Women Business Leaders

Collective Leadership; Gaya Shinta Mengasuh Sintesa

Dalam lebih dari seabad perjalanannya, Sintesa Group telah menjelma menjadi salah satu konglomerat terkemuka di Indonesia. Dengan 17 anak perusahaan dan 2700 karyawan yang tersebar di seluruh negeri, Sintesa Group kini beroperasi dalam empat pilar bisnis utama: Industrial Product, Consumer Product, Property, dan Energy.

Kesuksesan ini tidak datang tanpa tantangan. Di era modern yang semakin menekankan keberlanjutan dan inovasi, Sintesa Group harus menghadapi berbagai rintangan internal dan eksternal. Dan Shinta Widjaja Kamdani, sebagai CEO Sintesa Group, memainkan peran penting dalam menjaga relevansi dan daya saing perusahaan di tengah persaingan yang ketat.

Shinta memimpin Sintesa Group melalui berbagai fase penting sejak berdirinya perusahaan pada tahun 1919. Awalnya dimulai sebagai perkebunan karet oleh generasi pertama, perusahaan ini kemudian bertransformasi menjadi perusahaan trading pada tahun 1959 di bawah bendera Tigaraksa oleh generasi kedua. Transformasi besar lainnya terjadi pada tahun 2009 ketika Sintesa Group berubah menjadi holding company yang mengelola portofolio bisnis melalui empat pilar utama.

Puncak transformasi terjadi pada tahun 2019, saat Sintesa Group merayakan seratus tahun perjalanannya dengan fokus baru pada sustainable excellence. Shinta menginisiasi implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai inti operasional dan strategi investasi perusahaan. Menurutnya, SDGs tidak hanya menjadi panduan dalam pengambilan keputusan perusahaan, tetapi juga dalam memastikan keseimbangan dampak bisnis terhadap aspek ekonomi, sosial, dan tata kelola.

Mengelola keberagaman bisnis memang menjadi tantangan tersendiri karena memerlukan model kepemimpinan yang mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan dan budaya kerja unik dari setiap unit bisnis. Lantas, bagaimana Shinta Widjaja Kamdani mengembangkan gaya kepemimpinannya?

Collective Leadership

“Saya percaya pada pentingnya collective leadership. Beragam pilar bisnis dengan produk dan servis berbeda, serta karakteristik operasional yang berbeda, memerlukan model kepemimpinan dan engagement dengan sinergi kolaborasi yang kuat,” ujarnya. Menurutnya, membangun sinergi antara berbagai unit bisnis membutuhkan komunikasi yang efektif, koordinasi yang erat, serta pemahaman mendalam terhadap visi dan misi perusahaan secara keseluruhan.

Komunikasi yang efektif memang sangat penting bagi Sintesa Group. Terlebih, di tangan Shinta, Sintesa Group menerapkan prinsip sustainability yang menekankan keseimbangan antara profit dengan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Agar hal itu berjalan baik, Shinta harus memastikan setiap unit bisnisnya mematuhi regulasi yang berlaku dan mampu mengelola risiko dengan baik, terutama mengintegrasikan SDGs yang sejalan dengan ESG (Environmental, Social, Governance) sebagai strategi penting dalam manajemen risiko investasi.

“Kami menyadari integrasi SDGs yang sejalan dengan ESG menjadi bentuk manajemen risiko atas investasi. Dalam lanskap investasi dan bisnis global, kami melihat semakin banyak investor, regulator, dan pemangku kepentingan lain yang memahami pentingnya menjalankan bisnis dengan mengukur risiko atas kepatuhan hukum, supply chain, etika bisnis, preferensi konsumen atas produk dan jasa, serta risiko biaya,” kata Shinta.

Selain sustainability, Shinta juga ditantang untuk mendorong budaya inovasi di seluruh unit bisnis Sintesa Group. Pada aspek human resources, pengembangan sumber daya manusia menjadi fokus utama Shinta. Tantangannya adalah menciptakan program pelatihan dan pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing unit bisnis, serta memastikan setiap karyawan merasa dihargai dan termotivasi untuk memberikan kontribusi terbaik mereka.

Pada bagian hulu, Shinta menekankan nilai-nilai perusahaan yang dikenal sebagai 4E (Empathy, Empowerment, Excellence, dan Entrepreneurship) yang berasal dari nilai-nilai keluarga pendiri perusahaan. Nilai-nilai ini disosialisasikan, diintegrasikan, dan dihidupkan melalui berbagai program yang menyentuh seluruh karyawan.

Bergerak ke tengah, setelah menanamkan corporate values, Shinta proaktif mencetak pemimpin-pemimpin internal. Sintesa Group tidak hanya menyelenggarakan pelatihan fungsional dan non-fungsional, tetapi juga memberikan kesempatan bagi karyawan potensial untuk mengambil tugas atau proyek baru yang menantang. Ini memungkinkan mereka mengasah kemampuan di luar tugas rutin.

Dengan pendekatan ini, manajemen Sintesa Group tidak hanya menyelenggarakan pelatihan fungsional dan non-fungsional, tetapi juga memberikan kesempatan bagi karyawan potensial untuk mengambil tugas atau proyek baru yang menantang. Ini memungkinkan mereka untuk mengasah kemampuan di luar tugas rutin.

Mencetak Pemimpin Baru

Sejumlah program berkelanjutan yang bertujuan mencetak pemimpin baru di Sintesa Group pun digelar. Salah satunya adalah Sintesa Executive Development Program, berupa rangkaian kegiatan expert sharing session yang ditujukan untuk karyawan pada level tertentu. Selain itu, ada juga Champions of Excellence, yang bertujuan memilih dan memberikan apresiasi kepada karyawan yang berkinerja sangat baik dan menunjukkan perilaku kerja yang selaras dengan indikator corporate values 4E.

Yang menarik adalah Sintesa Business Competition, yang sejalan dengan budaya inovasi. Kompetisi ini memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengusulkan rencana dan strategi bisnis yang inovatif. Tujuannya, ujar Shinta, adalah membangun semangat kewirausahaan dan menciptakan lingkungan yang terbuka bagi inovasi.

Seperti keyakinannya, untuk menggerakkan seluruh program ini, Shinta mengembangkan collective leadership. Dan karena dia meyakini gaya kepemimpinan ini sangat tepat untuk Sintesa Group, dia pun berupaya menularkannya kepada para calon leader yang digembleng dari dalam. Caranya?

“Bentuk lain untuk memastikan nurturing collective leadership adalah melalui kegiatan SDGs Award yang kami inisiasi sejak tahun 2022. Kegiatan ini menjadi wadah bagi seluruh karyawan untuk menyumbangkan ide dan kreativitas untuk mampu menginisiasi SDGs initiatives untuk mendorong keberlanjutan dalam operasional bisnis masing-masing,” jelas Shinta.

Yang menarik, sejak transformasi pada tahun 2019, Sintesa Group tak hanya berupaya mencetak pemimpin bisnis. Sejalan dengan upaya menyeimbangkan antara profit dan keberlanjutan, kelompok usaha ini juga berupaya mengembangkan berbagai pendekatan baru untuk mencetak pemimpin dalam keberlanjutan.

Beberapa inisiatif yang digelar, di antaranya: Sustainability Committee. Dibentuk tahun 2022, komite ini bertujuan mendorong percepatan pelaksanaan SDGs. Anggotanya adalah perwakilan dari anak usaha di bawah keempat pilar bisnis. Setiap anggota komite berperan sebagai champion di masing-masing perusahaan, mengarahkan pengembangan usaha sesuai panduan Roadmap SDGs Sintesa Untuk Bumi.SDG.

Lalu, Sintesa for Inclusivity. Program ini meningkatkan awareness dan engagement karyawan melalui workshop inklusif yang membantu mereka memahami komitmen organisasi terhadap praktik yang bertanggung jawab. Kemudian, Sintesa Academy. Diluncurkan pada tahun 2024, akademi ini menawarkan pelatihan dan workshop untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan karyawan dalam mendukung visi keberlanjutan perusahaan.

Juga SDGs Award. Program ini mendorong karyawan, khususnya para pemimpin, untuk berkreasi menyiapkan proyek yang selaras dengan ambisi SDG di level operasional, mengacu pada Road Map SDGs Sintesa Untuk Bumi.

Hasil dari gaya collective leadership ini ternyata memberikan buah manis. Pendapatan Sintesa Group tahun 2023 tumbuh ke angka Rp15,4 triliun, naik sebesar 12% atau Rp1,3 triliun dibanding 2022. Tren pertumbuhan ini meningkat dibanding tahun sebelumnya, di mana pendapatan Sintesa Group di tahun 2022 naik 5% dari angka tahun 2021. Di tahun 2023, pilar Property secara khusus tumbuh terbesar dibanding pilar lainnya, yakni 33%. Pertumbuhan ini disebabkan mulai kembali normalnya aktivitas masyarakat dan bisnis pasca pandemi, yang menyebabkan tingkat okupansi kantor dan hotel pun mulai kembali normal.

Terkait target pertumbuhan di 2024, Shinta mengungkapkan pihaknya memproyeksikan pendapatan Sintesa Group akan naik dibandingkan tahun lalu sebesar 8% atau mencapai total revenue Rp16,7 triliun. Persentase kenaikan terbesar diproyeksikan akan berasal dari pilar Property, yang akan pulih ke posisi sebelum pandemi dengan peningkatan sebesar 38%. Sementara angka kenaikan terbesar diperkirakan akan disumbangkan oleh pilar Consumer Product yakni sebesar Rp1,07 triliun.

Melalui gaya collective leadership, Shinta Widjaja Kamdani telah mengasuh Sintesa Group menjadi entitas yang tidak hanya sukses secara finansial, tetapi juga berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Ini adalah bukti bahwa kepemimpinan yang inklusif dan berfokus pada keberlanjutan dapat membawa perusahaan melampaui batasan-batasan tradisional menuju masa depan yang lebih cerah dan berkelanjutan. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved