Women Business Leaders

Weni Maulina, Dengan Minimum Supervision Kelola Direktorat Konstruksi MRT Jakarta

Posisi yang disandang Weni Maulina sangatlah penting. Insinyur karier yang telah berkarya selama 13 tahun di PT MRT Jakarta (Perseroda) itu sejak Maret 2023 memegang posisi sebagai Direktur Konstruksi.

Sebagai salah satu perusahaan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, MRT Jakarta punya peran strategis. Perusahaan ini bergerak di bidang konstruksi, operasional dan pemeliharaan, serta pengembangan bisnis sarana dan prasarana perkeretapian perkotaan modern. Peran lainnya ialah pengembangan kawasan di sekitar stasiun MRT.

Peran penting Weni ialah memimpin direktorat yang ditugaskan untuk mengembangkan jalur MRT. Saat ini proyek pengembangan jalur itu mencakup: Proyek MRT Utara-Selatan Fase 2A (Bundaran HI-Ancol) sepanjang 12 km dan Proyek MRT Timur-Barat Fase 1 Stage 1 (Tomang-Medan Satria) sepanjang 30,1 km. Estimasi total nilai pembangunan proyek ini di atas Rp 50 triliun.

Direktorat ini juga ditugaskan untuk mendukung pengembangan kawasan melalui pembangunan proyek-proyek TOD (Transit-Oriented Development) MRT. “Kami tentunya berkewajiban menghadirkan infrastruktur dan layanan yang berkelas internasional dengan teknologi dan inovasi terbaik,” katanya.

Tantangan Internal-Eksternal

Dalam menjalankan peran ini, ada sejumlah tantangan yang dihadapinya, baik internal maupun eksternal. Tantangan internal, di antaranya, relatif terbatasnya anggota Tim Konstruksi, yakni kurang dari 80 orang.

Tantangan lainnya terkait posisinya sebagai perempuan muda yang memimpin direktorat yang masih didominasi karyawan laki-laki dan tak sedikit yang lebih senior dari segi usia. “Meskipun saya sudah cukup lama di Direktorat Konstruksi, sejak 2009, saya tetap harus beradaptasi dengan posisi baru ini,” ungkapnya.

Tantangan eksternal, antara lain karena pendanaan proyeknya melalui skema three sublevel agreement, yaitu Kementerian Perhubungan sebagai executing agency, Pemprov DKI Jakarta sebagai implementing agency, dan MRT Jakarta sebagai sub-implementing agency. Ini skema pertama di Indonesia.

Karena itu, secara natural, birokrasinya lebih panjang, kompleks, dan rumit. “Mengelola arahan dan peraturan dari tingkat pusat hingga daerah lalu menerjemahkannya ke tingkat pekerjaan adalah seni tersendiri,” katanya.

Selain itu, Weni dan tim juga punya tantangan untuk dapat membangun koordinasi dengan para mitra, yakni pihak Japan International Cooperative Agency (JICA) sebagai lender (pemberi pinjaman), mitra kerja kontraktor, dan pihak konsultan. Menurutnya, merupakan tantangan tersendiri untuk memastikan hasil dan kualitas pekerjaan sesuai dengan spesifikasi kontrak yang telah disepakati.

Ada pula tantangan eksternal yang terkait urusan teknis. Yang sering dijumpai ialah urusan pembebasan lahan yang tak mudah. Juga adanya kemungkinan kondisi di lapangan yang tak sesuai dengan perkiraan dan membutuhkan solusi engineering yang cepat.

Meskipun dihadang berbagai tantangan tersebut, Direktorat Konstruksi yang dipimpin Weni menargetkan dapat memenuhi Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) dalam hal pengembangan jalur baru. MRT Jakarta sendiri punya mandat untuk membangun, mengoperasikan, serta memelihara sarana dan prasarana moda transportasi MRT.

Tiga Strategi

Untuk mencapai target tersebut, sejumlah strategi dijalankan. Pertama, meningkatkan kapabilitas dan integritas tim. Kapabilitas yang utama tentunya terkait kompetensi di bidang konstruksi infrastruktur MRT.

Tak kalah pentingnya, menjaga integritas tim. “Saya selalu tularkan kepada tim saya agar mereka tetap menjaga integritas, khususnya dalam pekerjaan proyek di lapangan,” kata Weni. Ia mengingatkan bahwa membangun infrastruktur MRT harus dijalankan dengan good governance dan anggaran yang efisien.

Kedua, menjalankan harmonisasi pemangku kepentingan (stakeholders). Menurutnya, kunci keberhasilan koordinasi di antara pemangku kepentingan ini adalah saling berkomunikasi. Ia memetakan para stakeholder kunci dan berdiskusi dengan mereka agar mengarah pada visi yang sama.

Ketiga, memberdayakan para mitra dan membangun kapasitas industri. Pihaknya melakukan upaya pemetaan dan membangun engagement dengan mitra-mitra terkait untuk memahami kondisi aktual. Dari pemetaan tersebut, pihaknya merumuskan program dan strategi untuk dapat bekerjasama dengan para mitra pembangunan, dengan memperhatikan aspek good governance.

Yang tak kalah penting, pihaknya juga mendorong agar industri lokal dapat terlibat aktif, sekaligus dapat meningkatkan kapasitas mereka dalam pembangunan infrastruktur MRT ini.

Karier profesional Weni di Direktorat Konstruksi MRT Jakarta selama lebih dari 13 tahun diawali dengan menjadi engineer, hingga kemudian dipercaya sebagai direktur. Dengan perjalanan karier yang panjang itu, ia mengenal semua pihak yang terlibat dalam proyek-proyek MRT, dari Fase 1 hingga sekarang.

Dari perjalanan itu pula, ia mengaku selalu belajar dan mengamati pendekatan apa yang dibutuhkan dalam memimpin perusahaan ini. Khususnya, di Direktorat Konstruksi.

Hingga April 2024, ada lima divisi dan 79 karyawan di Direktorat Konstruksi. Demografi karyawannya bervariasi, dari usia 20-an hingga 40-an. “Selayaknya pemimpin yang baik, saya harus bisa memahami karakter dan kemampuan tim, agar proses kerja dapat dilakukan dengan hambatan seminim mungkin,” katanya.

Minimum Supervision

Dalam mengarahkan tim, Weni mengutamakan pendekatan minimum supervision. Saat ini ia merasa timnya sudah dapat bekerja secara autopilot . “Mereka seperti sudah memahami bagaimana saya akan mengarahkan atau mengambil keputusan pada suatu kondisi,” katanya.

Ia pun selalu menantang timnya agar bekerja tidak hanya berdasarkan tugas dan fungsi jabatan. Harapannya, agar mereka mendapatkan lebih banyak pengalaman, pengetahuan, dan keahlian lain di luar keterampilan profesional mereka. “Ke depannya, mereka akan lebih mandiri, bahkan memiliki kapabilitas dan karier yang lebih baik, baik di MRT Jakarta ataupun di perusahaan lain,” katanya.

Untuk mengawal pencapaian target pekerjaan, Weni menetapkan milestone kecil per kuartalnya dan melakukan monitoring melalui rapat bulanan dan mingguan, terutama dengan kepala divisi.

Sebagai pemimpin, ia merasa harus melakukan kaderisasi. Prinsipnya ialah kemandirian dalam menjalankan tugas, karena menurutnya setiap orang pada dasarnya adalah pemimpin. Untuk itu, ia merasa timnya perlu mengikuti pelatihan resmi terkait profesinya, menyediakan informal coaching dalam pekerjaan sehari-hari, serta memberikan tugas-tugas khusus dilengkapi dengan pendampingan yang terarah.

Weni juga mendorong para leader di direktoratnya untuk berpikir kreatif agar hasil kerja lebih optimal. Tak mengherankan, inovasi pun didorongnya, antara lain dengan penerapan digital construction di MRT Jakarta.

Dengan strategi dan pendekatan kepemimpinannya, telah ada sejumlah capaian dan keberhasilan tim Direktorat Konstruksi. Yang patut dicatat, antara lain terealisasinya penandatanganan paket kontrak CP205 Railway System and Trackwork Fase 2A, yang sebelumnya mengalami kegagalan tender sejak 2020. Kegagalan tersebut mendorong kami untuk mengubah metode dan strategi tender sehingga akhirnya membuahkan hasil,” katanya.

Keberhasilan lainnya, MRT Jakarta berhasil mendorong terjadinya pledge (komitmen) pendanaan proyek MRT Koridor Timur-Barat dari pihak Jepang. Agustus 2024 menjadi target ground breaking koridor tersebut.

MRT Jakarta juga berhasil mewujudkan praktik digital construction, yang komitmennya dicanangkan sejak 2018 pada saat penyusunan dokumen tender Fase 2A. Digitalisasinya antara lain dengan pemanfaatan teknologi BIM, yang sudah menjadi bagian dari syarat kontrak. Di samping itu, melalui Direktorat Konstruksi juga telah berhasil menyusun roadmap untuk Digital Construction, dan memiliki unit khusus yang mengelolanya.

Adapun dari sisi pembangunan Proyek MRT Fase 2A, Weni menunjukkan data bahwa capaian aktualnya secara keseluruhan lebih cepat daripada yang ditargetkan. Hingga akhir Maret 2024, kemajuan fisik dari proyek ini secara aktual 33,36%, melebihi target 31,44%. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved