Women Business Leaders

Dari Peta Digital ke Tol Udara: Inovasi Polana di AirNav

Polana B. Pramesti, berinovasi untuk kemajuan AirNav Indonesia (Foto: Wisnu Tri Rahardjo/SWA)

Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau AirNav Indonesia didirikan dengan tujuan untuk meningkatkan keselamatan dan pelayanan navigasi penerbangan, serta membangun citra positif Indonesia di bidang aviasi dunia.

Tentunya, pengelolaan perusahaan ini tidak lepas dari tantangan internal dan eksternal yang dihadapi. Tantangan AirNav ini meliputi bagaimana meningkatkan engagement employee dan sustainable finance.

Untuk mengimbangi itu semua, perusahaan ini perlu terus belajar dan beradaptasi dengan tantangan dari luar. Juga menguatkan internal agar tetap satu tujuan, visi, dan misi sehingga sebesar apa pun tantangan di depan, bisa dilalui bersama.

Tantangan eksternalnya, antara lain efek pandemi Covid-19 dengan turunnya jumlah penerbangan, kemajuan teknologi, inovasi, juga kebijakan pemerintah. Namun, tantangan ini dijadikan momentum bagi AirNav untuk terus melakukan berbagai inovasi dan digitalisasi, baik dalam operasional pelayanan navigasi penerbangan, sumber daya manusia (SDM), maupun kebijakan finansial.

Momentum Inovasi

Polana B. Pramesti, Direktur Utama Perum LPPNPI/AirNav Indonesia, menjelaskan bahwa turunnya jumlah penerbangan akibat pandemi Covid-19 tidak membuat AirNav Indonesia lantas berpangku tangan dan putus asa. Namun, keadaan ini menjadi momentum bagi AirNav untuk terus melakukan berbagai inovasi dan digitalisasi, baik dalam operasional pelayanan navigasi penerbangan, SDM, maupun kebijakan finansial.

Di tengah kondisi yang sulit, perusahaan berkomitmen untuk tetap mengutamakan kelancaran dan keselamatan navigasi penerbangan, dengan menerapkan pengaturan kerja (shifting) yang ketat untuk SDM operasional dan work from home (WFH) bagi SDM non-operasional, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Berbagai program cost reduction (mengurangi investasi, perjalanan dinas, tunjangan karyawan, operasional gedung, pemakaian listrik, dll) juga diterapkan untuk menghindari terjadinya PHK karyawan. Hal ini juga memungkinkan perusahaan bisa survive tanpa harus berutang ke bank dan tetap memiliki kondisi keuangan yang sehat.

Di bidang operasional navigasi penerbangan, juga dilakukan berbagai inovasi dan digitalisasi oleh internal karyawan perusahaan. “Transformasi digital adalah tantangan yang tidak dapat kita hindari. Mau tidak mau kita yang harus beradaptasi dengan hal tersebut. AirNav juga banyak menciptakan transformasi digital demi efektivitas dan efisiensi bisnis,” kata Polana yang disebut-sebut sebagai dirut wanita pertama di AirNav Indonesia.

Selama masa pandemi, telah lahir berbagai terobosan prosedur, sistem, dan aplikasi di bidang penerbangan, yang bertujuan meningkatkan keselamatan dan efisiensi bagi para pengguna jasa (maskapai). Berbagai terobosan tersebut, antara lain, pertama, diluncurkanya Peta Penerbangan Digital (Nav-Earth) pada Agustus 2020. Ini merupakan aplikasi peta penerbangan digital real time pertama di Indonesia yang dikembangkan oleh karyawan AirNav.

Terobosan kedua, Nav-Gate (AirNav Digital AIS Product and Service), merupakan aplikasi yang diluncurkan AirNav pada November 2022. Aplikasi ini dapat memberikan pelayanan dan produk Aeronautical Information Services secara digital dengan menggunakan konsep one-stop-service.

Terobosan ketiga, User Preferred Routes (UPR), merupakan prosedur yang dikembangkan oleh AirNav untuk memudahkan maskapai internasional memilih rute penerbangan yang paling efektif dan efisien. Uji coba program UPR yang dimulai pada Juni 2020 ini sangat diapresiasi oleh maskapai internasional yang pernah mengunakannya, antara lain Eva Air, Qatar Air, dan Hongkong Air.

Menjaga Kesinambungan

Strategi untuk menjaga kesinambungan pelayanan navigasi penerbangan dan sustainability perusahaan dijalankan dalam tiga termin.

Termin pertama, short term, meningkatkan kompetensi dan kemampuan SDM (upskilling) yang difokuskan pada kesiapan untuk dapat berkompetisi secara global dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta peremajaan fasilitas navigasi penerbangan yang kritikal, guna memastikan kesinambungan pelayanan navigasi penerbangan.

Termin kedua, medium term, secara bertahap mengakuisisi teknologi terbaru yang menunjang peningkatan kapasitas ruang udara, efisiensi pelayanan, serta implementasi artificial intelligence dan machine learning dalam pemberian pelayanan. Teknologi tersebut antara lain Uncrewed Traffic Management System, Digital Twin, dan Remote Tower.

Dalam hal pengembangan SDM, perusahaan berkomitmen meningkatkan anggaran pengembangan SDM secara bertahap guna mendukung serta meningkatkan keunggulan SDM AirNav Indonesia di skala regional dan global.

Termin ketiga, long term, menerapkan pelayanan navigasi udara yang seamless di level regional, diversifikasi revenue melalui pembentukan SBU yang mengelola training personel aviasi berstandar internasional, pemeliharaan dan perawatan peralatan navigasi penerbangan dan konsultansi, serta implementasi penuh predictive safety dan operasional berbasis AI.

Membangun Organisasi yang Agile

Organisasi yang agile dan adaptif juga dibangun oleh perusahaan di bidang navigasi penerbangan ini. Menurut Polana, “Dalam memberikan pelayanan navigasi penerbangan, AirNav dituntut untuk selalu mampu mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, baik dari sisi korporasi secara umum maupun dari sisi air navigation service secara khusus,” ungkap kelahiran Jakarta, 2 November 1961, yang menjabat sebagai Dirut AirNav sejak Januari 2022 ini.

Untuk mencapai hal tersebut, AirNav telah beberapa kali merombak organisasi agar selaras dengan visi, misi, dan strategi perusahaan. Perombakan organisasi selalu diiringi dengan transformasi dalam pengelolaan SDM, yang meliputi perencanaan SDM, manajemen karier, pengembangan kompetensi, penilaian kinerja, remunerasi, dan pengembangan sistem informasi SDM.

Salah satu tahap yang saat ini dilaksanakan oleh AirNav ialah penataan organisasi perusahaan yang diselaraskan dengan tuntutan eksternal, antara lain Rencana Strategis Kementerian BUMN 2020-2024 dan PER-02/MBU/III/2023. Program penataan organisasi ini juga didorong oleh upaya perbaikan proses bisnis, dukungan terhadap program strategis perusahaan peningkatan pelayanan surveillance, serta rencana transformasi digital.

Program penataan organisasi ini tidak hanya terkait struktur organisasi, tapi juga mencakup penyusunan proses bisnis, analisis dan evaluasi jabatan, desain remunerasi, serta perencanaan SDM jangka panjang. Sebelumnya, pada 1 September 2022 telah dibentuk perencanaan yang berfungsi merumuskan perencanaan strategis perusahaan dan perampingan organisasi cabang dari tujuh cabang menjadi empat cabang,” katanya.

Dalam hal menjalankan peran sebagai seorang pemimpin, Polana berusaha selalu mengingatkan segenap SDM terkait visi-misi perusahaan sebagai sebuah tujuan dan tugas yang mulia yang harus diperjuangkan bersama. Berkenaan dengan hal tersebut, ia selalu memberikan inspirasi dan motivasi kepada 4.759 karyawan AirNav dengan menggunakan berbagai media yang tersedia.

Apa saja hasil yang dicapai? Polana menjelaskan hasil secara kualitatif, yang meliputi berbagai transformasi digital guna memberikan pelayanan dan keselamatan navigasi penerbangan yang prima, efektif, dan efisien.

Di antaranya, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, lahirnya aplikasi Nav-Earth dan Nav-Gate serta inovasi program User Preffered Route (UPR) atau “tol udara” yang merupakan sebuah prosedur yang dikembangkan oleh AirNav untuk memudahkan maskapai internasional memilih rute penerbangan yang paling efektif dan efisien.

Karena hal ini pula, AirNav diminta untuk ikut serta mengembangkan program UPR untuk rute-rute internasional, dan menandatangani kerjasama (MoU) dengan delapan operator navigasi penerbangan di negara Asia Pasifik, yaitu Singapura, Thailand, Filipina, Jepang, China, Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat.

Pencapaian terbaru, pada 21 Maret 2024 Pk. 00.00 UTC (22 Maret 2024 pukul 03.00 WIB) ada momen bersejarah, bukan hanya untuk AirNav Indonesia, tapi untuk dunia penerbangan Indonesia. “Karena, kita berhasil mengalihkan pelayanan navigasi penerbangan di atas wilayah Kepulauan Riau dan Natuna dari yang sebelumnya dilayani Singapura sekarang dilayani AirNav Indonesia,” Polana mengungkapkan.

Adapun hasil secara kuantitatif, dengan skala bisnis (revenue) perusahaan Rp 1 triliun - 5 triliun per tahun, seperti pada 2023, tercatat pergerakan pesawat udara mengalami kenaikan rata-rata sebesar 14% dibandingkan pada 2022. Lalu, 1,8 juta penerbangan telah dilayani AirNav Indonesia selama 2023 dengan tingkat on time performance (OTP) sebesar 90%. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved