Dampak Boikot terhadap Kinerja MAP Group dan Sarimelati Kencana

Di tengah dinamika ekonomi global yang kian kompleks, boikot terhadap produk-produk yang dianggap terkait dengan Israel telah menambah tantangan bagi beberapa perusahaan besar di Indonesia. PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP), pengelola Starbucks Indonesia, dan PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA), pengelola gerai Pizza Hut, merupakan dua entitas bisnis yang terkena dampak langsung dari aksi boikot ini.

MAP Group, yang memiliki jaringan Starbucks di seluruh Indonesia, merasakan dampak signifikan dari boikot tersebut. Mengacu pada laporan keuangan, pada semester II/2024, MAP mencatatkan kerugian berjalan yang diatribusikan ke entitas induk sebesar Rp22,23 miliar, atau anjlok 262,85% dari sebelumnya laba Rp13,65 miliar. Sementara itu, pendapatan tercatat sebesar Rp787,63 miliar, atau terkontraksi dari tahun sebelumnya Rp956,83 miliar. Adapun beban pokok penjualannya tercatat sebesar Rp237,4 miliar.

Seusai RUPS & Paparan Publik MAP Group, Kamis (27/6/2024), Ratih D. Gianda, VP Head of Investor Relations, Corporate Communications & Sustainability MAP, mengakui penjualan Starbucks mengalami kerugian. Hal itu akibat adanya boikot masyarakat terhadap gerai-gerai Starbucks lantaran diduga mendukung atau menyokong pendanaan dalam konflik Israel-Palestina.

Kendati demikian, dia mengungkapkan bahwa meski terjadi penurunan penjualan, MAP tetap memilih untuk tidak menutup gerai Starbucks. Keputusan ini diambil dengan harapan situasi akan membaik seiring waktu. Selain itu, Ratih menekankan bahwa aksi boikot ini justru merugikan perekonomian Indonesia karena Starbucks Indonesia sepenuhnya dioperasikan oleh tenaga kerja lokal. Starbucks Indonesia mempekerjakan 6.000 orang pegawai yang mengelola 607 gerai Starbucks. Total, MAP mengelola 843 gerai yang terdiri atas merek-merek seperti Subway, Krispy Kreme, Genki Sushi, Pizza Marzano, PAUL, Cold Stone, dan Godiva.

Di sisi lain, Sarimelati Kencana yang mengelola gerai Pizza Hut juga mengalami dampak negatif dari boikot ini. Pada kuartal pertama 2024, pendapatan bersih PZZA turun menjadi Rp 638,17 miliar, atau turun 24,21% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kerugian bersih mereka juga meningkat menjadi Rp58,67 miliar pada kuartal pertama 2024, naik dari Rp 50,88 miliar pada kuartal pertama 2023.

Lantas, apa yang akan dilakukan?

Untuk menghadapi tantangan ini, MAP Group berencana memperkuat strategi pemasaran dan meningkatkan kualitas layanan guna menarik kembali pelanggan. Mereka juga merencanakan diversifikasi produk dan layanan di gerai Starbucks untuk memenuhi kebutuhan berbagai segmen pelanggan. Inovasi dalam menu dan pengalaman pelanggan diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan konsumen dan secara bertahap meningkatkan penjualan. Selain Starbucks, MAP Group juga mengelola lebih dari 2.600 gerai dari berbagai merek internasional lainnya di Indonesia.

Sementara itu, Boy Lukito, Direktur Operasional PZZA, menyatakan bahwa perusahaan mengadopsi target penjualan konservatif tahun ini mengingat tantangan makro ekonomi dan penurunan daya beli masyarakat. Sarimelati Kencana berencana fokus pada peningkatan efisiensi operasional dan pengelolaan biaya guna mengurangi dampak kerugian. Selain itu, mereka akan meningkatkan promosi dan penawaran spesial untuk menarik kembali pelanggan. PZZA juga berencana memperluas jaringan distribusi dan layanan pesan antar untuk menjangkau lebih banyak konsumen yang menghindari makan di tempat selama periode boikot ini.

Dampak yang dihadapi kdua perusahaan ini menyoroti betapa rentannya dunia bisnis terhadap dinamika politik global yang bisa mempengaruhi keputusan konsumen. Meskipun menghadapi penurunan penjualan dan laba, kedua perusahaan memang tetap berusaha untuk bertahan dengan mengadopsi strategi yang hati-hati dan inovatif. Persoalannya, tidak ada yang tahu sampai kapan boikot ini berakhir. (*)

# Tag