat. Saat ini, operasi domestik Fishlog masih menghadapi banyak hambatan karena masih berfokus pada bahan mentah dengan margin keuntungan yang kecil. Ekspor memang menawarkan margin yang lebih besar, tetapi membutuhkan modal yang signifikan untuk kontrak dan mempertahankan investasi. Mencari investor dan mempertahankan modal menjadi tantangan tersendiri yang membutuhkan waktu, pembuktian model, dan konsep yang matang. Fishlog menyadari bahwa ini adalah bisnis jangka panjang yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan.

Mengola hasil tangkapan laut (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)

Menjadi House of Brand

Di tengah tantangan ini, Fishlog memancang mimpi besar. Dalam lima tahun ke depan, Fishlog yang sudah mengumpulkan pendanaan modal ventura dengan total sebesar US$1,6 miliar (Rp23,9 triliun) ini ingin memperluas jangkauan mereka ke Asia Tenggara, menjadi solusi perikanan yang andal dan terpercaya. Mereka bahkan ingin menjadi house of brand, seperti Unilever, dengan berbagai merek di bawah naungan mereka.

Dengan brand seperti Sea Treasure di Amerika yang fokus pada crab meat dan Ocean Stellar yang menawarkan tuna berkualitas, mereka bermimpi untuk meluncurkan lebih banyak produk, termasuk frozen food dan ikan kaleng. Fishlog bercita-cita menjual produk mereka di seluruh dunia, membawa cita rasa dan kualitas perikanan Indonesia ke pasar global.

“Tahun ini kami ingin mengembangkan satu brand lagi untuk meng-cover udang. Kami sedang menunggu kontrak saja, nih,” ungkap Bayu.

Tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah bagaimana menjembatani gap antara teknologi dan tradisi dalam industri perikanan. Dengan empati dan pemahaman mendalam, Fishlog berusaha menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan, tradisi dan inovasi. Mereka terus berusaha meningkatkan standar industri, dengan tetap menghargai kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved