Trends

Selamat Jalan Manajer Rp1 Miliar

Perjalanan itu akhirnya terhenti. Anak kelahiran Selayar, Sulawesi Selatan, 7 Maret 1942, ini menutup mata pada 23 Juni 2024. Selain dikenal sebagai seorang pengusaha sukses, Tanri Abeng adalah sosok dengan jejak karier cemerlang di bidang pemerintahan. Dia menjabat Menteri Negara Pendayagunaan Badan Usaha Milik Negara pada era pemerintahan Presiden Soeharto dan BJ Habibie.

Rekam jejaknya terentang panjang. Setelah menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang, Tanri melanjutkan studi ke University of New York, Buffalo, Amerika Serikat, untuk meraih gelar Master of Business Administration (MBA). Semasa kuliah, dia telah menunjukkan kecemerlangan dengan bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan eksportir dan mengajar bahasa Inggris di sebuah SMA.

Setelah berhasil meraih gelar MBA, Tanri bergabung dengan Union Carbide. Dari posisi management trainee di Amerika Serikat, dalam waktu yang relatif singkat, lelaki berkumis ini berhasil meraih posisi sebagai direktur keuangan dan Corporate Secretary di perusahaan multinasional tersebut.

Manajer Rp1 Miliar

Pada tahun 1979, Tanri memutuskan bergabung dengan PT Perusahaan Bir Indonesia (sekarang Multi Bintang Indonesia) dan kemudian menjabat sebagai CEO (Chief Executive Officer) di perusahaan tersebut. Dalam perjalanan karier di Multi Bintang Indonesia, Tanri mulai menyita perhatian dunia bisnis nasional sebagai eksekutif jempolan. Dia berhasil mengukir prestasi dengan restrukturisasi perusahaan hingga menjadi perusahaan publik.

Tak heran, Aburizal Bakrie pun kepincut. Pada tahun 1991, Tanri melanjutkan kariernya di Bakrie Brothers. Di Bakrie, dia pun menorehkan tinta emasnya. Dia berhasil melakukan restrukturisasi dan profitisasi perusahaan.

Di bawah kepemimpinan Tanri, Bakrie & Brothers berkembang pesat dengan memiliki sekitar 60 anak usaha. Saat memasuki perusahaan, dia segera melakukan restrukturisasi dengan memfokuskan perusahaan pada tiga industri utama: telekomunikasi, dukungan infrastruktur dan perkebunan, serta investasi dan aliansi strategis di bidang pertambangan, petrokimia, dan konstruksi. Keputusan strategis ini membawa perubahan positif, dan Tanri dijuluki "Manajer Rp1 Miliar" karena dibayar mahal untuk kemampuan manajerialnya yang mengundang pujian itu.

Dengan reformasi yang dilakukan Tanri, kinerja Bakrie & Brothers meningkat signifikan. Jika pada awalnya penjualan perusahaan hanya sekitar US$50 juta AS per tahun, namun pada akhir 1996, penjualan perusahaan melonjak menjadi US$700 juta AS. Keberhasilan ini menunjukkan betapa efektifnya strategi manajemen yang diterapkan oleh Anak Selayar ini dalam mengelola perusahaan.

Selain sukses di dunia bisnis, Tanri juga aktif dalam berbagai organisasi pemerintahan dan LSM, seperti Komisi Pendidikan Nasional, Badan Promosi Pariwisata, Dana Mitra Lingkungan, Asosiasi Indonesia Inggris, Institut Asia-Australia, Yayasan Mitra Mandiri, dan lain-lain.

Puncak dari karier pemerintahannya adalah saat diangkat menjadi Menteri Negara Pendayagunaan Badan Usaha Milik Negara pada Kabinet Pembangunan VII pemerintahan Soeharto tahun 1998. Peranannya sebagai Menteri Negara Pendayagunaan BUMN tetap dipertahankan dalam Kabinet Reformasi di masa pemerintahan B.J. Habibie.

Setelah tidak menjabat sebagai menteri, Tanri memanfaatkan waktunya untuk mengembangkan pemikiran dan pendidikan manajemen. Dia juga menuangkan pemikirannya dalam buku berjudul 'Dari Meja Tanri Abeng: Managing atau Chaos', yang diterbitkan Pustaka Sinar Harapan pada tahun 2000. Lalu mendirikan Tanri Abeng University untuk menularkan pemikirannya seputar manajemen serta kepemimpinan sekaligus merekrut putra-putri terbaik.

Pemikiran Progresif

Semasa menjabat Menteri BUMN, ada satu hal yang menonjol: pemikiran Tanri begitu progresif. Dia percaya pada dua hal yang mesti dilakukan, yakni profitisasi dan privatisasi. Dia juga getol mendorong holdingisasi. Menurutnya, gagasan membentuk holding BUMN (holdingisasi) sudah tak bisa ditawar-tawar lagi. Sebagai entitas bisnis, perusahaan pelat merah mesti menghadapi persaingan ketat seiring dimulainya era perdagangan bebas di kawasan ASEAN (MEA) mulai akhir tahun ini. Gagasan holdingisasi sejatinya sudah digulirkan saat Tanri memimpin Kementerian BUMN.

“Holdingisasi seperti konsep structural holding akan menciptakan kekuatan yang besar. BUMN yang ada di bawah holding bisa fokus ke downstream (hilirisasi). Holding juga berperan sebagai kekuatan untuk investasi, pendanaan, logistik, pemasaran, dan lainnya,” katanya kepada swa.co.id, Mei 2015.

Saat itu, Tanri menilai perkembangan BUMN saat ini sudah jauh lebih bagus. Bank Mandiri Tbk, hasil merger Bank Pembangunan Indonesia, Bank Bumi Daya, Bank Exim, dan Bank Dagang Negara; Bank Rakyat Indonesia Tbk, Bank Negara Indonesia Tbk, serta Bank Tabungan Negara Tbk sudah mampu unjuk gigi di industri perbankan Tanah Air meskipun sejumlah bank swasta besar kini dikuasai investor asing.

Kini, di tangan Menteri Erick Thohir, holdingisasi dijalankan begitu massif, dan terlihat hasilnya. Kementerian Badan Usaha Milik Negara mencatat laba konsolidasi perusahaan pelat merah pada 2023 sebesar Rp 292 triliun dengan dividen yang dihasilkan sejumlah Rp81 triliun dan mencatat rekor sebagai angka dividen tertinggi sepanjang sejarah BUMN.

Selain menyoroti perlunya holdingisasi, Tanri juga menyoroti kaderisasi serta pembinaan talenta unggul di BUMN. “(Pemimpin) masih belum cukup bagus karena belum ada yang kelasnya internasional. Tapi, sudah jauh lebih baik dibanding generasi yang dulu. Kita harus dorong BUMN sejajar dengan BUMN kelas dunia lainnya. Saya ingin dengan holding ada banyak CEO yang berkelas dunia,” katanya kepada swa.co.id, Oktober 2016.

Menurut dia, setiap BUMN harus melakukan kaderisasi. Talenta yang dihasilkan nantinya digabung ke national talent pool di masing-masing holding, seperti holding perbankan, perkebunan, dan telekomunikasi. Meski begitu, talenta yang ada nanti bisa ditukarkan antarsektor.

“Misalnya, dari sektor telekomunikasi ke infrastruktur bandara. Dari sektor perkebunan, pindah ke sektor pupuk. Bisa begitu karena leader itu lebih ke soft skill seperti manajerial dan leadership, bukan aspek teknis. Pertukaran ini justru menambah ilmu baru,” katanya.

Untuk menyiapkan talent pool, lanjut dia, struktur organisasi harus dibenahi. Kedua, manajemen pengelolaan talenta juga diperbaiki yang meliputi penilaian, proses promosi, hingga remunerasi. Terakhir adalah mengembangkan skill teknis dan nonteknis.

Talent pool akan lebih baik di tingkat holding persektor. Corporate university itu wadah untuk pembelajaran calon talent dan talent. Saya kira tidak perlu setiap BUMN punya coporate university. Corporate university itu tergantung bagaimana perusahaan mengelola karena butuh tenaga dan cost,” kata dia.

Yang menarik, pikiran-pikirannya yang progresif itu kini menjadi legacy yang dilakukan banyak BUMN. Mereka menggelar corporate university untuk mencetak talenta-talenta terbaik.

Tak bisa dipungkiri, profil Tanri Abeng menginspirasi banyak orang dengan perjalanan karier yang luar biasa dari dunia bisnis ke pemerintahan, serta dedikasinya dalam pengembangan pemikiran dan pendidikan manajemen serta kepeimpinan. Tanri Abeng selamanya akan dikenang sebagai salah satu tokoh yang berjasa dalam dunia bisnis dan pemerintahan Indonesia.

Orang bijak mengatakan: "Tidak ada yang dapat menggantikan kekosongan yang ditinggalkan oleh kematian seorang pemikir, tetapi warisannya akan terus memberikan cahaya bagi kita yang masih hidup."

Selamat jalan, Pak Tanri. Perjalananmu boleh terhenti, tapi pemikiran-pemikiranmu berlanjut. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved