Automotive

Gandeng Otoklix, Produsen Kendaraan Listrik Vietnam VinFast Masuk Indonesia

VinFast masuk Indonesia menggandeng Otoklix sebagai partner layanan perbaikan. (dok OtoKlix)

Produsen kendaraan listrik (EV) asal Vietnam, VinFast, secara resmi memasuki pasar Indonesia pada awal tahun ini. Usai mendirikan dealer baru di Depok, Jawa Barat, VinFast mengumumkan akan segera menginvestasikan US$1,2 miliar untuk membangun pabrik perakitan lokal dengan kapasitas mencapai 60 ribu mobil per tahun.

Didukung oleh perusahaan modal ventura terkemuka di kawasan Asia Tenggara, AC Ventures, startup layanan dan perbaikan otomotif lokal, Otoklix baru-baru ini menandatangani kesepakatan dengan VinFast untuk menjadi penyedia layanan resmi bagi pelanggan merek tersebut di seluruh negeri. Otoklix mencatat pertumbuhan pendapatan utama yang meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya pada kuartal ketiga 2023, bersamaan dengan peningkatan signifikan dalam unit ekonomi, dan semakin dekat dengan profitabilitas.

“Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara di mana pemerintah secara aktif mendukung kendaraan listrik, sebuah komitmen yang diharapkan akan berlanjut di bawah kepemimpinan presiden yang akan datang. Investasi pemerintah difokuskan pada elemen infrastruktur penting seperti memperluas jaringan stasiun pengisian dan meningkatkan opsi pembiayaan,” kata Co-founder dan CEO Otoklix, Martin Reyhan Suryohusodo, Senin (8/7/2024).

Martin juga menilai investor global seharusnya memikirkan masa depan pengisian baterai versus pertukaran baterai di Indonesia. Stasiun pertukaran baterai memerlukan investasi modal yang besar dalam infrastruktur. Saat ini, NIO di China adalah contoh nyata di mana investasi besar telah dilakukan dalam teknologi ini. Awalnya, Tesla mempertimbangkan pendekatan ini tetapi mengurungkan niat karena biaya yang tinggi.

“Salah satu masalah krusial bagi investor global yang tertarik pada pasar kendaraan listrik di Indonesia adalah kejelasan regulasi tentang penjualan listrik komersial. Saat ini, semua penjualan listrik komersial harus melalui PLN, perusahaan listrik negara Indonesia yang dapat menjadi tantangan bagi penyedia stasiun pengisian pihak ketiga,” ujarnya.

Fokus pada Keterampilan, Kemudian Pasokan

Martin membahas dampak jangka panjang adopsi kendaraan listrik terhadap pasar otomotif purna jual. Ia menyoroti, seiring perkembangan teknologi kendaraan, layanan khusus seperti perawatan baterai dan manajemen perangkat lunak akan semakin diminati. Otoklix merespons hal ini dengan melakukan investasi proaktif dalam hal pelatihan dan infrastruktur. Langkah ini bertujuan untuk memposisikan perusahaan di garis depan dalam era baru ini.

Perusahaan telah meluncurkan sebuah akademi khusus yang fokus pada pelatihan mekanik dalam semua aspek layanan kendaraan listrik. Tujuan dari inisiatif ini adalah untuk mengatasi kebutuhan mendesak akan tenaga kerja yang terampil dalam persyaratan khusus kendaraan listrik, dengan fokus utama pada keamanan dan keahlian teknis.

Di akademi, perusahaan mengajarkan bahwa melayani kendaraan listrik bukan hanya tentang aspek mekanis—seperti rem atau ban, yang mirip dengan mobil berbahan bakar bensin—tetapi yang lebih penting adalah tentang perangkat lunak dan komponen listrik, terutama baterai. Tidak seperti kendaraan tradisional, pengguna tidak mengganti seluruh baterai pada kendaraan listrik ketika satu bagian baterai gagal, pengguna hanya perlu mengganti bagian tersebut, bukan seluruh baterai. Memastikan segel yang rapat selama proses ini sangat penting untuk mencegah kerusakan dari kelembaban atau kotoran.

“Ini membutuhkan keterampilan teknis, serta praktik keselamatan yang tepat. Yang sangat penting, mekanik harus memakai sarung tangan berinsulasi dan menggunakan alat khusus untuk menghindari bahaya listrik, sebuah pergeseran mendasar dari perbaikan mobil konvensional,” ucap Martin.

Berbicara mengenai cadangan nikel Indonesia dalam rantai pasokan bengkel, Martin mengatakan, saat ini, pihaknya tidak memusatkan perhatian pada hal itu, meskipun Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Pergeseran dalam industri kendaraan listrik ke arah baterai lithium yang lebih ekonomis memengaruhi keputusan ini. Meskipun Indonesia menghasilkan jumlah nikel yang signifikan, sebagian besar diproses menjadi baja tahan karat daripada bahan baterai. Hal ini disebabkan oleh infrastruktur industri yang ada dan kemampuan yang lebih terfokus pada produksi baja tahan karat.

“Indonesia membutuhkan jenis smelter khusus untuk pengolahan nikel yang cocok untuk produksi baterai, yang dikenal sebagai HPAL (High-Pressure Acid Leach). Metode ini membutuhkan proses pemurnian intensif. Saat ini, hanya dua atau tiga perusahaan di Indonesia yang mengoperasikan smelter semacam itu, dan sebagian besar produksi mereka diekspor,” ucapnya. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved