Technology

Deepfake Ancam Industri Perbankan, Solusinya Biometric Real Time

Ilustrasi foto : Istimewa

Proses eKYC (e-know your customer) merupakan salah satu persyaratan yang ditetapkan pemerintah Indonesia khbususnya pada industri keuangan. Verifikasi data nasabah menjadi sangat penting karena banyaknya kasus penipuan yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Apalagi kasus penipuan deepfake (memanipulasi video dan audio dengan bantuan AI) untuk melewati proses eKYC cukup marak sehingga perbankan perlu mengantisipasi dengan teknologi untuk mengidentifikasikan identitas digital.

Joe Palmer, Chief Innovation Officer dari iProov, mengatakan ada banyak cara lain bagi orang untuk meniru seseorang sehingga satu-satunya cara yang benar untuk membuktikan bahwa seseorang adalah sesuai dengan siapa yang ia klaim adalah dengan biometrik. “Karena biometrik pada dasarnya adalah Anda. Kita mencetak wajah di dokumen identitas. Jadi wajah adalah biometrik alami yang digunakan saat menyatakan bahwa Anda adalah sebuah identitas,” tuturnya pada keterangannya yang dilansir pada Selasa, (2/7/2024).

Teknologi deepfake berkembang demikian pesat. Saat ini, masyarakat global sudah mencapai titik puncak revolusi identitas digital, di mana informasi seseorang direpresentasikan dalam berbagai cara digital, seperti dimasukkan dalam chip elektronik dan disimpan dalam server di suatu tempat. Meski demikian, representasi bukanlah orang itu sendiri. Versi digital dari seseorang adalah kunci untuk mendapatkan layanan digital. “Pertanyaan besarnya adalah, bagaimana cara membuktikan bahwa saya adalah pemilik identitas digital ini? Kita perlu membuktikan bahwa identitas tersebut adalah milik kita dan bukan orang lain yang berpura-pura menjadi saya saat sedang online. Dan ini adalah masalah yang sangat sulit untuk dipecahkan.”

Saat ini, kata Joe, semua orang dapat menemukan hampir semua wajah di dunia maya, baik itu Facebook, LinkedIn, Twitter, sehingga jejaring sosial lainnya. “Anda dapat berasumsi bahwa foto tersebut kini menjadi kredensial publik. Oleh karena itu, seseorang dapat mewakili Anda jika mereka memiliki foto Anda. Jadi mencocokkan biometrik saja tidak cukup. Yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa biometrik yang diserahkan adalah asli versi real time dari orang tersebut. Inilah yang kami lakukan. Jadi kami mengatasi masalah ini selama 12 tahun untuk mengikat representasi digital Anda dengan fisik Anda yang sebenarnya melalui biometrik wajah,” tuturnya menjelaskan.

Ancaman deepfake terus berubah dan berkembang. Dan jika bank menyediakan layanan yang tidak diawasi, dan tidak banyak berubah, maka bank tidak tahu kapan serangan mulai berhasil. “Mungkin bertahun-tahun kemudian bank akan menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres,” tuturnya.

Dengan adanya pandemi Covid-19, proses eKYC mengalami percepatan yang pesat, terutama dari bank yang menawarkan hal tersebut untuk pembukaan rekening baru bagi pelanggannya. Indonesia adalah salah satu pemimpin di dunia dalam hal persentase bank yang memiliki saluran digital, yang mana adopsi teknologinya sangat fantastis dan sangat pesat. “Dan kita melihat sekarang pemerintah secara khusus menyadari bahwa mereka dapat memberikan solusi identitas digital nasional dan layanan verifikasi bio nasional kepada sektor publik dan swasta. Dan mereka menyadari bahwa biometrik adalah cara terbaik untuk melakukannya, karena itulah cara manusia mengikatkan diri pada identitasnya,” ungkap Joe.

Bank biasanya akan bekerja sama dengan penyedia teknologi yang membantu bank menerapkan proses eKYC. “Kami akan mengambil foto selfie orang tersebut untuk kemudian kami akan mengirimkan gambarnya kepada mereka dan memeriksa dengan membuat perbandingan. Apakah orang dengan potongan nomor itu cocok dengan selfie yang baru saja diambil. Jika pihak bank mengatakan cocok, maka langkah berikutnya akan dilanjutkan oleh bank tersebut. Jadi, itulah proses yang sangat sederhana saat ini.”

Joe mengatakan bahwa bank tidak bisa menunggu seperempat bulan atau bahkan seminggu untuk merilis pembaruan. Semua harus diubah secara real time atau sedekat mungkin dengannya. “Saya pikir itulah perubahan besar yang akan kita lihat, menjalankan verifikasi biometrik sebagai layanan adalah proses yang mahal. Anda harus memiliki orang, harus memiliki server yang harus dipantau, harus melatih ulang,. Secara keseluruhan kami memiliki tim yang sangat besar, dan kami yakin itulah satu-satunya cara agar Anda dapat menjaga keamanan di masa depan,” tuturnya. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved