Capital Market & Investment

IHSG Masih Bertenaga Pada Kuartal Ketiga Tahun Ini

Ilustrasi foto : Vicky Rachman/SWA).

Perekonomian Indonesia tengah menggeliat seiring dengan berbagai dinamika terkini baik di dalam maupun luar negeri. Mulai dari ketidakpastian yang timbul akibat pergantian pemerintahan pada Oktober 2024 hingga perubahan proyeksi The Fed. Inav Haria Chandra, Deputy Head of Research PT Sinarmas Sekuritas, mengatakan kinerja indeks saham gabungan (IHSG) diprediksi masih memiliki ruang untuk kembali menguat pada kuartal ketiga tahun ini meski tengah berada di dalam ketidakpastian.

Ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh The Fed diprediksi akan mendorong pelemahan dollar AS, sehingga berpotensi mendorong arus likuiditas kembali ke emerging market. “Sektor pertambangan, terutama logam dasar, dapat menjadi pilihan saat ini. Penurunan suku bunga global akan mendorong ekspektasi pemulihan pertumbuhan ekonomi, sehingga berdampak positif terhadap harga logam dasar. Penguatan harga juga akan didukung oleh kebijakan stimulus pada sektor properti yang sedang gencar dilakukan oleh pemerintah China,” ujar Inav di Jakarta, Selasa (25/6/2024).

Aryo Perbongso, Head of Fixed Income Research Sinarmas Sekuritas menjelaskan dampak revisi proyeksi Federal Reserve atau The Fed yang mengakomodasi penurunan suku bunga sekali dan mengakui bahwa inflasi menjadi sticky. Informasi ini telah diperhitungkan di pasar, sehingga imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun mencapai 4,26% pada 20 Juni 2024. Sebaliknya, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun meningkat, dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terdepresiasi menjadi Rp16.430.

Hal ini disebabkan adanya persepsi ketidakpastian terhadap kebijakan pemerintah. Kondisi pasar pendapatan tetap Indonesia saat ini menunjukkan perkiraan peningkatan pasokan obligasi pemerintah meskipun terjadi penurunan permintaan. "Sementara itu, kondisi SRBI cukup baik karena SRBI memberikan imbal hasil bersih yang lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah dengan jangka waktu yang sama dan sudah mencapai Rp780 triliun. Untuk obligasi korporasi, pasokannya masih terbatas meski menawarkan imbal hasil yang relatif tinggi,” kata Aryo. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved