Management

Tiga Pilar Strategi Vidio Menghadapi Raksasa Global

Yoseph Christianto, VP Business Development Vidio, optimistis Vidio akan terus berkembang di tengah persaingan yang ketat (Foto: Wisnu Tri Rahardjo)

Sulit dipungkiri untuk mengatakan Vidio adalah salah satu bintang di tengah dinamika industri layanan video streaming di Tanah Air. Di tengah serbuan raksasa-raksasa asing seperti Netflix, HBO, Disney+, dan Prime Video yang merangsek untuk mengambil isi dompet orang Indonesia, Vidio berdiri tegak menghadapi mereka.

Sebagai pionir layanan subscription video on demand (SVOD) lokal, Vidio telah mengukir prestasi: meraih 4,1 juta pelanggan berbayar per akhir 2023. Menurut laporan Media Partners Asia (MPA), platform memimpin pasar platform OTT (over-the-top) untuk SVOD di Indonesia dalam hal jumlah pelanggan, unduhan, pengeluaran konsumen, serta pengguna aktif bulanan.

Pertanyaannya sekarang: bagaimana Vidio melakukan itu? Bagaimana anak usaha Emtek Group ini berkompetisi dengan para raksasa?

Dari perbincangan di siniar BizzComm Podcast - SWA & LSPR Faculty of Business pada 2 Juli 2024, bersama Yoseph Christianto, VP Business Development Vidio, terungkap tiga strategi yang dikembangkan sehingga Vidio berkembang seperti sekarang.

Pertama, konten yang kuat.

Yoseph menceritakan awal mula lahirnya Vidio dengan penuh antusiasme. Awalnya, Vidio didirikan dengan konsep platform video user-generated content (UGC), serupa YouTube, dalam versi Indonesia. Karena gagasan ini tak berjalan dan terlihat bisnis OTT lebih menjanjikan, Emtek Group langsung mengubah haluan menjadikan Vidio pemain SVOD mulai tahun 2018.

Aksi pivot ini menimbulkan konsekuensi baru. Vidio berada dalam medan bisnis yang menjadikan "content is king" sebagai basis keunggulan. Menyiasati hal tersebut, Vidio pun menjalin kerjasama dengan para content creator. Sejak 2020, mereka berinvestasi pada produksi konten original berupa serial sinetron. Sejumlah rumah produksi pun digandeng, seperti Screenplay Films, Base Entertainment, Sky Films, SinemArt, dan Amadeus Entertainment.

Perlahan tapi pasti, penerimaan pasar sangat positif. Hingga saat ini, Vidio bisa menghasilkan 2 judul setiap bulannya sehingga total ada 81 original series mencakup berbagai genre untuk menarik beragam demografi penonton. Joseph menjelaskan bahwa target Vidio adalah terus meningkatkan produksi konten orisinal setiap tahunnya, dengan tujuan menghasilkan lebih dari 100 judul orisinal dalam beberapa tahun ke depan. Untuk mencapai target ini, mereka bekerja sama dengan penulis, sutradara, aktor lokal berbakat, serta bermitra dengan platform seperti Wattpad untuk menemukan serta mengadaptasi cerita-cerita populer menjadi serial.

Pandemi, diakui Joseph memainkan peran bagi kesuksesan Vidio. Pandemi COVID-19 membawa perubahan signifikan dalam perilaku konsumen, dengan banyaknya orang mengandalkan hiburan di rumah. "Pandemi membawa banyak orang ke platform kami karena mereka mencari hiburan di rumah. Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan nilai dari layanan premium kami," kata Joseph.

Dengan meningkatnya permintaan, Vidio mempercepat produksi konten orisinal. Namun, untuk mempertahankan serta menarik pelanggan baru -- sekaligus bersaing dengan raksasa asing --, mereka harus memperluas penawaran konten. Dan pilihan itu pun jatuh pada tayangan olahraga eksklusif. Dengan menayangkan berbagai liga olahraga populer seperti sepak bola dan bulu tangkis, Vidio ingin memastikan pengguna memiliki akses ke konten yang relevan dan menarik selama masa sulit tersebut. Bahkan Vidio ingin menjadi platform yang lengkap untuk sebuah keluarga karena isinya terentang dari film, sinetron, sampai olahraga.

"Mengambil eksklusivitas dalam olahraga adalah strategi yang tepat dalam menghadapi para pesaing. Sport adalah aset mahal dan tidak semua orang bisa bermain di sana. Emtek melihat peluang ini dan memutuskan untuk bertaruh pada sport sebagai poin penting," jelas Joseph penh kebanggaan.

Langkah ini terbukti efektif, terutama selama pandemi ketika banyak orang mengandalkan hiburan di rumah. Dan di titik ini, pada tahun 2022, Vidio mendapat momen penting ketika mendapatkan hak siar Liga Inggris, yang makin memperbesar jumlah pelanggannya mengingat banyaknya fans sepakbola di Tanah Air.

Kedua, edukasi pasar.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Vidio sepanjang perjalanan hidupnya adalah mengedukasi pasar tentang pentingnya berlangganan konten premium. Banyak pengguna di Indonesia terbiasa dengan konten gratis, sehingga diperlukan upaya ekstra untuk menjelaskan nilai dari konten berkualitas yang memerlukan biaya.

Untuk mengatasi ini, Vidio menggunakan berbagai strategi pemasaran, termasuk kampanye iklan, promosi, dan menawarkan uji coba gratis. "Sampai sekarang, sebenarnya orang masih komplain kenapa nonton bola sekarang bayar? Namun, masyarakat mulai memahami bahwa sport itu mahal dan berlangganan memberikan mereka akses ke hampir semua pertandingan," ungkap Joseph.

Di samping mengedukasi pasar, Vidio juga memanfaatkan media sosial dan platform digital lainnya untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Dilakukan kampanye pemasaran yang agresif serta kolaborasi dengan berbagai mitra seperti telco dan e-commerce, termasuk community gathering dengan klub-klub sepakbola lokal yang memiliki fan base besar. Dengan menampilkan testimoni pengguna serta konten eksklusif untuk pelanggan berbayar, perlahan tapi pasti Vidio berhasil menarik minat penonton untuk berlangganan.

Ketiga, adaptasi teknologi untuk customer experience.

Bersaing dengan raksasa global seperti Netflix dan Disney+ tidak cukup hanya dengan konten sinetron lokal dan sport. Melengkapi dua strategi tersebut, Vidio berupaya memaksimalkan teknologi agar para pelanggannya mendapatkan level customer experience yang tinggi. Salah satu yang dimanfaatkan adalah AI (kecerdasan buatan) untuk rekomendasi konten yang lebih personal.

Teknologi AI memungkinkan Vidio untuk menganalisis data perilaku pengguna, seperti riwayat tontonan, preferensi genre, dan pola penggunaan. Berdasarkan data ini, AI dapat merekomendasikan konten yang sesuai minat dan kebiasaan setiap pengguna, membuat pengalaman menonton menjadi lebih memuaskan dan efisien.

Selain itu, AI juga digunakan untuk mengoptimalkan fungsi pencarian di Vidio, sehingga pengguna dapat dengan mudah menemukan konten yang mereka inginkan, bahkan jika mereka tidak tahu judul spesifik dari video yang mereka cari. Algoritma pencarian yang cerdas ini mampu mengenali sinonim, ejaan yang salah, dan konteks pencarian untuk memberikan hasil yang lebih akurat dan relevan.

Dengan AI yang memantau dan mengelola konten, Vidio memastikan pengguna mendapatkan pengalaman menonton yang lebih aman dan berkualitas. "AI bisa membantu merekomendasikan konten yang cocok bagi penonton, terutama saat mereka bingung memilih dari banyaknya pilihan konten yang ada," tambah Joseph.

Berebut Kue yang Gemuk

Melalui strategi konten yang kuat, edukasi pasar yang efektif, dan adaptasi terhadap inovasi teknolog, Joseph mengungkap Vidio optimistis untuk bersaing dalam industri video streaming di Indonesia, menghadirkan konten berkualitas yang dapat dinikmati seluruh keluarga.

Ketiga strategi ini sendiri sangat penting untuk dieksekusi secara konsisten karena pasar video on demand di Tanah Air terus membesar. Penetrasi smartphone yang mencapai 92,5% dan jumlah pengguna internet yang melonjak hingga 213 juta orang menjadi lahan subur bagi para pemain SVOD, termasuk raksasa asing untuk memperebutkannya.

Dalam panggung global, prediksi pendapatan dari pasar SVOD mencapai US$108,50 miliar pada tahun 2024, dengan proyeksi pendapatan di Asia mencapai US$32,64 miliar.

Media Partners Asia (MPA) mencatat Vidio memiliki potensi besar untuk memperluas pangsa pasarnya di masa mendatang. MPA juga mencatat bahwa pertumbuhan bisnis SVOD di Indonesia adalah yang tertinggi di Asia, dengan pertumbuhan pendapatan mencapai 72% dalam lima tahun terakhir, unggul dari Korea Selatan dan Thailand.

Namun, potensi ini tentunya bukan tanpa tantangan. Agar tidak menjadi penonton di negeri sendiri, Vidio harus terus berinovasi serta beradaptasi dengan perubahan yang cepat dalam preferensi konsumen dan teknologi. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved