Trends

Bank Indonesia Mendongkrak Pariwisata Berkelanjutan di Bali, Proyeksikan Transaksi Rp7,61 Triliun di BBTF

BBTF 2024 digelar di Nusa Dua, Bali. (Foto : Silawati/SWA)

swa.co.id, Bali- Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali turut mendukung penyelenggaraan Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2024 dibuka oleh Pj. Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya, di Bali International Convention Centre Nusa Dua, Kamis (13/6/2024). Sebanyak 6 desa wisata binaan Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Provinsi Bali turut serta dalam pameran ini, diantaranya Desa wisata Taro, Penglipuran, Pemuteran, Sudaji, Tampaksiring, dan Duda. Fasilitasi promosi desa wisata ini merupakan salah satu bentuk upaya Bank Indonesia dalam mendukung penerapan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. KPw Bank Indonesia Bali memproyeksikan transaksi di BBTF pada edisi kesepuluh ini senilai Rp7,61 triliun yang bersumber dari transaksi 370 buyer dari 45 negara.

Desa Wisata tidak hanya mampu menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar termasuk UMKM, namun juga turut menjaga kelestarian budaya dan adat Bali. Perwakilan pengelola desa wisata mengklaim jumlah calon buyer cukup banyak yang meminati paket wisata yang ditawarkan. Mereka berencana melakukan negosiasi lebih lanjut.

BBTF yang bertemakan Exploring & Experiencing Sense of Indonesia’s Beauty ini diharapkan berkontribusi untuk mempercepat pertumbuhan perekonomian Bali pasca pandemi Covid-19. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, G.A. Diah Utari, menyampaikan bahwa sektor terkait pariwisata merupakan penyumbang utama pertumbuhan ekonomi Bali dengan kontribusi mencapai 41,91% lebih tinggi dari nasional yang sebesar 25,12%. Dengan semakin meningkatkan aktivitas pariwisata, pertumbuhan ekonomi Bali juga masih tercatat tinggi yang mencapai 5,98% pada kuartal I/2024, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,11% (year on year). "Pertumbuhan sektor pariwisata juga menjadi lokomotif untuk penyerapan tenaga kerja dan tumbuhnya local community based business," ujar Diah Utari seperti ditulis swa.co.id pada Sabtu (15/6/2024).

Pameran BBTF diikuti oleh pelaku usaha pariwisata, diantaranya maskapai penerbangan, agen perjalanan, hotel, event organizer, dan ragam usaha yang berfokus pada kegiatan meeting, incentive, convention, & exhibition (MICE). Pelaku usaha yang berpartisipasi di BBTF ini berasal dari Bali, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, NTB, NTT, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur. Dari negara lain yang turut hadir diantaranya yakni Nepal, Timor Leste, China, Amerika Serikat, Malaysia, Afrika Selatan, dan Iran. Hal ini menjadikan BBTF sebagai travel fair dengan dampak ekonomi terbesar di Indonesia.

Kepala DPD ASITA Bali sekaligus Ketua Komite BBTF 2024, I Putu Winastra, menyampaikan bahwa pelaksanaan BBTF terus berkembang tiap tahunnya dari sisi skala keterlibatan pelaku usaha maupun jumlah peserta. Selain itu, tren pariwisata global menunjukkan keindahan alam dan budaya masih menjadi keunggulan industri pariwisata di Indonesia. Oleh karena itu, ASITA berkomitmen untuk mempromosikan dan melestarikan destinasi wisata Indonesia ditingkat nasional maupun kancah internasional. Guna mendukung pariwisata yang inklusif, BBTF mempromosikan pariwisata yang berkelanjutan, termasuk desa wisata yang merupakan bagian dari community based tourism.

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Ida Ayu Indah Yustikarini, menyatakan potensi utama pariwisata Bali adalah keindahan budaya, alam, dan kearifan lokalnya. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menjaga dan melestarikan alam dan kearifan lokal Bali melalui penetapan tourist levy.

Per 14 Februari 2024, turis asing yang berkunjung ke Bali harus membayar levy sebesar Rp150 ribu per orang. Dana yang terkumpul dari levy ini digunakan untuk pelestarian alam dan adat Bali, serta meningkatkan manajemen pariwisata yang lebih solid terutama dalam kebersihan, serta mempromosikan desa wisata sebagai community based tourism. ”Kami berkomitmen mempromosikan pariwisata berbasis komunitas untuk mendukung inklusivitas dan pariwisata yang berkelanjutan. Selain berdampak terhadap perekonomian, pariwisata juga harus melindungi lingkungan hidup, budaya, dan kearifan lokal di Bali,” ucap Indah seraya menyebutkan salah satu pemanfaatan dari dana levy yang telah terkumpul adalah penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB).

Ketua Bali Tourism Board (BTB), Ida Bagus Agung Partha Adnyana, menyatakan BBTF 2024 ini akan memperkuat Bali sebagai destinasi pariwisata global di kancah internasional. ”Bali Tourism Board senantiasa mendukung pariwisata yang berkelanjutan dan pariwisata global termasuk BBTF,” ucapnya.

Sejalan dengan komitmen pariwisata Bali, General Manager The Westin Resort Nusa Dua, Sander Looijen, menuturkan pihaknya senantiasa berusaha untuk menjaga aspek keberlangsungan dan kelestarian lingkungan. Salah satu tujuan jangka panjangnya adalah mewujudkan net zero emission di kawasan The Westin Resort Nusa Dua pada tahun 2050. Untuk mendukung community based tourism, The Westin Resort Nusa Dua juga menawarkan paket wisata untuk berkunjung ke desa wisata.

Sektor pariwisata Bali masih terkonsentrasi pada wilayah Bali Selatan yakni Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan) yang tercermin dari share ekonomi, penyaluran kredit, tingkat pendapatan dan pengeluaran yang lebih tinggi pada wilayah tersebut dibandingkan wilayah Non-Sarbagita. Oleh karena itu, perlu ditingkatkan upaya mendorong kunjungan wisawatan ke wilayah Bali Utara guna mengurangi ketimpangan.

Adapun, tingkat pengangguran di Bali per Februari 2024 sebesar 1,87% dan kemiskinan sebesar 4,25%, masing-masing lebih rendah dari nasional yang tercatat sebesar 4,82% dan 9,36%. Sementara itu, jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terkait pariwisata sekitar 200 ribu unit. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved