Strategy

Mulai Beroperasi, Smelter Freeport di Gresik Berkapasitas 1,7 Juta Ton

Peresmian operasi smleter PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur pada Kamis, 27 Juni 2024. (Foto : Kemenko Perekonomian).

PT Freeport Indonesia (Freeport Indonesia) pada Kamis lalu mengoperasikan smelter di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di Gresik, Jawa Timur. Peresmian operasi smelter Freeport di Gresik ini menandai dimulainya hilirisasi mineral di Indonesia. Smelter Freeport Indonesia di Gresik ini mampu memurnikan konsentrat tembaga dengan kapasitas produksi 1,7 juta ton per tahun.

Selain menghasilkan katoda tembaga, smelter juga menghasilkan lumpur anoda yang selanjutnya dimurnikan di Precious Metal Refinery (PMR) menjadi emas dan perak batangan, serta Platinum Group Metals (PGM). Hingga akhir Mei 2024, investasi Freeport Indonesia untuk pembangunan smelter tembaga dengan desain single line terbesar di dunia ini telah mencapai US$3,67 miliar atau sekitar Rp58 triliun.

Presiden Direktur Freeport Indonesia, Tony Wenas, mengatakan pembangunan smelter baru ini merupakan komitmen Freeport Indonesia mendukung kebijakan hilirisasi mineral tembaga yang dicanangkan pemerintah. Ia mengatakan tembaga sangat dibutuhkan pasar global. Negara lain sedang berlomba dalam transisi energi, akan membutuhkan tembaga yang sangat banyak. “Apa yang dicanangkan Pak Presiden Joko Widodo dalam IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus) untuk membangun satu smelter baru lagi adalah intuisi yang tepat. Permintaan tembaga dunia akan meningkat terus, mempercepat pembentukan ekosistem electric vehicle, mempercepat Indonesia emas,” kata Tony pada keterangannya yang dikutip pada Minggu (30/6/2024).

Pada peresmian smelter ini dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia “Pabrik yang saya sebut extraordinary. Luar biasa dalam waktu 30 bulan sejak kita groundbreaking oleh Pak Presiden bisa (selesai pembangunan) on time. Ini luar biasa,” kata Airlangga dalam sambutannya itu.

Dia mengatakan pembangunan smelter Freeport adalah bagian dari perjanjian Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Proses pembangunan berlangsung tepat waktu dimana saat ini telah mulai beroperasi dan berproduksi pada Agustus hingga mencapai kapasitas penuh pada Desember 2024. “Jadi ini (smelter) sangat tepat waktu karena sekarang renewable energy menjadi tren dan butuh critical mineral salah satunya copper,” kata Airlangga.

Ketersediaan smelter PTFI ini, maka aktivitas penambangan sampai proses pemurnian berlangsung di dalam negeri. Hal ini berdampak positif terhadap perekonomian nasional lantaran nilai tambah hasil tambang akan dinikmati di dalam negeri. Bahlil mengapresiasi beroperasinya smelter Freeport. “Ini pembuktian manajemen Freeport mewujudkan komitmen implementasi syarat IUPK,” kata Bahlil.

Pemerintah telah menggagas kebijakan hilirisasi industri yang diharapkan mampu mendukung peningkatan nilai tambah perekonomian nasional sekaligus menjadi salah satu kunci dalam menjaga resiliensi ekonomi nasional. Untuk mendukung kebijakan hilirisasi tersebut, peran off-takers domestik menjadi sangat penting termasuk pengguna bahan baku tembaga.

Lebih lanjut, pasokan produk hilirisasi tembaga yang dibutuhkan Indonesia saat ini masih mengandalkan produk impor seperti copper tube, copper tape, evaporator tembaga, serta komponen-komponen yang dibutuhkan dalam produksi electric vehicle (EV) seperti kabel, inverter, hingga baterai. Guna memenuhi kebutuhan tersebut, Pemerintah terus mendorong industri pengolahan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk melakukan hilirisasi.

Smelter Frreport Indonesia merupakan fasilitas pemurnian tembaga dengan desain jalur tunggal terbesar di dunia dengan kapasitas pemurnian mencapai 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Proyek yang menempati lahan 100 hektare di KEK JIIPE di Gresik itu diharapkan berdampak positif terhadapmanfaat bagi perusahaan konstruksi dalam negeri dan menciptakan efek ganda (multiplier effects) kepada masyarakat di Kabupaten Gresik.

Bersama dengan smelter yang dioperasikan PT Smelting, keduanya akan memurnikan 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun dengan produksi sekitar 600.000 ton katoda tembaga, 50 ton emas, dan 200 ton perak per tahun. Dengan beroperasinya smelter ini, seluruh kosentrat tembaga yang diproduksi oleh Freeport Indonesia dapat semuanya diproses dan dimurnikan di dalam negeri, demikian juga lumpur anoda dari PT Smelting. “Dan ini yang pertama integrasi tambang sampai dengan produk akhir. Dan dengan integrasi ini, maka produksi emas nanti yang 50 ton bayar royalti. Karena ini terintegrasi dari tambang sampai ke hilir. Demikian pula untuk perak juga bayar royalti. Jadi tentu banyak pendapatan yang didapatkan Pemerintah,” ungkap Airlangga.

Kehadiran Freeport Indonesia di KEK Gresik diharapkan dapat menjadi salah satu penarik dalam membentuk kawasan dengan ekosistem yang mendukung hilirisasi, khususnya EV. Hingga Maret 2024, KEK Gresik telah mencatatkan nilai investasi sebesar Rp75,2 triliun dan menyerap lebih dari 35.000 orang tenaga kerja. “Tentu ke depan Indonesia akan mampu untuk meningkatkan ekspornya. Kalau ekspor kita kuat, maka rupiah kita bisa stabil. Sebagai contoh, dari nikel itu dan dari kelapa sawit ekspor kita US$55 miliar. Nah impor minyaknya US$40 miliar. Jadi sebetulnya natural hedging itu terjadi,” tutur Airlangga.

Selain melakukan prosesi peresmian operasional smelter Freeport Indonesia, Airlangga beserta rombongan juga berkesempatan meninjau kawasan smelter PTFI dengan mengunjungi area jetty, anode casting, dan central control building. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved