Technology

Adopsi Teknologi, Petani Milenial Ini Mengekspor Manggis ke Eropa

Adopsi Teknologi,  Petani Milenial Ini Mengekspor Manggis ke Eropa
Jatu Barmawati, Petani Milenial
Jatu Barmawati, Petani Milenial, (Tangkapan layar : Audrey Aulivia Wiranto/SWA).

Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan besar terkait ketahanan pangan nasional akibat perubahan iklim global, termasuk dampak El Nino dan musim kemarau. Kementerian Pertanian (Kementan) merespons tantangan ini dengan mendorong modernisasi pertanian berbasis teknologi serta hilirisasi untuk meningkatkan hasil pertanian.

Kementan berkomitmen untuk meninggalkan pola lama yang identik dengan petani dipersepsikan sebagai profesi yang tidak prospektif. Kementan pun mendorong penggunaan teknologi di sektor pertanian. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo untuk mendorong penggunaan teknologi di berbagai sektor. Salah satu contoh modernisasi pertanian adalah penggunaan alat tanam modern dan sistem hidroponik. Petani milenial, dengan lahan terbatas, mampu menghasilkan ratusan juta rupiah dengan memanfaatkan teknologi ini.

Kementan juga melibatkan petani milenial dan mahasiswa dalam upaya peningkatan produksi dan produksi pangan. Hal ini menunjukkan bahwa Kementan tidak hanya fokus pada teknologi, tetap memperhatikan aspek sumber daya manusia. Jatu Barmawati , misalnya, adalah petani milenial yang mengadopsi teknologi.

Petani milenial ini memperoleh pengetahuan dan teknologi yang dapat diterapkan di Indonesia, sehingga meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi pertanian. Dia sukses mengekspor buah manggis ke Eropa. Jatu memperluas jejaringnya di global. “Ketahanan pangan memang sedang menjadi ancaman krisis di setiap negara. Jadi pentingnya peran milenial dan anak-anak muda yang bisa bergerak cepat dan borderless. Jadi kita juga bisa kerja sama bilateral untuk meredam ancaman ketahanan pangan akibat perubahan iklim,” ujar Jatu pada dialog Forum Merdeka Barat 9 bertajuk Ketahanan Pangan di Tangan Petani Milenial di Jakarta, Senin (24/6/2024).

Jatu, yang merampungkan kuliah dan bergelar sarjana pertanian ini, mengamati beragam kendala, semisal produksi, distribusi dan akses pasar. "Banyak problem di Indonesia. Kalau misalkan kita impor, direspon negatif. Tapi di negara lain, impor itu penting dalam bisnis pertanian,” ujarnya. Lebih lanjut, Jatu mengatakan regenerasi petani merupakan langkah penting, terutama karena banyak anak-anak muda yang memiliki wawasan luas dalam penggunaan teknologi pertanian.

Oleh karena itu, setelah lulus kuliah, Jatu memutuskan untuk membentuk komunitas yang bergerak di bidang pertanian, yaitu AIO (Agriculture Innovation Organization) di Yogyakarta. Tujuan utama komunitas ini adalah untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh petani. "Banyak petani di lapangan tidak mengerti bagaimana mengakses pasar, sementara pasar juga tidak memahami kebutuhan dan keinginan petani. Melalui AIO, kami berupaya menjembatani kesenjangan ini dengan mengedukasi petani tentang strategi pemasaran dan memfasilitasi komunikasi antara petani dan pasar," ujarnya.

Menurutnya, petani milenial Indonesia memiliki potensi besar untuk membantu pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Namun, dibandingkan dengan negara lain, upaya pengembangan pertanian di Indonesia dinilai kurang masif.

Di sinilah peran milenial menjadi penting. Dengan kemampuannya bergerak cepat dan berjejaring global, Jatu dan kawan-kawannya membangun kolaborasi bilateral untuk meredam ancaman krisis pangan akibat perubahan iklim. "Teman-teman di Indonesia harusnya bersyukur bahwa movement atau regenerasi petani ini sudah selangkah lebih maju untuk membantu pemerintah dalam rangka menjaga ketahanan pangan nasional," kata Jatu.

Jatu berharap pemerintah terus menggulirkan bantuan dan dukungan kepada petani. Para petani milenial yang mahir mengadopsi teknologi berperan penting memajukan sektor pertanian. Dengan semangat, inovasi, dan kolaborasi, para petani milenial memiliki potensi besar dalam membawa perubahan positif untuk ketahanan pangan Indonesia dan global di masa mendatang. Semoga. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved