Management

Reklamasi Progresif, Strategi MDKA Ciptakan Warisan Hijau

Petugas tengah melakukan pemeriksaan terhadap bibit di rumah persemaian tanaman PT BSi di Tambang Tujuh Bukit, Banyuwangi. (dok PT BSI)

PT Merdeka Copper Gold (MDKA) memiliki kegiatan tambang di beberapa wilayah di Indonesia, salah satunya Tambang Emas Tujuh Bukit di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, yang dioperasikan anak usahanya, PT Bumi Suksesindo (BSI). Lokasi kegiatan berjarak 60 km arah barat daya pusat pemerintahan Kabupaten Banyuwangi, dan 205 km arah tenggara pusat pemerintahan Provinsi Jawa Timur. Luas wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) Operasi Produksi yang dimiliki oleh BSI adalah 4.998 ha.

Kegiatan pertambangan sungguh rawan akan kerusakan lingkungan. Karena itu, perusahaan yang akan melakukan eksplorasi diwajibkan mempunyai rencana-rencana pengelolaan lingkungan yang komprehensif, termasuk reklamasi atau penutupan lahan usai ditambang. Beberapa aturan terkait telah lahir, di antaranya Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2010 tentang Reklamasi dan Pascatambang, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.50/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2016 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan dan pembaharuannya Peraturan Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 7 tahun 2021, Peraturan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral No. 26 Tahun 2018 serta Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 1827 K/30/MEM/2018.

Lalu, bagaimana BSI menjalankannya?

Doni Roberto ENV Manager PT BSI mengungkapkan dalam menjalankan operasi pertambangan pihaknya telah mendapatkan IUP OP seluas 4.999 Ha, IPPKH OP seluas 993 Ha, Persetujuan Studi Kelayakan (FS) addendum #6 (2022), Persetujuan Lingkungan - AMDAL addendum #7 (2022), Persetujuan Rencana Reklamasi 2020-2024 seluas 34.75 Ha dan Persetujuan Rencana Penutupan Tambang 2026-2029 seluas 559 Ha.

“Kami memberikan jaminan reklamasi ke pemerintah Rp78,1 miliar berdasarkan pembukaan lahan periode 2015-2019, Rp4,8 miliar berdasarkan rencana reklamasi periode 2020-2024 dan jaminan pascatambang Rp127,6 miliar berdasarkan rencana reklamasi pascatambang periode akhir 2025-2029,” kata Doni dalam Journalist Workshop di Jakarta, Rabu (8/5/2026).

Menariknya, di Tambang Emas Tujuh Bukit, BSI menggunakan strategi reklamasi progresif. Apa artinya?

Kegiatan penanaman kembali atau reklamasi ini tidak harus menunggu penutupan tambang. Dengan demikian, lingkungan hutan yang menjadi rumah bagi satwa di Tujuh Bukit tetap terjaga. Perlu diketahui Tambang Emas Tujuh Bukit merupakan kawasan tambang terbuka yang menggali bijih mineral dan mengekstraksi kandungan emas dan perak, dengan metode pelindian yang efisien.

Tahapan Reklamasi

Pertama, saat pembukaan lahan, tanah bukaan akan diselamatkan lalu ditata untuk nanti digunakan kembali untuk reklamasi dan bibit-bibit dari lahan yang dibuka juga diselamatkan. Penatagunaan lahan bertujuan untuk mendapatkan lahan yang stabil dengan penampakan yang menyatu dengan kontur alami area sekitarnya.

Dalam penatagunaan lahan mencakup kegiatan penataan lahan, di mana desain timbunan penutup disesuaikan kajian teknis dengan memperhatikan aspek kestabilan lereng mengacu kepada KepMen ESDM No. 1827 K/30/MEM/2018 dengan kemiringan lereng 2H:1V. Lalu penebaran tanah zona pengakaran, pembuatan saluran air permukaan dan underdrain bagian dari desain timbunan batuan penutup.

Tahap kedua adalah pembibitan dan penanaman. Pembibitan bertujuan untuk menyediakan bibit tanaman guna memenuhi kebutuhan reklamasi. PT BSI memiliki persemaian dengan kapasitas produksi ±20.000 bibit tanaman per tahun, pembibitan ±55 jenis tanaman dengan komposisi ±30 jenis lokal. Ada tiga jenis bibit yang ditanam di antaranya Pionir yakni Sengon laut, Buto, Johar, Trembesi, jeni lokal yakni Bayur, Jabon, Kedawung, Apak (Ficus), Pluncing, Kepuh, Salam, Jambu hutan, Bungur (Ketangi), Laban, Munung, Kemiri, Beringin, dll serta jenis lain seperti Mahoni, Nyamplung, Angsana, Nangka, Duwet, Jambuan, dll.

Sementara itu penanaman bertujuan untuk menstabilkan permukaan area reklamasi, mengendalikan erosi, menghasilkan keragaman vegetasi dan mendukung pembentukan lahan pascatambang. Jenis cover crops yang ditanam rumput lokal seperti tuton, kolonjono, lulangan, merakan, dll, Legume seperti centrosema, siratro, kacang hijau, dan Starter seperti millet, gogo rancah.

“Kenapa bukan tanaman produksi seperti buah-buahan yang banyak ditanam? Karena pemilihan tanaman yang akan ditanam di lokasi reklamasi sesuai dengan kondisi awalnya, sehingga nanti saat reklamasi rampung diharapkan ekosistem lingkungannya pun kembali seperti sebelum operasi pertambangan dilakukan. Tanaman buah tetap ada karena untuk makanan satwa yang nanti akan mendiami kawasan,” ungkap Doni.

Setelah penanaman, pohon-pohon harus terus dipelihara dan dimonitoring, agar perkembangannya tetap terjaga. Sebaliknya, jika tanaman-tanaman mati, maka reklamasi akan gagal dan bisa menyebabkan perusahaan terkena sanksi atau cost lingkungan yang membengkak. Kegiatan pemeliharaan dan monitoring meliputi pemupukan tanaman, pengendalian gulma, hama dan penyakit, penyulaman tanaman mati, pemantauan pertumbuhan tanaman dan analisis kesuburan tanah.

Mengacu pada dokumen rencana reklamasi yang telah disetujui Kementerian ESDM, PT BSI memiliki kinerja reklamasi yang sesuai atau bahkan melebihi target. Sebanyak 71,54 Ha lahan direklamasi tahun 2016 - 2023, 42,83 Ha Reklamasi 5 tahun tahap ke-1 (2015-2019) dengan tingkat keberhasilan 100%, 28,71 Ha Reklamasi 5 tahun tahap ke-2 (2020-2024), reduksi GHG 585,43 tCO2e per tahun dari kemajuan reklamasi seluas 71,54 Ha dengan populasi vegetasi sebanyak 61.623 pohon, jarak tanam pohon 4x4 meter.

Tabel kemajuan area reklamasi PT BSI. (source PT BSI)

Untuk pengelolaan pendukung reklamasi, BSI membuat kolam pengendapan dan saluran permukaan/ drainase terintegrasi, perangkap sedimen (rock check dam/brush fence, rip rap, drop structure) dan dilakukan pengangkatan endapan sedimen secara berkala. Proses reklamasi hingga lahan kembali tertutup memakan waktu dua sampai empat tahun.

Urgensi ESG dan Manfaatnya bagi Perusahaan

Reklamasi atau penutupan kembali lahan pascatambang merupakan salah satu praktik dalam komitmen ESG (Environmental, Social and Governance). ESG adalah praktik (kebijakan, prosedur, metrik, dll.) yang diterapkan perusahaan untuk membatasi dampak negatif dan/atau meningkatkan dampak positif terhadap lingkungan, masyarakat, dan tata kelola perusahaan.

GM Corporate Communication MDKA, Tom Malik mengatakan dalam beberapa tahun terakhir, pemangku kepentingan, terutama investor perusahaan semakin sadar akan pentingnya kriteria ESG dalam menilai perusahaan. ESG dapat meningkatkan kemampuan perusahaan untuk menciptakan dan mempertahankan nilai jangka panjang dalam kondisi yang berubah dengan cepat dan mengelola risiko dan peluang yang menyertainya.

“Kenapa ESG itu penting? Karena kinerja ESG digunakan oleh pemangku kepentingan untuk memahami dampak kegiatan usaha perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat serta mengevaluasi perilaku perusahaan di luar kinerja keuangan. Investor dan pemangku kepentingan lainnya menuntut perusahaan untuk mengungkapkan lebih banyak informasi tentang kegiatan keberlanjutan dan strategi lingkungan, sosial, dan tata kelola-nya juga ESG itu untuk mendapatkan kredibilitas dan membangun kepercayaan,” ujar Tom.

Selain untuk meraih kepercayaan, ESG juga bisa turut andil dalam mendongkrak kinerja suatu perusahaan. Dalam laporan PwC's 18th Annual Review of the Top 40 Mining Companies 2021 diungkap bahwa perusahaan-perusahaan tambang yang lebih ramah lingkungan memberikan rata-rata total imbal hasil bagi pemegang saham sebesar 34% selama 3 tahun terakhir (2019-2021) atau 10 poin lebih tinggi dibandingkan dengan indeks pasar umum. Laba bersih di sektor ESG naik sebesar 15%, cash on hand naik 40%, dan kapitalisasi pasarnya juga naik hampir dua pertiga menjadi US$1,46 triliun.

“Kami berkomitmen terhadap ESG dan memahami dampak pertambangan terhadap lingkungan. Pendekatan dan kebijakan lingkungan Merdeka bertujuan untuk melindungi lingkungan dan meminimalkan konsekuensi lingkungan dari operasi tambang. Merdeka berkomitmen untuk terus menerapkan praktik pengelolaan lingkungan yang efektif untuk memahami risiko lingkungan, melestarikan lingkungan, dan mencegah pencemaran,” kata Presiden Direktur MDKA, Albert Saputro kepada swa.co.id.

MDKA memang ingin tidak hanya menambang kekayaan alam, tetapi juga menanam masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Dengan komitmen terhadap prinsip-prinsip ESG, mereka ingin kegiatan pertambangan dapat dilakukan secara bertanggung jawab, menggabungkan keberlanjutan dan profitabilitas. Dan melalui reklamasi progresif dan pengelolaan lingkungan yang ketat, MDKA berharap dapat membantu menjaga kelestarian alam Indonesia. Apa yang mereka tanam hari ini, diharapkan akan tumbuh menjadi hutan-hutan baru, mengembalikan ekosistem yang kaya dan melestarikan keindahan alam bagi generasi mendatang. Sebuah warisan hijau yang berharga. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved