Business Research

Ledakan Boikot Eyes on Rafah: Brand Global Terpukul, Brand Lokal Naik Daun!

Kampanye Eyes on Rafah berdampak positif untuk brand lokal. (dok Compas.co.id)

Pada 28 Mei 2024 viral kampanye Eyes on Rafah diikuti dengan gerakan boikot terhadap produk-produk yang disinyalir terafiliasi Israel. Data Compas.co.id pada periode 19 Mei hingga 15 Juni 2024 di Tokopedia dan Shopee ditemukan total jumlah produk terjual (sales quantity) dari 206 brand yang disinyalir terafiliasi Israel itu penjualan produknya turun sebesar 3% atau menjadi 6.673.745 dari 6.884.802 pada 2 minggu sebelumnya. Penurunan penjualan kian terasa pada 1 - 7 Juni 2024 yang terlihat dari sektor barang-barang konsumsi (FMCG) di e-commerce yang penjualan produknya turun sebesar 7%, menjadi 2.223.273 produk dari 2.407.460 produk.

CEO Co-Founder & CEO Compas, Hanindia Narendrata, menjelaskan, penurunan jumlah produk yang terjual ini disebabkan brand-brand yang terdampak dari aksi boikot pasca viralnya Eyes on Rafah. Berdasarkan data dashboard Compas pada 2 - 15 Juni 2024 teridentifikasi sekitar 92% dari 37 kategori produk ibu & bayi yang masuk list boikot itu mengalami penurunan penjualan. Pada brand kesehatan dari 29 brand yang masuk ke list, 74% dari jumlah ini mencatatkan penurunan penjualan jika dibandingkan dengan 2 minggu sebelumnya.

Begitu pula pada kategori makanan & minuman lantaran 74% dari 75 brand yang diboikot ini jumlah penjualan produknya menyusut. Sedangkan, 62% dari 85 brand di kategori perawatan & kecantikan juga mengalami hal sejenis.

Berdasarkan riset Compas, Narendrata menjelaskan konsumen yang mengikuti aksi boikot cenderung mengganti produk dengan brand lain yang tidak terafiliasi Israel, dan lebih memilih brand lokal sebagai substitusi produk.

Contoh temuan ini terefleksikan pada kategori perawatan dan kecantikan. Sebut saja manufaktur A, manufaktur B, dan manufaktur C sebagai brand global yang terdampak boikot mengalami penurunan jumlah produk terjual masing-masing 5,5%, 3,6% & 1,5%. Di saat yang sama Wings Group sebagai salah satu perusahaan nasional mengalami peningkatan jumlah produk terjual hingga 21,8%, diikuti oleh manufaktur lainnya seperti Paragon Technology and Innovation yang meningkat 5,7%, Kinocare Era Kosmetindo 5,0%, dan Tempo Scan 3,1%.

Pada kategori perawatan kecantikan masih ditemukan brand global yang mengalami kenaikkan pada periode campaign ini, yaitu KAO sebanyak 6,5%, dan 2 manufaktur yang brand-nya masuk ke dalam list boikot namun masih bertumbuh masing-masing 4,2% dan 2%.

Hal serupa terjadi di kategori makanan dan minuman lantaran brand global, yakni brand A, B, C, D & E mengalami penurunan penjulan yang masing-masing sebanyak 14,9%, 13,36% (untuk B & C), 7,8%, dan 5,3%. Sebaliknya, sejumlah manufaktur nasional di kategori ini mengalami pertumbuhan yang signifikan. Sebut saja Mayora yang mengalami peningkatan jumlah produk terjual sebanyak 9%, disusul oleh Wings Group 4,7%, Gunung Slamet Slawi 1,7% , dan Frisian Flag 0,7%.

Bergeser ke kategori kesehatan. Manufaktur yang disinyalir terafiliasi dengan Israel itu penjualannya turun hingga 15,4%, namun brand global seperti Bayer tumbuh dengan pesat di periode ini. Jumlah produk yang terjual naik sebesar 25,9%. Meskipun meningkat cukup tinggi, jenama nasional masih menjadi jawara yang mengalami peningkatan paling tinggi. Brand ini adalah Wings Group yang penjualan produknya meningkat 28,9%, disusul oleh Tempo Scan Group yang naik 0,9%.

Perubahan dari brand global ke brand lokal di kategori ibu & bayi yang paling terlihat jika dibandingkan dengan kategori FMCG lainnya. Penjualan brand global mengalami penurunan sebesar 18,3%. Di sisi lain, penjualan Wings Group meroket 38,5%, diikuti oleh Tempo Scan Group 12,6%, dan Inovasi Teknologi Untung Berkah naik 11,1%. Jika dilihat berdasarkan data manufaktur, kategori ibu dan bayi menjadi yang paling terdampak jika dibandingkan kategori lain di FMCG. “Melihat pantauan terkini melalui sosial media, diperkirakan gerakan boikot masih akan berlanjut. Kami berharap publikasi ini dapat menjadi actionable insight yang dapat membantu membangun strategi bisnis dan mengambil keputusan terbaik berdasarkan pada data,” tutur Narendrata. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved