Capital Market & Investment

Harga Bitcoin Berpotensi ke US$60 Ribu, Ini Faktornya

Grafik fluktuasi harga Bitcoin. (dok Tokocrypto)

Bitcoin (BTC) telah menunjukkan volatilitas harga yang tinggi akhir-akhir ini. Penurunan tekanan jual menyebabkan BTC jatuh di bawah zona support utama di US$60.000, menyentuh level sekitar US$57.000 atau sekitar Rp927 juta. Ini berarti harga Bitcoin telah mengalami penurunan sekitar 16% dari level tertingginya di US$73.000.

Para analis menilai penurunan ini dipicu oleh berbagai sentimen negatif, termasuk penjualan BTC oleh pemerintah Jerman dan Amerika Serikat, serta distribusi Bitcoin dari MTGox dan peristiwa positif mendatang seperti distribusi uang tunai FTX yang dapat meningkatkan harga. "Setelah penurunan drastis mencapai harga US$53.500, minat beli dari investor mulai meningkat, memungkinkan BTC untuk kembali menguji support sebelumnya di sekitar US$56.500. Meskipun struktur jangka pendek BTC masih bearish, tren jangka menengah hingga panjangnya tetap bullish," ujar Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, Rabu (10/7/2024).

Namun, Fyqieh menekankan fluktuasi terbaru Bitcoin telah menurunkan harga di bawah moving average 50 hari dan 200 hari, yang menimbulkan keraguan terhadap kelanjutan tren naik ini. Meski demikian, harga BTC perlahan mulai pulih. Salah satu faktor yang bisa mendorong harga Bitcoin kembali ke level US$60.000 adalah perkembangan signifikan terkait ETF Ethereum dan dampaknya terhadap BTC. Menurut laporan terbaru, enam perusahaan manajemen aset sedang bersaing untuk mendapatkan izin perdagangan ETF Ethereum dan telah menyerahkan formulir S-1 yang diperbarui, menunjukkan persetujuan SEC mungkin akan segera terjadi.

Bitcoin pada kondisi oversold, dengan dua katalis potensial yang bisa mendongkrak harga, ini data CPI AS dan kemungkinan persetujuan SEC terhadap ETF Ethereum pada 18 Juli mendatang. Peristiwa ini dapat memicu short-covering dan reli singkat, memberikan kelegaan sementara dari tren penurunan saat ini dan memberikan indikasi arah masa depan Bitcoin.

Fyqieh menjelaskan skenario untuk kemungkinan pemulihan pasar. Ia mencatat indikator oversold menunjukkan potensi pembalikan jangka pendek, dengan dua dari tiga indikator pembalikan sekarang bullish. Meskipun Bitcoin menghadapi tantangan baru-baru ini, Indeks Kekuatan Relatif (RSI) berada di angka 38%, menunjukkan kondisi yang siap untuk kenaikan singkat. "Namun, kehati-hatian diperlukan. Jika Bitcoin gagal menembus kisaran US$60.000-US$62.000, tekanan penurunan lebih lanjut bisa terjadi. Selama harga Bitcoin mampu bertahan di atas US$53.500, kita dapat mengantisipasi kembalinya BTC di atas US$58.500," katanya.

Resistensi berikutnya yang perlu dipertimbangkan adalah zona US$60.000 hingga US$61.000. Jika pergerakan bullish berlanjut, target berikutnya adalah US$63.800, yang akan menunjukkan peningkatan sekitar 12%. Melihat kembali siklus kenaikan harga sebelumnya, pola serupa diamati pada tahun 2016 dan 2020. Meskipun sulit untuk menentukan kapan periode penyesuaian akan berakhir, data menunjukkan hal itu tidak akan lama lagi. Tren saat ini menunjukkan bahwa kita mungkin akan menyaksikan dimulainya reli kenaikan harga baru pada kuartal ketiga tahun 2024.

Potensi kenaikan suku bunga dapat mendorong Bitcoin mendekati US$60.000, meskipun mempertahankan level ini mungkin terbukti sulit. Pasar saat ini memperkirakan dua penurunan suku bunga pada September dan Desember tahun ini menyusul data ketenagakerjaan yang mengecewakan dan tingkat pengangguran AS yang lebih tinggi dari yang diharapkan, sebesar 4,1%.(*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved