Economic Issues

Pengeluaran Saat Pemilu, Ramadan, dan Idulfitri Topang Ekonomi RI

Ilustrasi. Kawasan perkantoran di Jakarta. (Foto: Ubaidillah/SWA)

swa.co.id, Jakarta - Riset Oxford Economics yang digagas oleh Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) mengungkap pada kuartal pertama 2024, perekonomian kawasan Asia Tenggara mengalami pertumbuhan yang beragam di masing-masing negara. Berbeda dengan Vietnam yang pertumbuhan ekonominya menurun dari 6,7% di kuartal keempat 2023 menjadi 5,6%, Indonesia termasuk yang masih bertumbuh positif.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2024 ada di angka 5,1%, sedikit lebih tinggi dari kuartal keempat 2023 yang mencatat angka pertumbuhan di 5%. Tahun 2024, pertumbuhan kawasan Asia Tenggara ini didukung oleh peningkatan konsumsi domestik, ditambah dengan permintaan yang lebih kuat di sektor elektronik.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2024 sebesar 5,1% YoY didorong oleh konsumsi domestik, terutama dengan pengeluaran terkait pemilu di sektor publik, yang juga terbantu oleh transaksi Ramadan dan Idulfitri. Hasil positif pada kuartal pertama 2024 ini menandai hasil terbaik Indonesia sejak kuartal dua tahun lalu, bahkan melampaui ekspektasi.

Seperti negara tetangga Singapura, yang juga mengalami pertumbuhan di sisi konsumsi domestik karena kenaikan penjualan ritel, konsumsi rumah tangga di Indonesia juga diperkirakan akan terus meningkat. Meskipun konsumsi rumah tangga disinyalir akan mengalami kesulitan karena hambatan terkait kebijakan moneter, namun diharapkan konsumsi rumah tangga dapat tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Ekspor Mulai Pulih, tapi Masih Terkendala Pembatasan

Berdasarkan hasil riset Oxford Economics, ditemukan tren stabilitas ekspor elektronik Asia Tenggara selama kuartal pertama tahun ini. Penjualan semikonduktor global meningkat sebesar 15,3 persen YoY, menyokong pertumbuhan perekonomian Vietnam, dengan pertumbuhan ekspor yang melonjak hingga 16,8 persen YoY.

Malaysia juga diperkirakan akan mendapatkan manfaat dari pemulihan sektor elektronik pada paruh kedua tahun ini, mengingat posisi Malaysia yang lebih banyak terlibat dalam tahap akhir produksi elektronik. Namun, jika dibandingkan dengan negara Asia lain seperti Taiwan dan Korea Selatan, pemulihan sektor elektronik di Asia Tenggara tergolong lesu. Di sisi lain, Singapura mengalami peningkatan ekspor non-migas, menandai perubahan positif setelah enam kuartal berturut-turut mengalami penurunan.

“Walaupun indikasi positif mulai terlihat, kebijakan moneter global yang ketat diperkirakan akan meredam permintaan eksternal untuk produk dari kawasan ini, sehingga pemulihan ekonomi kemungkinan tidak bisa terjadi dengan cepat atau dalam skala besar. Dengan proyeksi pertumbuhan global untuk tahun 2024 sebesar 2,6 persen, di bawah tingkat sebelum pandemi, dan pertumbuhan ekspor di kawasan ini kemungkinan besar akan tetap lemah,” kata ICAEW Head of Indonesia, Conny Siahaan, Jumat (14/6/2024).

Suku Bunga Riil dan Inflasi Terkendali

Bicara soal konsumsi rumah tangga, pastilah berhubungan erat dengan tingkat suku bunga riil dan biaya pinjaman. Jika tingkat suku bunga riil naik signifikan untuk waktu yang lama, maka biaya pinjaman juga akan mengalami kenaikan, sehingga daya beli masyarakat juga akan turun.

Untungnya, kata Conny, hal tersebut tidak ditemukan di Indonesia, di mana kenaikan suku bunga riil dan biaya pinjaman masih terjaga. Dengan terjaganya kenaikan tingkat suku bunga riil ini, masyarakat pun dapat didorong untuk tetap melakukan transaksi belanja karena biaya pinjaman yang masih relatif rendah.

Di sisi lain, Bank Indonesia yakin bahwa inflasi umum akan tetap terkendali dan berada dalam koridor target pada tahun 2024. Ditetapkan pada angka 3% pada bulan April, tingkat inflasi Consumer Price Index Indonesia menunjukkan konsistensi sejak awal tahun 2023 karena selalu berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia, dengan target sebesar 2,5±1 %.

Tingkat inflasi inti juga masih terkendali, sebesar 1,8% pada bulan April. Hasilnya, tidak ada gangguan sisi penawaran yang jelas yang dapat menyebabkan tekanan inflasi, yang mempengaruhi daya beli konsumen. Dengan suku bunga riil, biaya pinjaman, dan tingkat inflasi yang terjaga, dapat diasumsikan bahwa kebijakan transmisi moneter saat ini masih efektif

Bank Indonesia diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunganya di angka 6,25% (sesuai level yang ditetapkan pada April lalu) hingga kuartal terakhir tahun ini. Penurunan baru diprediksi akan terjadi setelah Federasi AS memulai siklus penurunan suku bunganya sendiri pada bulan September dan diprediksi suku bunga akan turun sebesar 25 bps pada kuartal keempat tahun ini.

Pemotongan suku bunga ini juga diharapkan dapat mendorong aktivitas ekonomi, dengan menurunnya biaya pinjaman dan meningkatkan tingkat konsumsi masyarakat. Oleh karena itu, dapat diperkirakan bahwa daya konsumsi masyarakat akan tetap terjaga untuk saat ini, selama kebijakan moneter serta tingkat suku bunga riil dan tingkat inflasi juga terjaga.

“Perekonomian Asia Tenggara masih menunjukkan hasil yang relatif kuat, terutama di Indonesia dibandingkan dengan paruh keempat tahun lalu. Melalui riset ini, kami berharap setiap pihak yang terlibat dan berperan dalam menggerakkan roda ekonomi bisa memanfaatkan setiap peluang dan sekaligus mengambil langkah-langkah cermat yang dapat membantu menggerakkan pertumbuhan ekonomi ASEAN ke arah yang lebih baik dan stabil di masa depan,” kata Conny Siahaan, ICAEW Head of Indonesia, Jumat (14/6/2024). (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved