Women Business Leaders

Dari Kilang ke Green Business: Langkah Besar Nicke di Pertamina

Di tangan Nicke, Pertamina terus mencetak prestasi, masuk Fortune Global 500 tahun 2023

Sentuhan tangan dingin Nicke Widyawati melakukan penyehatan dan pembenahan Pertamina memang layak diacungi jempol. Awalnya, ketika mantan profesional PLN dan REKIN ini diumumkan dan ditunjuk sebagai Direktur Utama PT Pertamina (Persero), banyak yang skeptis terhadap kemampuannya memimpin BUMN raksasa ini.

Namun, pelan tapi pasti, Nicke bisa meyakinkan para pengkritiknya, bahwa ia mampu melakukan hal-hal luar biasa yang tak dibayangkan sebelumnya. BUMN yang mengoperasikan tujuh kilang minyak dan mengendalikan operasi bisnis migas dari hulu hingga hilir yang ia pimpin ini berada dalam arah tren kinerja yang positif.

Lahir di Tasikmalaya, 25 Desember 1967, Nicke Widyawati mulai ditugaskan sebagai Dirut Pertamina pada 30 Agustus 2018, setelah sebelumnya menjadi Pelaksana Tugas Dirut. Ia mampu membuktikan bahwa wanita pun bisa sukses sebagai top business leader di perusahaan raksasa yang superkompleks, korporasi yang dinamis secara komersial, dan tarik-ulur politiknya sangat kuat.

Laba Bersih Tertinggi

Di bawah leadership Nicke, Pertamina sukses membukukan laba bersih tertinggi sepanjang berdirinya. Yakni, sebesar US$3,81 miliar (Rp56,6 triliun) tahun 2022, naik 86% dibandingkan laba bersih 2021 yang sebesar US$2,05 miliar (Rp29,3 triliun).

Awal 2024, Pertamina juga mendapatkan rating positif dari Fitch. Lembaga pemeringkat global ini melihat EBITDA Pertamina selama empat tahun ke depan akan tetap baik.

Oleh Ficth, Pertamina dikalkulasi memiliki ruang pertumbuhan yang baik untuk terus melakukan investasi anorganik. Likuiditas Pertamina juga memadai, dengan saldo tunai US$ 19,4 miliar per 31 Desember 2023 dan akses ke pendanaan yang kuat. Ficth meyakini Pertamina akan mempertahankan aksesnya yang kuat ke pasar bank dan obligasi, serta akan mampu membayar semua kewajiban utangnya dan mendanai ekspansi dengan baik.

Bila dikilas balik, Nicke mewarisi leadership Pertamina dengan sejumlah tantangan. Dari sisi eksternal, misalnya, dalam beberapa tahun terakhir muncul tekanan yang kuat dari kalangan perbankan dan lenders untuk shifting portofolio bisnis ke low-carbon business. Pertamina pun tak luput dari tekanan itu.

Lalu, terjadi pula dinamika geopolitik yang menciptakan fluktuasi harga minyak mentah dunia dan risiko pola suplai distribusi impor terganggu. Di sisi lain, kebutuhan energi dalam negeri masih mengandalkan impor, sehingga harga BBM dan LPG dalam negeri rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Konflik geopolitik dunia serta dampak pandemi Covid-19 pun terasa pada bisnis.

Ini belum termasuk kondisi organisasi internal grup perusahaan yang saat itu terserak asetnya dan butuh dirapikan dari aspek struktur pengelolaan. Salah satu terobosan terpenting Nicke, Pertamina menjalankan transformasi bisnis dengan merestrukturisasi organisasi, termasuk dengan membentuk enam subholding untuk memudahkan pengelolaan dan penyehatan perusahaan. Yakni, Subholding Gas, Subholding Upstream, Subholding Commercial & Trading, Subholding Refining & Petrochemical, Subholding Power & NRE, serta Subholding Integrate & Marine Logistic.

Dengan program restrukturisasi itu, Pertamina sebagai holding lebih berperan pada pengelolaan portofolio bisnis dan membangun sinergi bisnis di antara anak usaha, khususnya untuk mempercepat berbagai pengembangan bisnis baru. Sementara perusahaan-perusahaan subholding menjalankan peran untuk mendorong operational excellence di setiap unit bisnisnya, mempercepat pengembangan bisnis dan kapabilitas bisnis existing masing-masing, serta meningkatkan fleksibilitas dalam kemitraan dan pendanaan yang lebih menguntungkan perusahaan.

“Restrukturisasi dilakukan agar struktur lebih ramping serta kewenangan holding dan subholding lebih jelas. Hal ini berdampak baik: proses pengambilan keputusan untuk investasi lebih ringkas, operasional bergerak lebih lincah,” ungkap Nicke.

Tentu saja, restrukturisasi bisnis dan organisasi perusahaan itu membawa banyak konsekuensi dan butuh banyak penyesuaian. Di antaranya, masalah pengelolaan pola suplai dan distribusi, transaksi antar-subholding, hingga pembagian aset dan manpower, yang semua itu butuh berbagai kebijakan internal baru.

Di sisi lain, Pertamina juga harus membangun kesiapan digitalisasi untuk meningkatkan efisiensi operasional, yang sudah dilakukan melalui berbagai cara. Perusahaan pun meningkatkan kapasitas pekerjanya untuk mengakomodasi skill yang dibutuhkan di era transisi energi dan digitalisasi.

Perkuat Kapasitas Produksi

Langkah besar lain yang juga dikerjakan Nicke selama memimpin Pertamina yaitu memperkuat kapasitas produksi di segmen bisnis hulu (upstream) dengan memanfaatkan aset existing, baik di domestik dan international. Juga meningkatkan oil recovery (EOR) dan mencari potensi-potensi wilayah upstream baru melalui M&A.

Pertamina berusaha pula meningkatkan value produk di segmen hilir melalui modifikasi (revamping) kilang untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produk, pengembangan bisnis gas, transformasi bisnis ritel, dan peningkatan nilai dari bisnis petrokimia.

Yang tak kalah penting, Nicke juga mendorong Pertamina untuk masuk dan aktif dalam green business, dengan fokus untuk melakukan scale up pada biofuel ecosystem melalui pengembangan bioethanol, hydrotreated atau hydrogenated vegetable oil (HVO), sustainable aviation fuel (SAF), dan biomethane. Juga meningkatkan kapasitas geothermal, termasuk dengan melakukan eksplorasi di luar Indonesia.

Dilakukan pula percepatan implementasi teknologi baru yang akan mendukung bisnis masa depan Pertamina, seperti carbon capture & storage (CCS) atau carbon capture, utilization & storage (CCUS), hydrogen, oleochemical, dan nature based solution (NBS).

Wanita yang mengawali kariernya di Bank Duta Cabang Bandung ini juga berinisiatif melakukan digitalisasi di seluruh lini bisnis Pertamina, guna meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan inovasi di tiap langkah bisnis. Antara lain, dengan memanfaatkan teknologi mutakhir seperti Cloud Technology, Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), hingga analisis big data. Transformasi digital bermanfaat untuk melakukan inspeksi berbasis sistem, memonitor emisi karbon, memberikan layanan invoice & payment, hingga menjalankan otomatisasi di fasilitas hulu hingga hilir.

Pertamina pun sudah membangun Pertamina Integrated Enterprise Data and Command Center untuk mengintegrasikan data dari lini produksi hingga distribusi (penyaluran BBM) ke masyarakat. Melalui digitalisasi SPBU, sebut contoh, Pertamina mampu memantau ketersediaan bahan bakar di setiap region, menjamin pasokan di berbagai situasi, termasuk di hari raya atau tahun baru, dengan menetapkan minimum inventory stock BBM yang juga membantu dalam pengelolaan keuangan.

Tak lupa, Nicke juga mendorong Pertamina agar menjadi perusahaan yang mampu mencetak pemimpin-peminpin baru dari dalam. Tak mengherankan, sejak kick off pada April 2018, perusahaan ini telah melakukan program akselerasi kepemimpinan secara besar-besaran yang difokuskan pada kapabilitas dan kesiapan manajer berpotensi tinggi untuk menduduki posisi pada level Vice President dan Senior Vice President.

Mereka diseleksi secara ketat dengan menggunakan 27 indikator. Mereka dilatih, dipromosikan, dibantu dalam menetapkan jalur karier, dan diberi pengalaman international exposure. Pertamina pun mendorong karyawan level Senior Vice President agar menjadi mentor dan asesor untuk mengembangkan generasi pemimpin berikutnya.

Komitmen dalam menjalankan bisnis yang compliance dengan nilai-nilai ESG juga terus dikembangkan di Pertamina di bawah Nicke. Hal itu juga terbukti dengan terus meningkatnya rating ESG Pertamina secara global. Saat ini dengan rating 20,7 (Sustainalytics), Pertamina menduduki posisi nomor 1 di industri migas terintegrasi.

Dalam menjalankan ESG, Pertamina telah menetapkan 10 fokus keberlanjutan yang menjadi panduan pelaksanaan ESG, juga telah meluncurkan kebijakan-kebijakan terkait ESG, seperti Sustainability Policy, Human Right Policy, dan Respective Workplace Policy. “Kami juga telah membuat road map Net Zero Emissions perusahaan,” ujar Nicke.

Dalam 14 tahun terakhir (baseline 2010) Pertamina telah berhasil menurunkan emisi karbon sekitar 34% atau mencapai 8,5 juta ton CO2 equivalent dari emisi Scope 1 dan 2, dan pengurangan emisi sebesar 32,7 juta ton CO2 dari implementasi biofuel tahun 2023.

Nicke berkomitmen untuk mengawal Pertamina agar menjalankan bisnis yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, serta menjadi garda terdepan dalam menjaga ketahanan dan kemandirian energi nasional. Ia optimistis, Pertamina akan menjadi perusahaan energi global dengan tata kelola perusahaan yang baik.

Begitu pun dari sisi kinerja bisnis, Pertamina kini terus mampu mengokohkan posisi sebagai satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar Fortune Global 500 tahun 2023. Posisi peringkatnya juga terus naik. Tahun 2023 di peringkat 141, naik dibandingkan pada 2022 di posisi 223 dan tahun 2021 yang berada di peringkat 287. Sesuai dengan neraca audit, kinerja perusahaan yang dipimpin Nicke ini per 31 Desember 2022 dikategorikan sebagai perusahaan yang sehat (rating AA). (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved