Trends

Desa Energi Berdikari, Komitmen Pertamina pada Keberlanjutan

Desa Energi Berdikari, Komitmen Pertamina pada Keberlanjutan
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dan Vice President CSR & SMEPP Pertamina Fajriyah Usman membawa rombongan Pemred Media Massa untuk meninjau pelaksanaan program Desa Energi Berdikari di Desa Keliki, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. (Foto: Pertamina),

Program Desa Energi Berdikari (BED) PT Pertamina (Persero) yang dimulai sejak 2019 bertujuan untuk memberikan akses Energi Baru Terbarukan (EBT) maki masyarakt di desa. Program ini sebagai solusi atas tantangan kebutuhan energi masyarakat yang semakin meningkat, sekaligus merupakan komitmen Pertamina pada keberlanjutan (sustainability).

Dalam implementasinya, kata Vice President CSR & SMEPP Pertamina Fajriyah Usman, Pertamina berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat karena Pertamina meyakini energi bersih dan mudah diakses akan membuka jalan bagi pembangunan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat menuju kemandirian berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG’s) poin 7, 8 dan 13, serta target Pemerintah untuk mencapai net zero emission (NZE) sebelum tahun 2060.

Hingga saat ini, Pertamina telah menjalankan 85 program Desa Energi Berdikari Pertamina, yang terdiri dari 64 program energi Pembangkit listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan total energi terpasang 324.039 Wp (Watt-pekas), 12 program energi dari biogas dan methana dengan total energi terpasang 609.000 m3 ton, 6 program energi mikrohidro (total energi terpasang 28.000 watt, 2 program energi biodesel (total energi terpasang 5.500 L), dan1 program energi hybrid surya dan angin dengan total energi terpasang 16.500 Wp. Wp adalah satuan ukuran yang menyatakan daya maksimum yang dapat dihasilkan oleh modul surya.

Menurut Fajriyah, melalui program DEB, sebanyak 5.413 KK telah menerima manfaat dari program ini, dan terjadi peningkatan ekonomi senilai Rp 2,5 miliar per tahun. Di samping itu, program DEB juga berhasil menurunkan 729.127 tonCo2eq/tahun reduksi emisi karbon. Fajriyah menegaskan,

Salah satu desa yang menjadi tempat implementasi DEB adalah Desa Kaliki, yang pada 21 Juni 2024 lalu dikunjungi oleh Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dan beberapa orang direksi perusahaan sub-holding Pertamina dengan mengajak para pemimpin redaksi media massa. Desa Keliki merupakan salah satu desa di Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, dengan luas wilayah sekitar 250 hektar.

Fajriyah menjelaskan, hingga saat ini di Desa Keliki telah dipasang 7 titik solar PV dengan kapasitas 28 kWp untuk menjangkau 1.200 KK. Energi bersih tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan masyarakat desa seperti mengoperasikan Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), pembangunan eco-village, dan Agriculture berbasis energi baru terbarukan.

Ia menambahkan, implmentasi EBT di TPS3R adalah, listrik yang dihasilkan dari solar PV digunakan untuk operasional fasilitas TPS3R, dan ini mampu menghemat penggunaan listrik senilai Rp 21 juta per tahun. Selain itu, solar PV juga telah mendorong warga desa berinovasi untuk sawah irigasi menggunakan air tanah. Tercatat ada 7 Subak atau sistem pengairan khas Bali yang menggunakan energi terbarukan yakni Subak Tain Kambing, Subak Uma Desa Sebali, Subak Uma Desa Keliki, Subak Jungut , Subak Umelikode, Subak Bangkiangsidem dan Subak Lauh Batu.

Ketua BUMDES Keliki, I Wayan Sumada, menjelaskan perkembangan dan dampak dari pelaksanaan program Desa Energi Berdikari Pertamina terhadap ekonomi masyarakat Desa Keliki, Gianyar-Bali. (Foto: Pertamina)

“Dengan hadirnya energi terbarukan, masyarakat desa bisa berinovasi membuat kompos organik dari limbah domestik untuk pertanian, membangun desa ramah lingkungan dari solusi berbasis alam serta mengolah sampah untuk meningkatkannya nilai ekonomi,” ujar Fajriyah.

DEB Pertamina berbasis energi terbarukan di Desa Keliki merupakan yang terbesar di Indonesia. Menurut Fajriyah, pembangunan energi terbarukan di Desa Keliki merupakan komitmen Pertamina dalam menerapkan Environmental, Social & Governance (ESG) dan sekaligus mendukung implementasi SDGs poin ke 7 dan 8 yakni menyediakan energi bersih dan terjangkau, serta memberikan pekerjaan layak, mendukung perekonomian dan kemandirian masyarakat.

DEB berdikari Pertamina di Keliki menjadi pilot project pengembangan energi terbarukan dan sekaligus bentuk dukungan perseroan terhadap Presidensi G20 Indonesia yang berfokus pada transisi energi bersih. Sebagai proyek percontohan program Energi Berdikari Pertamina, Desa Keliki menjadi tujuan studi para delegasi negara-negara G20 yang tergabung dalam Energy Transition Working Group (ETWG) G20 pada September 2022 lalu.

I Wayan Sumada, Kepada BUMDES Keliki, mengatakan, kehadiran Pertamina melalui program Desa Energi Berdikari sangat membantu perekonomian di desa ini. “Ekonomi meningkat berkali-kali lipat,” dia menegaskan. Itu karena kegiatan pertanian yang dijalankan di desa ini makin produktif. Hasil panen padi, misalnya, yang semula sekitar 5 ton per hektar, menjadi 7-8 ton. Di samping itu, lanjut Wayan Sumada, pariwisata berbasis organik juga makin berkembang di Desa Keliki. Menurutnya, wisatawan yang berkunjung di desa ini juga makin banyak.

Di bidang transisi energi, Pertamina berkomitmen untuk menjadi perusahaan pemimpin dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian SDG’s. Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.

Dan, pencapaian yang membanggakan, sebagaimana diungkapkan oleh Nicke Widyawati, Direktur Utama Pertamina, di hadapan para Pemimpin Redaksi Media Massa, adalah kenaikan peringkat ESG Pertamina, yang menempati posisi pertama tahun 2023 pada subsektor Minyak dan Gas Terintegrasi dari 61 perusahaan dunia, berdasarkan peringkat dari lembaga ESG Rating Sustainalytics. ESG skor Pertamina pada akhir 2023 naik menjadi 20,7 (Medium Risk) dari sebelumnya 22,1. Skor Sustainalytics yang lebih rendah ini mencerminkan tingkat risiko yang lebih baik.

Pada kesempatan tersebut, Nicke juga menyampaikan pencapaian kinerja Pertamina sepanjang tahun 2023, di mana BUMN ini membukukan laba bersih setelah pajak US$ 4,44 miliar, atau mengalami peningkatan sebesar 17% dibandingkan dengan laba bersih setelah pajak tahun 2022 senilai US$ 3,81 miliar. Ia menambahkan, pencapaian laba bersih Pertamina tersebut salah satunya di didorong oleh program cost optimization yang memberikan kontribusi sebesar 25% (US$ 1,1 miliar), sedangkan kontribusi operasional sebesar 64% (US$ 2,86 miliar) dan pendapatan lain-lain 11%.


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved