Trends

Mario Gultom, Mengakselerasi Skill Penyandang Disabilitas di Sunyi Coffee

Mario Gultom (Foto: Anastasia Anggoro Suksmonowati/SWA)

swa.co.id, Jakarta- Sunyi Coffee didirikan pada 2019 oleh Mario Gultom. Kedai kopi ini berkonsep inklusivitas terhadap penyandang disabilitas dan tuli. Ide menarik ini muncul sejak tahun 2016 dan dieksekusi pada tahun 2019. Alasan yang mendasari pendirian coffee shop ini karena adanya pandangan masyarakat terhadap penyandang disabilitas yang dipersepsikan tidak dapat berkontribusi dalam industri kerja. “Kami ingin memberikan kesempatan sekaligus jembatan untuk mereka agar bisa bekerja dan mengasah skill mereka,” kata Mario Gultom, Founder and CEO Sunyi Coffee seperti ditulis di Jakarta, Jumat (14/6/2024).

Mario sempat mengalami kesulitan saat awal pembangungan coffee shop ini karena Indonesia dianggap belum siap menggunakan konsep bisnis jenis ini, serta skeptis terhadap keberlangsungan bisnis Sunyi Coffee. Seakan tak gentar, Mario tetap melanjutkan visi dan misinya hingga kini berhasil membangun tiga cabang di wilayah Barito, Alam Sutera, dan Bekasi. Tercatat Sunyi Coffee juga sudah mempekerjakan 33 orang karyawan yang 97%-nya difabel mulai dari Barista, Chef, hingga social media. Bahkan, dari segi arsitektur bangunan pun melibatkan komunitas difabel agar kebutuhan mereka bisa terpenuhi dengan baik misalnya saja menggunakan huruf braille, guiding block atau jalan pemandu, dan jalan untuk melintas dengan kursi roda.

Mario menceritakan Sunyi Coffee memiliki dua entitas bisnis yakni Rumah Kopi dan Rumah Harapan atau yang dikenal sebagai Sunyi Academy. Setiap keuntungan yang didapatkan dari penjualan akan digunakan untuk keberlangsungan Sunyi Academy. “Sunyi Academy didirkan untuk membimbing mereka menjadi barista. Mereka yang mau bekerja dengan kami harus masuk ke Sunyi Academy terlebih dahulu. Namun, ketika sudah lulus mereka bisa bekerja di hotel dan restaurant lain,” kata dia.

Sunyi Academy memang dirancang untuk menyiapkan penyandang disabilitas memiliki keterampilan di industri perhotelan (skill hospitality). Penyandang disabilitas, menurut Mario, sudah bekerja di mal, hotel, retail, minimarket, restaurant, hingga PNS. Adapun skill yang diajarkan dalam akademi ini adalah cara melayani konsumen, skill untuk menjadi kasir, berkomunikasi dengan internal maupun konsumen, membuat kopi, CV dan resume, menggunakan Canva, sampai edukasi basic economy seperti menghitung keuntungan. “Akademi ini gratis. Malah kami yang membayar mereka karena meraka akan mendapatkan kesempatan magang selama sebulan. Mereka langsung hands on experience bertemu dengan konsumen,” tuturnya. Saat ini, Sunyi Academy melatih difabel sebanyak 250 orang.

Ada dua strategi yang dilakukan untuk mengembangkan eksistensi Sunyi Coffee yakni melakukan persebaran cabang dan persebaran distribusi. Terdekat, Sunyi Coffee akan membuka gerai barunya di Bandung. Kota ini dipilih lantaran memiliki pasar kopi yang bagus sekaligus banyaknya jumlah teman tuli yang belum mendapatkan pekerjaan.

Sementara dari persebaran distribusi, Sunyi Coffee akan meluncurkan produk siap saji seperti biji kopi, bubuk kopi, selai roti, serta marchendise hasil karya komunitas difabel. “Selain itu, kami juga akan mematangakn sosial media untuk melakukan edukasi misalnya belajar Bahasa isyarat. Ke depan kami juga akan menguatkan digital dan melakukan kolaborasi dengan komunitas,” katanya. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved