Capital Market & Investment

Pasar Saham Cenderung Lesu, Saham Berkapitalisasi Besar Terkoreksi dan Harganya Murah

M. Adityo Nugroho, Senior Investment Information Mirae Asset. (dok Mirae)

Kondisi pasar saham di pertengahan tahun 2024 dinilai akan terbantu oleh kinerja keuangan emiten seiring dengan musim pengumuman laporan keuangan emiten kuartal kedua yang dipublikasikan pada Juli tahun ini. Hingga mendekati penghujung semester I/2024, kinerja pasar saham masih lesu lantaran level indeks harga saham gabungan (IHSG) masih terkoreksi sekitar 7% yang penyebabnya antara lain karena investor asing mengambil aksi jual bersih (net foreign sell) di pasar reguler dan negosiasi senilai Rp10 triliun sejak awal tahun (di pasar reguler investor asing sudah nett sell Rp20 triliun).

Meski demikian, nilai transaksi di pasar saham yang sudah mencapai Rp1.200 triliun hingga Kamis pekan ini di atas pencapaian semester I tahun lalu sebesar Rp1.180 triliun. Memasuki kedua, perekonomian global masih diliputi oleh ketidakpastian kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed). Ketidakpastian ini bisa berdampak kepada likuiditas serta suku bunga perbankan.

Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset, mengatakan makro ekonomi yang kuat serta stabilitas politik Indonesia yang terjaga akan menyangga pasar saham dan pasar keuangan Indonesia . Kondisi pasar keuangan terpapar beragam sentimen, semisal kebijakan Bank Indonesia (BI) bakal menahan BI rate pada level 6,25%. Jika suku bunga dinaikkan maka dampaknya kurang kondusif terhadap perekonomian dalam negeri. “Namun, kami meyakini dengan makroekonomi yang kuat serta stabilitas politik yang lebih kondusif dibandingkan negara lain maka kinerja pasar keuangan dan pasar saham Indonesia akan tetap kuat," ujar Nafan di Jakarta, Kamis (20/6/2024).

Pelaku pasar mengamati kebijakan suku bunga acuan. "Kami merekomendasikan 10 saham pilihan kepada nasabah dan publik. Secara teknikal, kami merekomendasikan BBCA, BRIS, BSDE, ELSA, INDF, KLBF, MDKA, MEDC, TBIG, dan UNVR seiring dengan musim laporan keuangan bulan ini hingga bulan depan,” ujar Nafan.

M. Adityo Nugroho, Senior Investment Information Mirae Asset, menyatakan arus modal asing yang keluar maka pasar saham masih berpotensi tertekan pada jangka pendek. Koreksi di pasar saham Indonesia memberikan peluang kepada investor untuk mengakumulasi beli bertahap di harga yang relatif murah pada saham berkapitalisasi besar dan kinerja fundamentalnya tetap tumbuh. “Dengan demikian, secara fundamental, saham-saham perusahaan berkapitalisasi besar yang sudah terkoreksi cukup dalam dari sektor perbankan, otomotif, dan telekomunikasi dapat menjadi pilihan untuk nasabah dan publik saat ini,” ucapnya. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved