Trends

Generasi Milenial yang Bertani Semakin Atraktif

Ilustrasi petani. (dok Pupuk Kaltim)

swa.co.id, Jakarta - Eratani, perusahaan agritech mencatatkan peningkatan signifikan dalam partisipasi petani milenial dengan rata-rata mencapai 25,98%. Minat petani milenial terhadap Eratani didorong oleh inovasi-inovasi yang memudahkan proses budidaya, mulai dari akses pendanaan, pendampingan agronomis, penerapan teknik pertanian modern, hingga akses pasar yang lebih luas.

Eratani mendukung pemerintah dalam memberdayakan generasi milenial melalui penyediaan platform yang terintegrasi untuk kebutuhan budidaya padi dari hulu hingga hilir. Saat ini, rata-rata 25,98% dari total petani yang bermitra dengan Eratani adalah generasi milenial.Petani milenial ini tersebar di area operasional perusahaan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Persentase ini mengindikasikan tingginya minat generasi muda terhadap inovasi pertanian yang lebih efektif dan produktif. “Eratani meyakini petani milenial adalah kunci untuk masa depan pertanian yang lebih cerah di Indonesia. Dengan inovasi yang kami tawarkan, kami berharap dapat menarik lebih banyak minat dari generasi milenial untuk terlibat aktif memajukan sektor pertanian di Indonesia,” kata Adwin Pratama Anas, VP Operations Eratani pada Rabu (19/6/2024).

Berdasarkan hasil Pencacahan Lengkap Sensus Pertanian yang dipublikasikan pada Desember 2023, jumlah unit usaha pertanian perorangan di Indonesia mencapai 29.342.202 unit. Mayoritas usaha pertanian dikelola oleh petani berusia 43-58 tahun, atau generasi X, yang mencakup 42,39% dari jumlah total petani tersebut. Selanjutnya, petani dari generasi baby boomer yang berusia 59-77 tahun itu mencapai 27,61%, dan petani milenial (berusia 27-42 tahun) sebesar 25,61%. Kondisi tersebut mengancam keberlanjutan sektor pertanian di Indonesia karena jumlah petani generasi penerus relatif lebih kecil dan tidak seimbang.

Pekerjaan sebagai petani akhir-akhir ini cenderung ditinggalkan oleh generasi muda. Penelitian menunjukkan bahwa pekerjaan sebagai petani dipandang sebagai pekerjaan yang terbelakang dan tradisional serta kurang diminati karena dianggap kasar, kotor, bekerja di bawah terik matahari, dengan keuntungan yang tidak terlalu tinggi meskipun resikonya tinggi. Keberlanjutan sektor pertanian sangat bergantung pada generasi muda yang diharapkan memiliki kemampuan yang lebih baik dari pendahulunya. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved