Technology

Kurs Rupiah Melemah, Pemain Smartphone Bisa Mendapat Berkah

Ilustrasi. Pembeli tengah mencoba ponsel pintar. (dok Home Credit)

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dalam beberapa bulan terakhir mencapai titik terendah dalam 20 tahun. Persentase pelemahan nilai tukar rupiah itu mencapai 5,67% dan menimbulkan kekhawatiran di berbagai sektor, termasuk industri smartphone. Pelemahan rupaih ini dapat menekan daya beli konsumen dan mendorong kenaikan harga perangkat smartphone. Kondisi ini memberikan hikmah lantara membuka peta persaingan antar vendor smartphone untuk menawarkan berbagai produk yang sesuai selera konsumen serta fluktuasi kurs rupiah.

Pelemahan rupiah dapat berdampak pada kenaikan harga smartphone, terutama pada beberapa komponen yang masih menggunakan skema impor. Harga smartphone kemungkinan akan naik dalam beberapa bulan ke depan, seiring dengan kenaikan biaya komponen impor dan logistik. “Menghadapi hal ini, strategi produsen diperkirakan tidak akan serta-merta menaikkan harga smartphone yang beredar, namun dapat dilihat melalui beberapa perangkat yang akan meluncur mendatang, kemungkinan beberapa perangkat baru terlihat sedikit tinggi harganya berbanding dengan spesifikasi yang ditawarkan,” kata Aryo Meidianto, Analis Pasar Smartphone & Senior Consultant di Seqara Communications di Jakara, Senin (24/6/2024).

Namun, di sisi lain ada peluang bagi beberapa vendor smartphone untuk memanfaatkan situasi ini. Para vendor smartphone tetap memiliki kesempatan untuk meningkatkan pangsa pasar mereka dengan menawarkan produk yang lebih kompetitif dalam segi harga dan fitur. Konsumen saat ini akan lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang mereka untuk membeli sebuah perangkat smartphone.

Survei yang dilakukan oleh Reasense dari Seqara Communications terhadap perilaku konsumen di Indonesia menunjukkan bahwa 78,6% responden mengkhawatirkan kenaikan harga smartphone saat ini. Sementara itu, ketika ditanyakan mengenai kemungkinan responden untuk mengganti perangkat smartphone maka sebanyak 44% responden menyatakan berencana untuk membeli perangkat baru, 30% akan tetap menggunakan perangkat smartphone yang dimiliki sekarang, dan sisanya 26% tidak sama sekali memiliki rencana untuk membeli perangkat baru.

Penguatan brand image perlu dilakukan melalui media sebagai sumber informasi yang meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan masyarakat, bukan terbatas melalui Key Opinion Leader (KOL) semata–yang belakangan justru gencar dilakukan oleh sebagian besar brand smartphone. "Kesimpulannya, dalam menyikapi keadaan ini vendor smartphone perlu lebih kreatif dalam memasarkan produknya. Tidak hanya berhenti pada peluncuran produk yang terkesan jor-joran namun harus tetap menawarkan promosi dan diskon yang menarik minat konsumen. Selain itu, vendor smartphone harus menyasar segmen pasar yang lebih luas dengan memanfaatkan berbagai saluran komunikasi, termasuk media," ujar Aryo. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved