Strategy

Jurus TIRA Atasi Pelarangan Impor Barang dan Menumbuhkan Bisnis

TIRA memproduksi gas industri dan gas medis. Kinerja penjualan TIRA pada 2023 turun. (dok TIRA)

Tahun 2023 menjadi tahun penuh tantangan bagi PT Tira Austenite Tbk (TIRA), khususnya akibat kebijakan larangan impor barang terbatas bagi importir umum (API-U). Kebijakan ini berdampak signifikan pada kinerja perusahaan, terutama Divisi Steel.

Dalam laporan konsolidasi tahun 2023, PT Tira Austenite Tbk mengalami penurunan penjualan sebesar Rp25,288 miliar atau 8,9%. Divisi Steel mencatat penurunan penjualan tertinggi, mencapai Rp42,1 miliar atau turun 22% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh kesulitan dalam penyediaan barang yang disebabkan oleh larangan importasi.

Namun, di tengah tantangan yang dihadapi Divisi Steel, PT Tira Austenite Tbk mampu meraih pertumbuhan di dua divisi lainnya. Divisi Gas mencatat kenaikan penjualan sebesar Rp15,5 miliar atau naik 20,3%, sementara Divisi Manufaktur berhasil meningkatkan penjualan sebesar Rp979 juta atau naik 4,7%. Pertumbuhan ini dicapai berkat dorongan perusahaan agar kedua divisi tersebut berkontribusi lebih terhadap kinerja keseluruhan perusahaan.

Kinerja positif Divisi Gas sepanjang tahun 2023 didorong oleh upaya perbaikan rantai pasok (supply chain) serta pertumbuhan bisnis beberapa produk utama seperti oksigen, karbon dioksida, dan acetylene. Selain itu, beberapa kontrak dan proyek baru juga berkontribusi pada peningkatan penjualan divisi ini.

Di sisi lain, pertumbuhan bisnis Divisi Manufaktur didorong oleh perbaikan fasilitas produksi serta kepercayaan dari beberapa perusahaan pertambangan yang mulai mengganti spare part OEM dengan produk Alpha Austenite. Sektor semen dan industri gula juga menunjukkan pertumbuhan yang baik, didukung oleh kontrak-kontrak Welding Electrode yang menarik.

Namun, tantangan utama di Divisi Steel tetap ada. "Divisi Steel kendala utamanya lebih kepada kesulitan penyediaan barang. Hal ini terlihat dari beberapa opportunity loss dan backlog order lebih dari Rp40 miliar yang menunggu supply barangnya pada tahun 2024,” ungkap Direktur TIRA, Soeseno Adi, dalam public expose, 1 Juli 2024.

Penjualan sampai dengan Q1 2024 juga menunjukkan penurunan dibandingkan Q1 2023, disebabkan keterbatasan pasokan barang di Divisi Steel. Surat Persetujuan Import (SPI) baru diperoleh pada 24 April 2024 dan efektif digunakan mulai Mei 2024. Barang-barang dari Pusat Logistik Berikat (PLB) diharapkan dapat memperbaiki kinerja perusahaan di akhir semester kedua tahun ini. Beberapa purchase order (PO) yang bernilai besar dan belum dapat ter-deliver di Q1 menjadi prioritas untuk diselesaikan pada Q2 dan seterusnya.

Untuk Divisi Gas, tahun 2024 dimulai dengan beberapa proyek baru untuk produk non existing di power plant maupun oil & gas. Selain itu, peningkatan kebutuhan CO untuk proyek di Morowali serta beberapa kontrak di sektor rumah sakit, semen, oil & gas, dan pertambangan akan menjadi fokus utama untuk menjaga dan meningkatkan kinerja divisi ini sepanjang tahun.

Divisi Manufaktur di Q1 2024 masih belum menunjukkan kinerja maksimal seiring dengan penurunan permintaan dari beberapa pelanggan utama. Namun, diharapkan pada Q2 permintaan akan kembali normal dengan beberapa pengembangan pasar yang terus dilakukan, khususnya di sektor pertambangan, semen, dan industri gula.

PT Tira Austenite Tbk berharap pemerintah terus memberikan kemudahan peraturan dan prosedur impor steel material. Perusahaan juga berupaya menambah fasilitas modal kerja untuk mempercepat pertumbuhan penjualan, mencapai skala ekonomi yang diharapkan dapat memperkuat profitabilitas dan likuiditas. Selain itu, pengembangan bisnis manufaktur untuk memperkuat portofolio bisnis, optimalisasi kontrak-kontrak dengan pelanggan utama, serta penanganan proyek-proyek di berbagai industri strategis akan terus dilakukan. Mengembangkan hubungan kemitraan yang baik dengan mitra, terutama pelanggan dan vendor, juga menjadi fokus utama perusahaan. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved