Economic Issues

Di Oslo, Pemerintah Perkuat Kemitraan Untuk Mencapai Target NDC

Foto : Kementerian LHK.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, dan Bezos Earth Fund (BEF) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk memacu pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) dan FOLU Net Sink 2030. Penandatanganan dilakukan oleh Menteri LHK dan Senior Fellow BEF, Lord Zac Goldsmith, di Oslo Tropical Forest Forum (OTFF) 2024 di Oslo, Norwegia pada Selasa (25/6/2024). Momen penting ini juga disaksikan oleh Menteri Iklim dan Lingkungan Hidup Norwegia, Andreas Bjelland Eriksen.

Kementerian LHK mengapresiasi BEF sebagai lembaga filantropi besar dunia yang mendukung terwujudnya kerja sama antar semua para pemangku kepentingan, yakni pemerintah, Pemda, LSM, dunia usaha, dan komunitas, untuk penguatan konservasi dan kinerja restorasi hutan, serta hutan adat. "Penandatanganan MoU antara KLHK dan BEF ini dimaksudkan untuk mendukung kerja multipihak dari sektor swasta dan filantropi, serta kesejahteraan masyarakat lokal dan adat. Saya sangat yakin bahwa kemitraan baru ini akan sangat produktif di tahun-tahun mendatang," ujar Siti pada siaran pers, Kamis (27/6/2024).

Siti dan Goldsmith mendiskusikan lebih lanjut mengenai penanganan deforestasi Indonesia dan kekuatan kebijakan sektor kehutanan di Indonesia, yang intinya adalah high politics and strong actions. Siti menyampaikan kolaborasi ini berakar pada pengakuan dan komitmen bersama atas sejumlah hal. Pertama, dukungan terhadap kepemimpinan iklim Indonesia, target ambisius Indonesia untuk mencapai penyerapan bersih karbon dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya pada tahun 2030, sejalan dengan perjanjian internasional seperti Perjanjian Paris dan Konvensi Keanekaragaman Hayati.

Kedua, perluasan upaya konservasi. Komitmen untuk memperluas target perhutanan sosial, termasuk pengakuan hukum atas hutan adat, yang ditujukan untuk konservasi keanekaragaman hayati dan praktik pengelolaan lahan berkelanjutan. Ketiga, pembentukan kawasan konservasi. Inisiatif untuk mengelola kawasan konservasi yang ada dan membangun Taman Nasional baru di kawasan keanekaragaman hayati utama, untuk menjaga keanekaragaman ekologi dan meningkatkan ketahanan lingkungan.

Keempat, kemitraan inovatif: Pengembangan kemitraan konsesi konservasi dalam konsesi penebangan, yang awalnya mencakup wilayah yang luas dan bertujuan untuk memperluas secara cepat guna melindungi ekosistem penting melalui izin inovatif dan revisi rencana bisnis.

Kemudian, kelima adalah dialog kebijakan dan penyelarasan teknis. Fasilitasi dialog kebijakan untuk menyelaraskan metodologi Indonesia dengan standar global, memastikan pengakuan dan dukungan internasional terhadap praktik kehutanan dan penggunaan lahan yang berkelanjutan.

Keenam, keterlibatan multi-sektoral dan beragam pemangku kepentingan, termasuk komunitas lokal dan mitra internasional, untuk memastikan strategi implementasi yang komprehensif dan inklusif. "Kemitraan ini menggarisbawahi komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan, konservasi keanekaragaman hayati, dan ketahanan iklim. Hal ini memanfaatkan keahlian dan sumber daya untuk mencapai dampak transformatif pada lanskap lingkungan hidup Indonesia," tutur Menteri Siti. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved