Women Business Leaders

Perjalanan Strategis Novita Widya Anggraini dalam Meningkatkan ROE BNI Menjadi 20%

Tahun 2028, PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BNI) menargetkan bisa membukukan return on equity (ROE) sebesar 20%. Dan, angka tersebut harus sustainable dalam jangka panjang. Sementara, pertumbuhan bisnisnya ditargetkan sebesar 11% per tahun sampai tahun 2028, sejalan dengan pertumbuhan industri perbankan.

Memperbaiki angka ROE perusahaan merupakan salah satu tugas utama direktur keuangan. Di BNI, tanggung jawab itu ada di tangan Novita Widya Anggraini, yang menjabat Direktur Keuangan BNI sejak 2020. Tentu saja, itu bukanlah hal mudah, karena di tahun 2020 angkanya masih 2,6%.

Berbicara ROE di perbankan, banyak faktor yang memengaruhinya. Menurut Novita, target ROE tersebut dapat dicapai melalui peningkatan kualitas aset, dengan disiplin dalam memperbaiki profil risiko kredit melalui strategi de-risking portofolio kredit. “Ini kami lakukan sejak transformasi BNI yang bergulir di tahun 2021 hingga saat ini,” ujarnya.

Kemudian, BNI mengupayakan penurunan cost of credit (CoC), dengan target berada di level 1% mulai tahun 2025. CoC BNI tahun 2020 masih sebesar 4,1%.

Di samping itu, untuk mencapai angka ROE tersebut, diperlukan pula faktor pendukung lainnya. Yaitu, berupa perbaikan net interest margin (NIM) melalui efisiensi cost of fund (CoF).

Terkait hal ini, “Kami berusaha mengakselerasi pengembangan platform transactional banking untuk meningkatkan CASA (Current Account Saving Account) bagi nasabah wholesale maupun aplikasi new mobile banking bagi nasabah ritel,” kata Novita. CASA adalah dana murah yang bersumber dari deposito dan tabungan masyarakat.

Optimalisasi Margin

Ia menegaskan, salah kunci sukses perbankan ialah optimalisasi margin melalui pengelolaan sumber pendanaaan. Sayangnya, selama ini margin BNI belum menjadi best-in-class di perbankan Indonesia karena tingginya biaya dana. Kemudian, basis nasabah transaksional BNI masih belum optimal karena bank ini belum sebaik kompetitor utamanya.

Karena itu, “BNI memulai inisiatif penguatan digital banking sejak tahun 2022, mencakup banyak area, mulai dari penguatan talent di bidang TI (teknologi informasi), peningkatan belanja modal untuk TI, dan membuat roadmap digitalisasi yang jelas. Dan, dalam waktu dekat, BNI siap mengatasi ketertinggalan di bidang transaction banking melalui pembaruan aplikasi mobile banking dan cash management solution,” Novita mengungkapkan.

Tantangan lain yang dihadapi BNI, menurut eksekutif wanita yang pernah berkarier di Bank Mandiri ini, ialah sumber pertumbuhan bisnis yang belum merata. Saat ini, sumber pertumbuhan bisnis BNI hanya ditopang oleh segmen korporasi dan konsumer, sedangkan small medium enterprise (SME) dan komersial mampu menjadi mesin pertumbuhan.

“Kami melihat produktivitas kantor wilayah dapat ditingkatkan untuk mendorong pertumbuhan kredit segmen SME dan komersial, di samping untuk membangun basis nasabah tabungan yang lebih kuat,” katanya.

Tiga Strategi

Maka, untuk mencapai target ROE sebesar 20% yang sustainable dalam jangka panjang, BNI menjalankan program corporate planning yang mencakup tiga strategi utama, yaitu 3P (productivity, platform, dan proposition).

Terkait productivity (people), Novita menjelaskan, BNI membangun kapabilitas pegawainya agar menjadi world class bankir yang tidak hanya menawarkan basic financial services, tapi juga dapat menjadi partner bisnis nasabah, misalnya dengan memberikan jasa financial advisory dan business matchmaking.

Di sisi lain, tambahnya, produktivitas jaringan dan outlet BNI ditingkatkan dengan merelokasi jaringan outlet secara selektif: jaringan outlet di pasar yang besar dengan pertumbuhan lambat dipindah ke micro-market yang besar dan tumbuh.

Lalu, mendesain ulang peran tenaga pemasar dan merelokasi relationship manager (RM), dengan mengubah sales model, dari sebelumnya sales specialist menjadi sales generalist. Juga merelokasi RM di area yang bisnisnya kecil ke area yang lebih besar potensi bisnisnya.

Selain itu, BNI meningkatkan pula performance culture, dengan mengubah Performance Management System (PMS) melalui penerapan PMS 3D (Segment, Channel dan Product). Dengan demikian, peran setiap unit jelas dan dapat diukur secara transparan, serta redesign KPI (Key Performance Indicators) pun simpel dan lebih fokus menunjang pertumbuhan bisnis.

Dari sisi SDM, BNI melakukan revamp HC (human capital). Antara lain, dengan menyempurnakan talent management dalam rangka membangun future competitiveness untuk menjadikan BNI sebagai tempat terbaik untuk learn, grow, serta lead.

Selanjutnya, terkait strategi platform (TI), Novita menerangkan, BNI menanam investasi yang cukup besar untuk digitalisasi dan perbaikan infrastruktur TI. Tujuannya, memperkuat kualitas data, kapabilitas advanced analytics, dan operational excellence.

“Ini penting agar service yang kami berikan dapat melampaui ekspektasi nasabah. Di sisi lain, digitalisasi proses bisnis juga menurunkan risiko operasional dan menekan biaya operasional dalam jangka panjang,” tuturnya.

Digitalisasi pun diimplementasikan BNI pada pemrosesan kredit sampai Rp 10 miliar, dan ke depan akan ditungkatkan menjadi Rp 25 miliar, melalui pengembangan dan perbaikan credit scoring. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas kredit pada segmen SME dan komersial dengan ekspansi kredit yang sustain.

Sementara dari sisi operasional bisnis, BNI menyempurnakan End to End Credit Process melalui standardisasi, penguatan proses, dan digitalisasi dengan mengembangkan credit tools untuk proses bisnis yang lebih prudent. Tak hanya itu, BNI pun mengembangkan customer digital platform, dengan melakukan enhancement pada mobile banking yang lebih mengutamakan personal touch dengan berbagai fitur yang dibutuhkan oleh nasabah.

Dan, terkait strategi proposition, Novita menyampaikan, BNI membangun basis pendanaan yang kuat melalui upgrade kapabilitas mobile banking apps dan cash management platform. Dengan struktur pendanaan yang kuat, menurutnya, BNI akan mampu menyasar nasabah unggulan di segmen korporasi –diistilahkan sebagai blue chip companies.

“Suku bunga kredit yang diberikan sangat kompetitif, namun tingkat risikonya juga sangat rendah, sehingga profitabilitas BNI dalam jangka panjang akan membaik,” katanya.

Segmen SME

Di samping itu, untuk memperkuat proposisi perusahaan, BNI mengakuisisi Bank Mayora pada 2022, dan telah dilakukan rebranding menjadi Hibank, untuk menjadi bank digital dengan fokus bisnis pada segmen SME, seperti kebutuhan pembiayaan personal kepada pemilik SME dan customer retail dari SME.

Menurut Novita, segmen SME merupakan target pasar yang sangat besar dan saat ini belum terlayani dengan baik oleh lembaga-lembaga keuangan yang ada. Untuk jangka panjang, ia yakin BNI bisa mengoptimalkan bisnis baru ini dengan mendigitalisasi layanan perbankan di segmen SME melalui Hibank.

Angka ROE BNI sebesar 20% memang ditargetkan tahun 2025. Namun, dengan strategi yang dijalankan, tren positif sudah terlihat karena di tahun 2023 angkanya sudah berada di level 15,2%, jauh di atas tahun 2020 yang hanya 2,6%. Peningkatan ini terutama didukung oleh perbaikan profil risiko kredit: rasio non performing loan (NPL) turun dari 4,3% di tahun 2020 menjadi 2,1% di tahun 2023.

“Hal ini dicapai melalui rangkaian proses penguatan proses kredit yang mencakup pipeline management hingga proses collection. Dalam tiga tahun terakhir, profil kredit BNI bergeser ke nasabah korporasi blue chip dan segmen consumer dengan profil risiko rendah,” Novita menerangkan.

Peningkatan kontribusi pendapatan nonbunga atau fee-based income yang telah mencapai 32,4% dari total revenue di tahun 2023 juga turut andil pada peningkatan ROE BNI. Dari sisi efisiensi, dengan perbaikan pada bisnis proses, dapat menekan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) dari tahun 2020 sebesar 93,3% menjadi sebesar 68,4% di tahun 2023, serta cost to income ratio (CIR) turun menjadi 42,9%.

Akankah BNI membukukan ROE 20% di 2025? Kita tunggu saja. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved