Entrepreneur

Jurus Kenji Besarkan Crystal of the Sea di Bisnis Bubuk Ikan

Kenji Kusuma, inovasinya mengantarkan bisnis Crystal of the Sea berkembang baik (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)

Kenji Kusuma boleh saja serius menjalani pendidikan di bidang Fisika Programming di Jepang. Namun, bisnis yang ditekuninya ternyata tak jauh dari bidang yang sebelumnya digeluti kakek dan ayahnya, yakni bidang yang terkait dengan hasil laut.

Kenji merupakan Co-Founder Crystal of the Sea, perusahaan di bidang pengolahan hasil laut, khususnya produk olahan ikan laut berbentuk bubuk (food powder). Ia mendirikan perusahaan ini –yang memiliki nama resmi PT Urchindize Indonesia– bersama mitranya, Stella Hartanto, yang dikenal ahli di bidang pemasaran dan pengembangan merek. Sebelum bermitra, Stella punya pengalaman mengorbitkan tiga merek, yakni produk mainan (toys), aksesori pernikahan, dan aksesori bayi.

Modal awal perusahaan anyar ini Rp 100 juta, dibagi berdua. Di perusahaan rintisan ini, Kenji memegang tanggung jawab di bidang manufacturing dan SDM (HR). Adapun Stella menangani marketing.

Yang pasti, bisnis hasil laut memang bukan hal baru bagi Kenji. Kakeknya mendirikan perusahaan makanan laut. Ayahnya, sebagai generasi kedua, mengembangkan bisnis ini dengan membangun pabrik-pabrik pengolahan, setelah berhasil menarik minat investor Jepang.

Sebelum mendirikan Crystal of the Sea, Kenji sempat bekerja di Singapura setelah menamatkan program pendidikan MBA di Jepang. Setelah satu tahun bekerja, ia diminta pulang oleh ayahnya ke Indonesia dan diberi modal untuk menjalankan bisnis ekspor hasil laut ke Jepang. Di tahun 2011, ia mulai mengelola bisnis ekspor ikan teri ke Jepang.

Di masa-masa Kenji menikmati perannya ini, ayahnya mengingatkan bahwa sebagai anak muda, ia seharusnya jangan puas seperti itu saja. “Harus bisa membuat terobosan yang sesuai dengan tren di zaman modern,” ujarnya menirukan ucapan ayahnya. “Waktu itu saya sempat mencoba, tetapi bingung karena belum memiliki kompetensinya,” ujarnya lagi.

Hingga suatu ketika di Surabaya, tahun 2019, Kenji bertemu dengan kawannya ketika masih bekerja Singapura. Sang kawan, yang belum lama melahirkan, menceritakan bahwa ia rutin membeli produk bubuk ikan teri dari Singapura, yang membuat anaknya mau makan. Karena tahu Kenji berbisnis ikan teri, dia menanyakan apakah perusahaan Kenji dapat membuat bubuk teri seperti itu.

“Dengan percaya diri saya jawab ‘bisa’ karena kelihatannya gampang. Namun, ternyata saya butuh waktu sembilan bulan untuk mengetahui cara mengolahnya,” ungkapnya.

Inilah bidang yang kemudian menjadi garapan bisnis Crystal of the Sea. Sejak awal Kenji memilih menggunakan bahan baku ikan teri grade tinggi, yakni yang biasa diekspor ke Jepang. Namun, sejak tahun kedua grade bahan bakunya dinaikkan, yakni lebih bagus daripada kualitas ekspor.

Awalnya, ia membuatnya dengan menggunakan oven di rumah. Produknya kemudian diuji coba di kalangan keluarga. Sekarang ia sudah memiliki laboratorium dan pabrik.

Kenji menjelaskan, produk bubuk ikan ini membantu kalangan ibu untuk kreatif dalam menyiapkan menu buat anaknya. Ia mengklaim produknya lebih baik daripada ikan teri kering di pasar (yang dibuat dengan tujuan pengawetan).

Produk bubuk ikan perusahaannya ini, selain kering, juga tak menggunakan garam, sehingga ia sebut lebih baik. Bukan itu saja, selain menyediakan produk dengan gizi dan nutrisi yang baik, pihaknya juga memperhatikan aspek keamanan pangan.

Tujuan utama perusahaannya ialah meningkatkan kualitas hidup keluarga Indonesia, terutama kalangan ibu hamil, ibu menyusui, hingga si kecil yang mulai mengonsumsi makanan pendamping air susu ibu (MPASI). “Supaya anak-anak dan keluarga Indonesia dapat memenuhi kebutuhan nutrisi yang optimal dari kebaikan hasil laut,” katanya.

Ia mencontohkan, salah satu produk andalannya, produk bubuk ikan teri, terbuat dari 100% hasil laut murni dan kaya unsur Omega-3 (DHA), protein, kalsium, dan vitamin B6.

Namun, di masa awal itu, menjual produknya tidak mudah. Pada tiga hari pertama tidak ada penjualan. Lalu, Stella menjual ke teman-teman mertuanya. Crystal juga menjual melalui Shopee dan Tokopedia. Di bulan pertama itu, penjualannya hanya Rp 6 juta.

Setelah itu, Crystal berupaya mendekati kalangan key opionion leaders (KOL). Penjualan mulai meningkat. Nah, di bulan ketiga, pandemi melanda Tanah Air. Pandemi ini mengubah perilaku masyarakat. Antara lain, mereka memilih pola makan yang lebih sehat, terutama di kalangan anak-anak. “Saat itu, penjualan kami naik tinggi,” ujar Kenji.

Kebetulan, ia memiliki stok alkohol cukup banyak untuk kebutuhan pabrik. Ia pun mengarahkan stok itu untuk dijadikan hand sanitizer. Crystal kemudian memberikan produk hand sanitizer ini untuk setiap pembelian produk. “Penjualan kami naik tiga kali lipat, dan setelah itu penjualan naik terus hingga sekarang,” katanya.

Saat ini, Crystal of the Sea telah memiliki 16 varian produk. Antara lain, bubuk ikan teri nasi, ikan teri nasi kering, bubuk teri jengki, bubuk kerang tiram, bubuk udang rebon, bubuk rumput laut, bubuk ikan gabus, snack ikan teri almond kering, kaldu bubuk udang, nugget tempe teri wortel, fish broth dari ikan gabus, bubuk rumput laut murni, bubuk jamur shitake, dan kaldu bubuk ikan salmon.

Untuk inovasi produk, diakui Kenji, pihaknya belum melakukan semacam proses R&D. Biasanya idenya dari hasil perjalanan, misalnya ke pameran di luar negeri atau ketika mengunjungi konsumen.

Ia mencontohkan, produk yang baru diluncurkannya, Encovy Chips, bermula dari pameran di Jepang, kemudian mengunjungi konsumen di desa kecil, ternyata ada toko bayi yang menyediakan makanan seperti itu. “Kami membawanya ke pabrik dan memikirkan bagaimana membuat produk ini,” ungkap Kenji, yang mengakui ternyata pengembangannya tidak bisa cepat juga.

Kendati begitu, hasilnya nyata. “Ternyata ini menjadi produk kami yang hit. Sekarang penjualannya sudah mencapai 3.000 piece per bulan,” ungkapnya. “Inilah contoh inovasi dari luar negeri untuk pasar dalam negeri.”

Crystal of the Sea juga mendiversifikasi produk ke produk non-seafood. “Kami sudah meluncurkan produk (berbahan) jamur shitake dan wortel,” ungkapnya.

Enam bulan setelah meluncur –kala itu sedang masa Covid-19– produk ini dijual di Singapura, dengan menggandeng KOL di sana. “Kami ingin membuktikan bahwa produk ini juga layak dan disukai di Singapura,” katanya. Setelah ke Singapura, produk ini kemudian juga diekspor ke Vietnam, Jepang, China, Taiwan, dan Amerika Serikat.

Inovasi yang dilakukan Crystal of the Sea bukan hanya dari segi produk, tapi juga proses bisnisnya. Misalnya, dari sisi produksi/manufacturing-nya, perusahaan ini sudah menggunakan aneka tools untuk menjaga aspek food safety-nya. Di antaranya, dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI), perusahaan pengolahan ikan ini mengembangkan sistem yang dapat mendeteksi kotoran –kerang, rambut, dll.– ketika berada di ban berjalan (conveyor), sehingga membantu proses kontrol mutu (quality control).

Perusahaan yang diperkuat oleh sekitar 200 karyawan ini memiliki kapasitas produksi 800 ton per tahun. Dari segi produk, perusahaan ini memproduksi 50 ribu piece produk per bulan. Bahan baku produknya hampir 100 persen dipasok oleh para nelayan dari Pulau Jawa dan Makassar.

Distribusi produk perusahaan ini diklaim sudah menjangkau seluruh provinsi, dan sudah bisa dijumpai di toko-toko di Indonesia. “Kami tidak punya distributor, jadi distribusi secara direct dari kami,” ujar Kenji.

Kisah sukses Crystal of the Sea bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga tentang inovasi. Mereka tidak hanya menciptakan produk baru berbahan dasar hasil laut, tetapi juga mengembangkan proses bisnis yang lebih efisien dengan menggunakan teknologi AI untuk memastikan kualitas dan keamanan produk. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved