Economic Issues

Inovasi Hijau PT Evergen Resources: Menggali Potensi Besar Mikroalga

Potensi pemanfaatan alga, baik makroalga maupun mikroalga, di Indonesia sangat besar untuk menghasilkan produk-produk bernilai tambah tinggi. Salah satu yang potensial untuk terus dikembangkan adalah mikroalga yang dapat diolah menjadi berbagai bahan baku pangan, obat-obatan, pakan ternak, hingga biofuel.

Pengembangan industri pengolahan mikroalga sebagai sumber daya alam merupakan salah satu bagian dari kebijakan prioritas Kementerian Perindustrian, yaitu hilirisasi industri berbasis agro. Di samping itu, pemanfaatan bioteknologi merupakan kunci untuk mewujudkan konsep keberlanjutan yang perlu diadaptasi oleh industri untuk menyelaraskan pembangunannya dengan kelestarian lingkungan. “Mikroalga sangat prospektif untuk dikembangkan di Indonesia karena didukung oleh kondisi lingkungan yang memadai,” jelas Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat melakukan kunjungan ke PT Evergen Resources yang dikutip pada Senin, (1/7/2024).

Keunggulan Indonesia dalam Pengembangan Mikroalga

Keunggulan yang dimiliki Indonesia untuk pengembangan mikroalga meliputi banyaknya sinar matahari, suhu yang hangat, serta lahan yang cukup. Mikroalga merupakan sumber bahan baku untuk produk makanan, kosmetik, suplemen, bahan bakar ramah lingkungan untuk pesawat, hingga crude oil. Selain itu, mikroalga juga menyerap CO2 sehingga dapat dimanfaatkan oleh industri dalam pengelolaan emisi.

Salah satu upaya pengembangan bioteknologi mikroalga di Indonesia telah diinisiasi oleh PT Evergen Resources. Perusahaan yang berlokasi di Kendal, Jawa Tengah ini mengolah mikroalga haematococcus pluvialis yang dapat menghasilkan astaxanthin. Zat tersebut adalah karotenoid yang berguna sebagai pelindung dari oksidasi polyunsaturated fatty acids (PUFA), dapat meningkatkan respons imun, dan menjaga dari efek negatif sinar ultraviolet.

Evergen melakukan kultivasi mikroalga dengan sistem photobioreaktor tertutup untuk memproduksi AstaLuxe. Produk ini memiliki antioksidan tinggi yang diaplikasikan pada produk suplemen kesehatan, obat-obatan, kosmetik, makanan dan minuman, hingga produk pakan ternak.

Manfaat dan Potensi Pasar Astaxanthin

Astaxanthin memiliki potensi pasar yang besar, didorong oleh beberapa faktor, antara lain peningkatan jumlah konsumen yang sadar akan kesehatan dan menginginkan produk antioksidan alami. Populasi dunia yang semakin panjang umur juga mendorong peningkatan produk anti-aging, sementara tren diet vegan dan diet berbasis tanaman semakin berkembang. Teknologi kultivasi mikroalga dan proses ekstraksi yang terus berkembang juga meningkatkan efisiensi produksi astaxanthin.

Namun demikian, tantangan dalam pengembangan astaxanthin juga masih cukup besar. Misalnya, biaya produksi dan R&D yang tinggi menyebabkan terbatasnya daya beli konsumen dan perluasan pasar. Selain itu, rentannya kontaminasi dalam produksi memerlukan quality control yang berlapis, serta pasar yang cukup kompetitif dengan pemain kunci dari negara-negara dengan teknologi maju. “Karenanya dibutuhkan kolaborasi yang strategis antara pemerintah, institusi pendidikan, lembaga riset, dan industri dalam rangka percepatan pengembangan produk dan kebijakan penetrasi pasar,” jelas Agus.

Diversifikasi Produk dan Tantangan Pengembangan

Menperin mendorong agar perusahaan dapat juga mengembangkan mikroalga untuk diolah menjadi produk-produk lain, misalnya menjadi biofuel. “Untuk pengembangan menjadi biofuel, dibutuhkan dukungan dari industri penggunanya, misalnya Pertamina untuk penyediaan fasilitas produksi dan penyimpanan,” imbuh Agus.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menyampaikan bahwa Evergen Resources memulai produksi astaxanthin dari nol atau sejak tahun 2012. Pasar astaxanthin terus berkembang, dengan pasar terbesar masih terdapat di Amerika Utara dan Eropa. “Di Indonesia, belum ada kompetitor untuk industri penghasil astaxanthin, dan produsennya juga kurang dari 10 perusahaan di dunia,” jelasnya.

Founder sekaligus CEO Evergen Resources, Siswanto Harjanto, menjelaskan bahwa perusahaan fokus pada pengolahan mikroalga karena merupakan bahan yang alami dan berkelanjutan. Sebagai superfood, kekuatan astaxanthin dapat mencapai 500 kali manfaat vitamin E dan 6.000 kali lebih kuat dari vitamin C.

Saat ini, pabriknya memiliki kapasitas terpasang sebesar 192.000 liter per bulan dengan utilisasi mencapai 80%. Selanjutnya, Evergen berencana untuk melakukan scale up di tahun depan untuk mengembangkan sulfate polysaccharides serta fukosantin.

Pengembangan mikroalga, terutama astaxanthin, memiliki potensi besar untuk mendukung keberlanjutan dan ketahanan ekonomi Indonesia. Namun, tantangan yang ada memerlukan dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, industri, dan lembaga riset. Inisiatif seperti yang dilakukan oleh Evergen Resources menunjukkan bahwa dengan strategi yang tepat dan kolaborasi yang kuat, Indonesia dapat menjadi pemain utama dalam industri mikroalga global.

Ke depan, langkah-langkah seperti peningkatan investasi dalam R&D, pengembangan teknologi produksi yang lebih efisien, dan kebijakan yang mendukung perluasan pasar akan sangat penting. Dengan demikian, mikroalga dapat menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan di Indonesia. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved