Marketing

Eksportir Snack Made In Indonesia, MAXI Terapkan Strategi Ini Demi Raih Rp120 Miliar

MAXI melangsungkan IPO di BEI pada 12 Juni 2023. (Foto : BEI).

PT Maxindo Karya Anugerah Tbk (MAXI) mengincar penjualan di 2024 senilai Rp120 miliar. "Strategi perseroan dalam mencapai sales sebesar Rp120 miliar adalah tetap aktif berpartisipasi pada berbagai pameran makanan di luar negeri dan terus berinovasi untuk membuat produk baru," ujar Carolina Renata Djaja, Direktur Maxindo Karya Anugerah pada risalah paparan publik yang dikutip pada Selasa (18/6/2024).

Perseroan membeli mesin extruder untuk menambah variasi produk dan penjualan. MAXI menjual produknya ke 34 negara. Sebanyak 80% dari total ekspor dikirim MAXI ke Amerika Serikat, Australia, dan Belanda. Sisanya atau 20% diekspor ke 30 negara. Penjualan MAXI pada kuartal I/2024 tumbuh sebesar 40% dari periode yang sama tahun lalu. Penjualan ini naik lantaran tingginya pemesanan konsumen terhadap produk perseroan

Pada tahun ini, manajemen MAXI mengalokasikan belanja modal atau capex senilai Rp79 miliar. Rencananya, penggunaan capex untuk pembangunan pabrik di Kawasan Industri Kendal (KIK), Semarang di Jawa Tengah. Pembangunan pabrik perseroan ini membutuhkan biaya sebesar Rp75 miliar untuk konstruksi, mechanical electrical, waste water treatment, dan mesin-mesin. "Dan sisanya sebesar Rp4 miliar untuk pabrik perseroan yang existing di Sentul," ujar Carolina.

Pada 2 Mei 2024, MAXI melakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan fasilitas pabrik yang ketiga di Kendal. Perseroan telah menunjuk PT Bhineka Ciptabahana Pura (BCP) sebagai kontraktor utama pembangunan pabrik tersebut. Pabrik MAXI ini merupakan pabrik makanan ringan dengan kapasitas produksi mencapai 470 ton per bulan. Rencananya, ketersediaan pabrik baru ini akan menambah total kapasitas produksi perseroan sebanyak 800 ton per bulan. MAXI memiliki pabrik sebanyak 2 unit di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Nantinya, pabrik MAXI di Kendal memproduksi produk-produk untuk membidik pasar domestik. Perseroan berencana untuk membuka pasar-pasar domestik dengan target yakni general trade, modern trade dan online di lokapasar.

Untuk pengembangan ekspor, perseroan pada Mei lalu mulai menggarap pasar baru di Timur Tengah, seperti negara Yordania, Palestina dan Arab Saudi. Perseroan bekerjasama dengan distributor di negara tujuan ekspor itu. Perseroan dengan jeli melihat peluang pasar Timur Tengah yang memiliki potensi penyerapan produk yang menjanjikan. Industri sektor makanan ringan sehat yang terus menunjukan tren pertumbuhan yang sangat positif, Perseroan memiliki optimistis produknya diapresiasi konsumen karena produk makanan ringan tersebut merupakan alternatif makanan ringan yang dinilai lebih sehat dan telah diterima dengan baik di negara maju lainnya.

Selain itu, MAXI memiliki sertifikasi yakni Sertifikat Keamanan Pangan Berstandar Global BRCGS, NON-GMO dari FoodChain ID untuk sistem produksi Non-GMO dan Bebas Gluten, Sertifikasi Rainforest Alliance untuk sertifikasi petani berkelanjutan dan perseroan adalah satu-satunya perusahaan di dunia yang tersertifikasi untuk produk singkong, Sertifikasi FDA (Badang Pengawasan Obat dan Makanan Amerika Serikat), Sertifikasi Kosher dan Sertifikasi Halal. Dengan kelengkapan sertifikasi yang dimiliki oleh Perseroan, menjadikan Perseroan salah satu pemimpin untuk industri makanan ringan sehat dengan tujuan ekspor.

Cikal Bakal Industri Rumahan

Perseroan memproduksi makanan ringan dengan kualitas premium berbahan dasar umbi-umbian tropis seperti singkong, ubi merah, ubi ungu, dan talas yang didapat dari hasil alam Indonesia. Perseroan beroperasi di Indonesia pada 1977 yang dimulai sebagai produsen makanan ringan berbasis rumahan di wilayah Bogor, Jawa Barat.

Kini, MAXI berkembang menjadi salah satu pemimpin industri makanan ringan sehat di Indonesia untuk tujuan ekspor.Operasional perseroan menggunakan mesin dan teknologi modern, sumber daya manusia yang handal dan sistem Good Manufacturing Practice (GMP) sehingga menghasilkan produk makanan ringan sehat dengan kualitas premium dalam bentuk kerupuk mentah dan ready-to-eat snacks.

Bisnis yang ditawarkan oleh perseroan terdapat dua jenis yakni produk brand milik perseroan, yaitu MAXI dan original equipment manufacturer (OEM)/private label yang memudahkan konsumen mereknya untuk menjual produknya itu.

Sebelumnya, Sarkoro Handajani, Direktur Utama MAXI, mengatakan langkah perusahaan masuk Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui IPO pada 12 Juni 2023 adalah bagian dari strategi untuk menambah modal kerja supaya dapat meningkatkan kapasitas produksi dan diversifikasi produk. Sarkoro optimistis terhadap prospek bisnis MAXI karena mempunyai pangsa pasar yang sangat luas di manca negara. Apalag industri sektor makanan ringan menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Harga saham MAXI sejak awal tahun ini hingga 14 Juni 2024 (year to date) stagnan di Rp50/lembar. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved