Women Business Leaders

Reni Wulandari, Pimpin Operasional SIG dengan Strategi Cost Leadership dan Greenification

Bicara soal semen di Indonesia, tentu tak bisa dilepaskan dari nama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SIG). Maklumlah, BUMN ini masih memiliki keunggulan bersaing sebagai market leader di Indonesia, yang memegang pangsa pasar sekitar 50%. Perusahaan ini didukung oleh fasilitas produksi dan distribusi yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia serta multibrand yang memiliki kekuatan sektoral.

SIG, sebagai holding company BUMN Semen di Indonesia, memiliki kapasitas produksi 56,5 juta ton semen per tahun, yang diproduksi oleh sembilan pabrik semen terintegrasi di Indonesia dan Vietnam. Tekanan kompetisi bisnis yang semakin ketat mendorong perusahaan ini untuk meningkatkan kinerja dengan melakukan peningkatan di berbagai lini, baik dari sisi penjualan (top line) maupun dari sisi cost leadership.

Bagi Reni Wulandari, yang menjabat sebagai Direktur Operasi SIG, sasaran utama dalam bidang operasional pabrik semen ialah dapat berkontribusi positif terhadap kinerja SIG. Karena itu, ia menetapkan pendekatan sustainable development aspect, yang mencakup sisi profitability, planet, dan people.

Reni dan timnya pun menyusun berbagai inisiatif dalam rangka meningkatkan pengelolaan core business serta keselarasan (alignment) antarlini bisnis. Termasuk sasaran-sasaran yang harus dicapai oleh Direktorat Operasi SIG yang yang melibatkan seluruh anak usaha bidang industri semen.

Cost Leadership

Sasaran yang dimaksud, yakni tercapainya cost leadership untuk menghasilkan biaya produksi yang paling kompetitif di industri yang diukur melalui cost of good manufactured (COGM) per ton semen; tercapainya industry greenification yang diukur melalui penurunan emisi gas rumah kaca sesuai dengan target road map yang telah ditetapkan SIG; kebermanfaatan; serta kesiapan sumber daya manusia untuk keberlangsungan kegiatan usaha.

Menurut Reni, strategi untuk mencapai cost leadership dilakukan melalui kerangka implementasi program Manufacturing Operation Excellence di seluruh pabrik semen yang dimiliki SIG. Di antaranya, melalui inisiatif untuk menurunkan komponen biaya terbesar dalam memproduksi semen; penggunaan energi panas, energi listrik, dan bahan baku secara efisien; serta pemilihan energi dan material mix berbasis bahan baku dan bahan bakar terbarukan (alternative fuel & raw materials/AFR) dalam proses produksi semen.

Bahan baku dan bahan bakar terbarukan berasal dari limbah, baik limbah industri, limbah pertanian, maupun sampah domestik. “SIG merupakan pionir dan pemimpin terdepan pabrikan semen dalam penggunaan bahan baku dan bahan bakar terbarukan di Indonesia,” kata Reni.

Ia menyebutkan, SIG berhasil mengakuisisi dan menerapkan teknologi untuk me-recover mineral komponen pembuatan semen dan kandungan bahan bakar yang masih tersimpan di dalam limbah dan sampah. Yang berhasil diolah dan dimanfaatkan SIG antara lain limbah biomassa pertanian, limbah industri, dan hasil olahan sampah domestik yang disebut Refused Derived Fuels (RDF), yang selama ini harus dibuang ke tempat pembuangan akhir.

Dengan teknologi RDF, sampah domestik tersebut bisa ditransformasikan menjadi bahan bakar alternatif. Melalui program ini, kata Reni, SIG tidak hanya mencapai efisiensi biaya, tapi juga memberikan jawaban atas permasalahan bersama terkait pengolahan limbah dan sampah domestik.

Transformasi Digital

Dalam hal penggunaan bahan baku dan energi yang lebih efisien, SIG telah mengimplementasikan transformasi digital dalam proses produksinya. Transformasi digital ini di antaranya berupa implementasi plant optimizer yang menggunakan teknologi machine learning dan predictive system berbasis artificial intelligence, sehingga menghasilkan konsumsi energi yang efisien, produktivitas yang optimum, dan kualitas produk yang terjaga.

Dalam hal pemeliharaan pabrik, SIG menerapkan sensor berbasis machine learning dan memberikan sinyal prediktif untuk melakukan program pemeliharaan tanpa menunggu terjadinya kerusakan peralatan yang lebih parah.

Dalam bidang operasional yang membutuhkan keahlian teknis, SIG memastikan tersedianya pelatihan dan sertifikasi teknis sesuai dengan kebutuhan, berbasis multiskill approach dan identifikasi key talent untuk mengikuti program development sesuai levelnya. Program development ini juga merupakan upaya SIG untuk memastikan terjadinya transfer of knowledge dari generasi ke generasi untuk memastikan keberlangsungan operasional pabrik semen di bawah naungannya.

Sementara itu, gaya leadership yang diterapkan Reni tidak terlepas dari penerapan core values AKHLAK yang secara konsisten mewarnai model dan pola interaksi sehari hari. Setiap karyawan memiliki pemahaman atas tujuan yang akan dicapai dan ditransmisikan dalam KPI individual mereka, termasuk langkah-langkah yang akan diambil dalam mencapai tujuan tersebut.

Tim mengadakan beberapa kali pertemuan untuk menyepakati tujuan, mengontrol kinerja, serta sebagai proses feedback dan coaching seiring dengan dinamika situasi yang dihadapi. Tentunya, juga ada momen selebrasi atas pencapaian tim.

Selain itu, Reni menggelar Leadership Forum tiga bulan sekali, sebagai media untuk evaluasi kinerja dan langkah-langkah ke depan yang harus diambil. Forum ini juga sebagai kesempatan untuk berbagi best practices antar-unit operation, pemberian apresiasi untuk para best performer, dan pengingat untuk area-area yang masih perlu peningkatan. “Agenda ini selain meningkatkan level engagement, juga efektif untuk menjaga motivasi karyawan,” katanya.

Dengan implementasi program-program yang berbasis cost leadership dan green industry, sudah ada sejumlah pencapaian. Di antaranya, penurunan biaya produksi sebesar 2% dibandingkan tahun lalu. Hasil ini lebih bagus bila dibandingkan dengan kompetitor terdekat yang hanya berhasil menurunkan 0,7% biaya produksinya dibandingkan tahun lalu.

Capaian lainnya, penurunan emisi gas rumah kaca sesuai dengan yang ditargetkan dalam road map penurunan gas rumah kaca, yaitu di angka 586 kg/ton semen, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Juga, pencapaian net overall equipment efficiencies yang menunjukkan tingkat reliability dan produktivitas pabrik SIG di level 86% lebih bagus dibandingkan standar internasional yang sebesar 85%. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved