Marketing

Denyut Uang Piala Eropa dalam Tiga Dekade Terakhir

Kai Havertz merayakan gol saat Jerman membantai Skotlandia, 5-1 pada pembukaan Euro 2024. (IG Kai Havertz)

swa.co.id, Jakarta - Dalam gemuruh stadion yang penuh sorak-sorai, di tengah lapangan hijau yang menjadi panggung impian bagi para pesepak bola, Piala Eropa bukan hanya tentang gol dan kemenangan. Di balik setiap tendangan, setiap umpan, ada denyut ekonomi yang bergetar, mengalir seperti darah dalam arteri kota-kota tuan rumah. Inilah sekelumit kisah ekonomi Piala Eropa dari tahun ke tahun, sebuah simfoni antara olahraga dan kesejahteraan finansial.

Euro 1992: Semangat Viking

Di Swedia, tahun 1992, turnamen ini memberikan dampak ekonomi yang berarti, sekitar €300 juta atau sekitara Rp5 triliun. Pariwisata melonjak, bisnis lokal menggeliat, dan kota-kota Swedia menyambut tamu dari berbagai belahan dunia. Meski kurang komersial, turnamen ini menandai simbiosis antara sepak bola dan ekonomi.

Euro 1996: Nyanyian di Negeri Tiga Singa

Inggris, Negeri Tiga Singa, menjadi tuan rumah Euro 1996. Suara sorakan menggema di stadion-stadion megah, menciptakan resonansi yang menyebar hingga ke pelosok ekonomi lokal. Dampak ekonomi sebesar €700 juta (Rp12 triliun) mengalir melalui pariwisata, pengeluaran layanan lokal, dan infrastruktur yang diperbarui. Euro 1996 memberikan dorongan besar bagi sepak bola Inggris dan juga ekonomi lokal. Itu adalah momen penting dalam sejarah olahraga dan bisnis.

Euro 2000: Harmoni Dua Negara

Di tahun 2000, Belgia dan Belanda bersatu dalam harmoni, menjadi tuan rumah bersama. Euro 2000 membawa dampak ekonomi sekitar €1,1 miliar (Rp19 triliun), dengan ribuan pengunjung memenuhi kota-kota indah di kedua negara. Pariwisata meningkat, sektor jasa sibuk, dan pendapatan dari tiket serta hak siar mengalir deras, memperkaya ekonomi lokal.

Euro 2004: Cahaya di Negeri Laut

Di Tanah Portugal yang dijuluki Negeri Laut, Euro 2004 bersinar terang. Dengan dampak ekonomi sekitar €847 juta (Rp14 triliun) mengacu data Statista, turnamen ini membawa arus wisatawan yang tak terbendung, investasi infrastruktur yang signifikan, dan pengeluaran konsumen yang meroket. Bagi orang Portugal, Euro 2004 bukan hanya tentang sepak bola, tetapi juga tentang bagaimana turnamen ini meningkatkan ekonomi negara mereka.

Euro 2008: Simfoni Pegunungan

Austria dan Swiss, dengan latar pegunungan yang indah, menjadi panggung Euro 2008. Dengan dampak ekonomi sekitar €1,3 miliar (Statista) atau sekitar Rp22,8 triliun, turnamen ini meningkatkan ekonomi lokal melalui pengeluaran pengunjung, perbaikan infrastruktur, dan pariwisata yang melonjak. Seperti gelaran sebelumnya, Euro 2008 menunjukkan bagaimana olahraga bisa menjadi katalisator bagi perkembangan ekonomi dan sosial di negara tuan rumah.

Euro 2012: Tarian di Tengah dan Timur Benua

Polandia dan Ukraina menyambut dunia di Euro 2012, dengan investasi infrastruktur yang diperkirakan menelan sekitar €31 miliar. Turnamen ini bukan hanya merangsang ekonomi kedua negara, tetapi juga mempererat hubungan wilayah Tengah dan Timur Eropa. Investasi jangka panjang di infrastruktur seperti jalan, bandara, dan kereta api memberikan manfaat yang berkelanjutan. Dampak ekonomi ditaksir mencapai sekitar €1,3 miliar (Statista) atau setara Rp22,8 triliun.

Euro 2016: Geliat di Negeri Mode

Prancis, negeri mode dan keanggunan, menjadi tuan rumah Euro 2016 dengan dampak ekonomi menurut Statista lebih dari €1,9 miliar (Rp33,3 triliun). Sekali lagi Euro 2016 menjadi bukti bagaimana acara olahraga besar dapat berkontribusi pada ekonomi nasional dan mempromosikan negara di panggung dunia. Pengeluaran wisatawan dan peningkatan pariwisata memberi energi baru bagi ekonomi Prancis.

Euro 2020: Euforia di Masa Pandemi

Di tengah pandemi COVID-19, Euro 2020 tetap membawa euforia meski dengan tantangan besar. Dengan total pendapatan €1,8 miliar (Statista) atau sekitar Rp28,8 triliun, turnamen ini menunjukkan daya tahan dan adaptasi di masa sulit. Pendapatan dari hak siar, sponsor, dan lisensi menjadi penopang ekonomi, meski format multi-kota dan pembatasan pandemi membuat dampaknya bervariasi.

Simfoni Ekonomi dan Sepak Bola

Setiap edisi Piala Eropa menorehkan kisah ekonomi yang kaya. Investasi infrastruktur, lonjakan pariwisata, dan pengeluaran konsumen menciptakan simfoni antara olahraga dan kesejahteraan finansial. Turnamen ini bukan hanya pesta sepak bola, tetapi juga perayaan kekuatan ekonomi yang mengalir melalui stadion-stadion megah dan jalan-jalan kota tuan rumah.

Lalu, bagaimana dengan Euro 2024 yang dimulai pada 14 Juni 2024 di Muenchen dan berakhir pada final 14 Juli 2024 di Berlin?

Potensi putaran uang di Euro 2024 diperkirakan juga akan signifikan, mencerminkan dampak ekonomi besar dari turnamen-turnamen sebelumnya. Berikut adalah analisis mengenai potensi ekonomi dari turnamen yang akan datang ini.

Supporter adalah salah satu sumber pemasukan yang penting dalam setiap perhelatan Euro. (allfootballapp.com)

Analisis Ekonomi Euro 2024

Pertumbuhan Ekonomi dan Pengeluaran: Turnamen ini diharapkan membawa dorongan besar bagi ekonomi negara tuan rumah dan sekitarnya. Mengingat Euro 2024 akan diselenggarakan di Jerman, negara ini akan melihat peningkatan dalam pariwisata, konsumsi lokal, dan investasi infrastruktur. Menurut laporan EY, pertumbuhan ekonomi di zona euro diperkirakan akan mencapai 0,8% pada tahun 2024, dengan real disposable income yang meningkat, yang dapat mendukung konsumsi selama turnamen​.

Pendapatan dari Hak Siar dan Sponsorship: Seperti perhelatan Piala Eropa sebelumnya, pendapatan dari hak siar dan sponsorship diperkirakan akan tetap menjadi komponen utama dari total pendapatan, seperti yang terlihat pada turnamen sebelumnya. Pada Euro 2020, misalnya, hampir €1,8 miliar dihasilkan dari hak siar, sponsor, hingga pendapatan hari pertandingan​​​.

Di Piala Eropa 2024, UEFA disebut-sebut mengharapkan pendapatan sekitar €2,5 miliar euro atau lebih-kurang Rp 43,8 triliun.

Uang tersebut ini diproyeksikan mengalir dari kesepakatan penyiaran dan sponsor, serta penjualan tiket, paket hospitality, lisensi dari penyelenggaraan turnamen 51 pertandingan di Jerman yang dimulai pada 14 Juni di Muenchen dan berakhir pada final per 14 Juli di Berlin.

Infrastruktur dan Investasi: Euro 2024 juga akan melihat investasi signifikan dalam infrastruktur. Proyek pembangunan stadion, peningkatan transportasi, dan perbaikan fasilitas umum diharapkan mendukung turnamen ini. Pengalaman dari Euro 2012 menunjukkan bahwa investasi besar dalam infrastruktur memberikan manfaat jangka panjang bagi ekonomi lokal, dan ini diperkirakan akan berulang di Jerman​​​.

Dampak Pariwisata: Turnamen ini diperkirakan akan menarik jutaan pengunjung internasional, yang akan meningkatkan sektor pariwisata dan perhotelan. Pengalaman dari turnamen sebelumnya seperti Euro 2016 di Prancis, yang memberikan dampak ekonomi lebih dari €1,9 miliar, menunjukkan potensi besar dari peningkatan pariwisata selama turnamen besar seperti ini​​.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengakui besarnya putaran uang di sepak bola.

So.... Euro 2024 diperkirakan akan menjadi penggerak ekonomi penting bagi Jerman dan seluruh zona Euro. Dengan pendapatan yang signifikan dari hak siar, sponsorship, dan pengeluaran wisatawan, turnamen ini tidak hanya akan merayakan olahraga tetapi juga memberikan dorongan ekonomi yang substansial.

Pengalaman dari turnamen sebelumnya menunjukkan bahwa dengan perencanaan dan investasi yang tepat, manfaat ekonomi dari Euro 2024 dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Akhirnya, benar seperti yang dikatakan Gianni Infantino, Presiden FIFA tentang sepak bola dan putaran uang. "It's not just a game where you have 22 players, referees and fans who watch. It moves a lot as an economic sector in terms of broadcast, sponsorship and ticketing, but also everything that is around in terms of the operations, the catering and so on - the security." (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved