Trends

Kekhawatiran pada Melonjaknya Saham Raja Chip AI

Nvdia menjadi Most Valuable Company di pertengahan Juni 2024 (Dok. Glassdoor)

Awal pekan kedua Juni 2024, Nvidia mencapai tonggak sejarah tertinggi. Kapitalisasi pasarnya mencapai US$3,3 triliun, melampaui Microsoft dan Apple. Ini menjadikannya perusahaan paling berharga di dunia. Sebagai pembanding, collective value seluruh saham di Inggris adalah US$3,18 trillion menurut Bloomberg.

Sungguh ini lompatan yang luar biasa. Satu tahun lalu, Juni 2023, kapitalisasi pasar Nvidia baru mencapai US$1 triliun untuk pertama kalinya. Pada 1 Maret 2024, kapitalisasinya melampaui US$2 triliun, dan lebih dari tiga bulan kemudian, melebihi US$3 triliun. Awal minggu ini, dengan saham US$135,58 per lembar, kapitalisasi pasar Nvidia melonjak melampaui Microsoft dan Apple, menjadikan produsen chip ini perusahaan paling berharga di dunia (most valuable company).

Tapi jangan keliru...

Ini semua karena chip AI. Nvidia meraih pendapatan yang luar biasa dari bisnis chip AI mereka pada tahun fiskal 2024. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis oleh Nvidia, pendapatan dari pusat data yang didorong oleh chip AI mencapai rekor US$18,4 miliar pada kuartal keempat tahun fiskal 2024, meningkat 409 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, pendapatan pusat data untuk tahun fiskal 2024 mencapai US$47,5 miliar, yang menunjukkan peningkatan 217 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan yang signifikan ini mencerminkan lonjakan permintaan global untuk komputasi yang dipercepat dan AI generatif, dengan banyak perusahaan teknologi besar seperti Meta, Google, Microsoft, dan Amazon menggunakan chip Nvidia untuk mendukung infrastruktur AI mereka. Nvidia juga memperkirakan lonjakan pendapatan lebih dari 100 persen untuk kuartal saat ini, menyoroti permintaan yang terus berlanjut untuk chip AI mereka.

Mundur ke belakang…

Pada 24 Mei 2023, ketika kapitalisasi pasar Nvidia berada sekitar $750 miliar, produsen chip tersebut mengumumkan hasil untuk kuartal fiskal pertama tahun 2024. Pendapatan naik 19 persen, laba bersih meningkat 26 persen.

Saat itu, semuanya tampak positif, namun tidak luar biasa. Prediksi perusahaan untuk kuartal kedua yang memperkirakan lonjakan pendapatan sebesar 65 persen, serta pernyataan CEO Jensen Huang, memicu salah satu reli pasar saham yang paling luar biasa.

"Industri komputer sedang mengalami dua transisi simultan – komputasi yang dipercepat dan AI generatif," kata Huang saat itu. "Satu triliun dolar infrastruktur pusat data global yang terpasang akan beralih dari komputasi tujuan umum ke komputasi yang dipercepat saat perusahaan berlomba untuk menerapkan AI generatif ke setiap produk, layanan, dan proses bisnis."

Apa yang didengar para investor adalah bahwa Nvidia berada di garis depan dari peluang senilai triliunan dolar. Maka, mereka pun menyebu lantai bursa, dan segera membuat harga saham perusahaan melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Keesokan harinya, Nvidia meraih hampir US$200 miliar ke kapitalisasi pasarnya dan itu baru permulaan, sampai akhirnya melewati Microsotf dan Apple.

Huang memang telah menjadikan ribuan CEO sebagai optimis teknologi, dengan trik seperti robot berbicara dan komputasi dengan kekuatan besar yang menggantikan intuisi manusia. Konferensi pengembang terbaru Nvidia juga dengan cepat menjadi seperti "AI Woodstock," dipenuhi dengan demonstrasi dan klaim yang belum ada di pasar.

Meskipun hanya waktu yang akan membuktikan apakah valuasi Nvidia saat ini masuk akal, yang pasti adalah kapitalisasi pasar senilai US$3,34 triliun ini lebih didasarkan pada harapan pertumbuhan di masa depan daripada hasil saat ini.

Mengapa demikian?

Kendati pendapatan dan laba Nvidia meningkat pesat dalam setahun terakhir, angkanya masih jauh di bawah pendapatan perusahaan seperti Apple dan Microsoft yang telah konsisten melaporkan angka lebih tinggi selama beberapa tahun terakhir.

Pendapatan Nvidia untuk empat kuartal fiskal terakhir mencapai US$79,8 miliar, yaitu 21 persen dari pendapatan Apple dan 34 persen dari pendapatan Microsoft. Dalam hal laba bersih, Nvidia lebih mendekati angka-angka tersebut dengan US$42,6 miliar, setara dengan 42 persen dari laba bersih Apple dan 49 persen dari laba bersih Microsoft.

Nvidia unggul dalam hal margin kotor sebesar 78,4 persen pada kuartal terakhir (dibandingkan dengan 46,6 persen untuk Apple dan 70,1 persen untuk Microsoft) dan pertumbuhan saat ini. Pendapatan Nvidia tumbuh 208 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara Apple mengalami pertumbuhan negatif 1 persen dan Microsoft tumbuh 14 persen. Nvidia memperkirakan lonjakan pendapatan lebih dari 100 persen untuk kuartal ini. Namun tantangannya adalah: seberapa lama perusahaan dapat mempertahankan laju pertumbuhan ini atau permintaan luar biasa untuk chip-nya?

Ini adalah pertanyaan besar yang menanti jawaban. Yang pasti, kenaikan harga saham membuat kekayaan Jensen Huang, sang pendiri Nvidia melejit jadi Rp 1.939 triliun. Namun, yang menarik, Huang disebut-sebut tidak serta merta bahagia dengan situasi ini.

Lah, kok bisa?

Di tengah kebanggaannya, Huang disebut-sebut juga merasa khawatir. Dia takut kenaikan saham Nvidia hingga 174% sepanjang tahun – sementara saham teknologi besar lainnya 10%-20% – juga bisa jadi sumber masalah di kemudian hari. Memang, saham Nvidia naik sejalan pendapatannya yang meningkat, mencerminkan permintaan yang kuat untuk chip AI. Tetapi jika perusahaan teknologi besar yang membeli chip-nya utuk arsitektur AI-nya tidak mendapat kemajuan bisnis, maka bisa jadi penjualan dan harga saham merosot. Huang tahu, semakin tinggi Nvidia naik, semakin keras juga kemungkinan jatuhnya. Hadeuuuh....!

Kekhawatiran ini sesuatu yang wajar karena setiap teknologi baru akan melewati apa yang disebut Gartner sebagai siklus hype. Generative AI sekarang berada di puncak ekspektasi. Bukan hal yang mustahil jika akan muncul penurunan sehingga memasuki "lembah kekecewaan".

Analis yang hati-hati mengingat bagaimana gelembung Internet Meletus. Itu terjadi pada 10 Januari 2000, ketika Time Warner "membeli" AOL. Saat itu AOL begitu dinilai terlalu tinggi sehingga memiliki 55% dari perusahaan hasil penggabungan tersebut. Pada saat itu, valuasi aset Internet mencapai puncaknya. Tapi akhirnya, bum… meledak!

So, di balik kekaguman ini, tetap ada kecemasan. Banyak perusahaan berinvestasi pada AI sehingga membeli chip keluaran Nvidia. Tapi semua masih menanti bagaimana realisasi tingkat pengembaliannya ke dalam bottom line masing-masing. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved