Youngster Inc. Entrepreneur

Maximall Footwear Terus Melangkah untuk Perluas Jangkauan Pasar

Joshua Wijaya, Founder & CEO Maximall Footwear. (Dok. pribadi)

Maximall Footwear, sebuah brand alas kaki lokal yang telah menapaki usia lima tahun, semakin ekspansif dalam memasarkan produknya. Didirikan oleh Joshua Wijaya, seorang pria berusia 27 tahun, Maximall hadir dengan visi menghadirkan berbagai pilihan sandal slides yang stylish dan berkualitas tinggi untuk menemani aktivitas sehari-hari penggunanya.

Joshua meyakini bahwa produk lokal bisa memiliki kualitas setara dengan merek internasional, asalkan dikerjakan dengan sepenuh hati dan dedikasi tinggi. Dengan prinsip inilah, Maximall Footwear terus berinovasi dan menjaga standar kualitas pada setiap produknya.

Maximall menargetkan segmen laki-laki dengan rentang usia 15 hingga 37 tahun, yang mencari alas kaki praktis dan stylish untuk berbagai aktivitas. Berdasarkan insights yang diperoleh perusahaan, sebanyak 67% pembelinya adalah laki-laki dan 33% adalah perempuan yang umumnya membelikan produk Maximall sebagai hadiah.

Hingga saat ini, Maximall memiliki 270 stock keeping units (SKU) yang tersedia baik secara online maupun di toko offline. Jumlah SKU tersebut telah dikurasi oleh manajemen dari yang sebelumnya mencapai hingga 350 SKU untuk menjaga efisiensi produksi dan mengurangi risiko deadstock. Adapun kinerja penjualannya bisa mencapai 20-30 ribu pasang per bulan.

Perluas Distribusi

Menurut Joshua, saat ini pihaknya sedang fokus untuk memperbanyak presence dan memperluas distribusi melalui toko offline, selain mengandalkan penjualan online. Langkah ini diambil untuk menjangkau lebih banyak konsumen dan meningkatkan pengalaman berbelanja secara langsung. Saat ini sudah terdapat enam offline store yang berlokasi di Jakarta dan Bali, dan sedang on progress pembangunan tiga toko baru di Bali. Keputusan untuk membuka lebih banyak toko di Bali karena di sana termasuk kota dengan penjualan tertinggi sekaligus bisa memperkenalkan merek Indonesia kepada turis asing.

Bahkan, Maximall juga telah berhasil melebarkan sayapnya ke pasar internasional dengan hadir di Singapura, Vietnam, Kamboja, dan Malaysia. “Performa ekspornya cukup bagus karena Maximall bisa bersaing dengan merek-merek besar lainnya dengan kualitas yang bisa dibilang setara namun dengan harga yang lebih terjangkau,” kata Joshua kepada swa.co.id.

Meskipun Maximall menghadapi banyak tantangan mulai dari pandemi COVID-19 hingga kondisi pasar yang lesu dalam setahun terakhir, mereka tetap berpegang teguh pada prinsip untuk tidak hanya mengutamakan pada sales semata dengan banting harga lewat diskon besar-besar. “Sebagai sebuah brand, kami tidak ingin Maximall dikenal tidak stabil atau tidak konsisten. Sebab yang kami tawarkan bukan hanya produk, tetapi juga story, value dan prestise. Dengan begitu kami dapat membangun hubungan yang lebih kuat dengan konsumen,” ujar lulusan Universitas Parahyangan dengan jurusan Manajemen tersebut.

Kolaborasi

Adapun kolaborasi merupakan salah satu opsi strategi pemasaran yang sangat efektif bagi Maximall. Melalui kolaborasi, brand tidak hanya memperluas reach dan meningkatkan awareness, tetapi juga memperkuat koneksi dengan konsumen yang lebih beragam. Tujuan utama dari setiap kolaborasi adalah untuk meningkatkan awareness, menghasilkan lebih banyak traffic dan mendorong penjualan.

Produk kolaborasi Maximall X Orang Tua. (dok. Maximall Footwear)

Salah satu kolaborasi yang paling sukses adalah dengan Anggur Orang Tua. Kolaborasi ini berhasil memadukan dua brand yang berbeda namun memiliki visi yang sejalan dalam hal kualitas dan inovasi. Hasil dari kolaborasi ini sangat mengesankan, baik dari segi peningkatan traffic maupun penjualan. “Lewat kolaborasi ini kami bahkan berhasil menjual hingga 5.000 pasang sandal per bulan,” tutur Joshua.

Ke depan, Maximall akan terus mencari peluang kolaborasi yang strategis dengan brand atau pihak lainnya sehingga bisa memperluas basis pelanggan dan menarik minat konsumen baru secara signifikan.

Selain itu, Maximall yang didukung oleh 80 orang karyawan ini selalu berupaya memberikan yang terbaik bagi konsumen dengan tetap menjaga kualitas setiap produk yang diciptakan. Joshua ingin menunjukkan bahwa produk lokal bisa memiliki daya saing yang tinggi dan mampu memenuhi kebutuhan konsumen modern.

Untuk diketahui, berdasarkan data World Footwear Yearbook 2023, Indonesia merupakan konsumen produk alas kaki terbesar kelima di dunia. Di mana sepanjang tahun 2022, total konsumsinya sebesar 702 juta pasang sepatu atau 3,2% dari total konsumsi produk alas kaki dunia. Sementara itu, Indonesia juga merupakan eksportir alas kaki terbesar ketiga di dunia setelah China dan Vietnam dengan jumlah mencapai 535 juta pasang, atau 3,5% dari total produk alas kaki yang diekspor secara global. (*)


© 2023-2024 SWA Media Inc.

All Right Reserved