Metamorfosis Bisnis Keluarga Nursalim; Dari Home Appliances hingga Alat Kesehatan
“The only constant in life is change.” Prinsip kehidupan dari filsuf Yunani Kuno, Heraclitus, ini tampaknya masih relevan dalam kehidupan kekinian. Tak terkecuali dalam dunia bisnis.
Dalam manajemen korporasi modern, perubahan juga selalu dituntut untuk dilakukan menghadapi tantangan bisnis dan dinamika pasar yang terus bergerak. Tanpa mau bergerak, perusahaan kita akan ditinggal oleh market (konsumen), kehilangan relevansi, dan pelan-pelan akan mati.
Prinsip bisnis tersebut tampaknya juga diyakini keluarga Nursalim, salah satu keluarga pengusaha yang menggeluti beberapa bidang bisnis. Asetnya antara lain PT Selaras Citra Nusantara Perkasa Tbk. (SCNP) yang pada 2023 meraih penjualan tahunan Rp 703,52 miliar.
Memproduksi Peralatan Rumah Tangga
Keluarga Nursalim, yang kini generasi ketiganya pun sudah aktif dalam mengelola bisnis, sangat meyakini pentingnya perubahan dan inovasi dalam mengelola bisnis agar terus bisa survive. Hal ini bisa ditelusuri dari sejarah bisnis keluarga ini. Awalnya, hanya sebuah toko serba guna. Namun, kini sudah bermetamorfosis menjadi pelaku industri manufaktur yang memproduksi berbagai produk peralatan rumah tangga (home appliances), bahkan juga mulai memproduksi alat kesehatan.
Kisah bisnis keluarga Nursalim dimulai dari toko serba guna bernama Toko Kian Sin yang didirikan pada 1940 oleh Simon Nursalim, ayah dari lima putra dan seorang putri, di pusat Kota Jakarta. Simon adalah sosok pekerja keras dan terus ingin mengembangkan bisnisnya.
Toko serba guna itu awalnya menjual aneka barang, termasuk barang pecah-belah dan perlengkapan rumah tangga. “Ayah kami waktu itu sempat berbisnis barang pecah belah, bukan hanya untuk distribusi tapi juga memproduksi, bekerjasama dengan partner bisnisnya," Xaverius Nursalim, salah satu putra Simon, mengenang.
Pada tahun 1978, Simon wafat secara mendadak. Generasi kedua keluarga Nursalim pun melanjutkan bisnis orang tuanya, mengambil alih pengelolaan Toko Kian Sin dan berusaha mengembangkannya.
Generasi kedua yang dimaksud, selain Xaverius, ada pula Richard Nursalim, Freddy Nursalim, Willy Nursalim, dan Hendrik Nursalim. Tugas melanjutkan bisnis ini bukanlah hal yang mudah. “Waktu itu usia saya saja belum ada 30 tahun, apalagi adik-adik saya,” ungkap Xaverius.
Namun, generasi kedua Nursalim sangat serius dalam usaha mempertahankan bisnis keluarga tersebut dan berusaha menjadi pemain besar di bidang home appliances. Untuk itu, mereka belajar serius untuk mendalami bisnis tersebut.
“Dulu saya sampai dikirim ke perusahaan elektronik Spanyol, Taurus Electrodomésticos, untuk belajar khusus perlengkapan rumah tangga listrik. Saya belajar tiga tahun di sana,” kata Hendrik, salah satu adik Xaverius.
Setahap demi setahap, generasi kedua Nursalim berhasil meningkatkan skala bisnis. Usaha toko tersebut berkembang lebih luas sehingga di tahun 1980, positioning Toko Kian Sin lebih kuat: menjadi distributor dan penjual peralatan rumah tangga dari luar negeri.
Merek-merek top home appliances pun berhasil digandengnya. Mulai dari Taurus Electrodomésticos (Spanyol), Rowenta (Jerman), Moulinex (Prancis), Prestige Pressure Cooker (Inggris), hingga Candy Washing Machine dan La Germania (Italia).
Bisnis distributorship-nya berkembang pesat karena saat itu pasar Indonesia memang sedang tumbuh. Dari bisnis distribusi produk home appliances itu, keluarga Nursalim kemudian mendirikan perusahaan distribusi independen, PT Citra Kreasi Makmur (CKM).
Salah satu prestasi penting CKM: pada 1982 dipercaya sebagai distributor tunggal oleh Philips untuk produk-produk consumer lifestyle. Dari situ, bisnis CKM makin berkembang, menjadi salah satu perusahaan distribusi terbesar Indonesia bidang home appliances, menguasai ribuan titik jaringan distribusi di seluruh Indonesia. Pada masa keemasannya, CKM berhasil menjual jutaan unit perangkat Philips per tahun.
Namun, setiap bisnis selalu saja ada tantangannya. Termasuk bisnis distributorship dan impor produk home appliances. Ada sebuah masa ketika bisnis keluarga tersebut mengalami kerugian besar akibat produk-produk yang dijualnya kalah bersaing dengan produk-produk impor selundupan yang tak bayar pajak.
“Kami yang berbisnis secara legal kalah bersaing dengan barang selundupan karena waktu itu kami harus bayar cukai lebih dari 270%. Waktu itu masih menganut rezim bea cukai tinggi. Terpaksa kami harus jual produk dengan harga rendah. Kalau tidak begitu, tidak akan laku. Tapi risikonya, secara total kami rugi,” kata Xaverius.
Karena bisnis yang menderita rugi tersebut, pernah suatu saat Xaverius “disidang” oleh ibu dan kakak tertuanya tentang kondisi bisnis keluarga yang rugi tersebut. Bisa dikatakan, saat itu dipertanyakan kelanjutan dan masa depan perusahaan karena kondisi yang merugi.
Meyakinkan Philips
Namun, dalam kondisi tersebut, Xaverius justru berpikir sebaliknya. Ia justru meminta dukungan keluarga untuk menambah investasi, ia akan mengajak Philips untuk berinvestasi di Indonesia. Ia akan meyakinkan Philips untuk melakukan assembly produk-produknya di Indonesia, bekerjasama dengan keluarganya.
Strategi Xaverius itu didasarkan fakta bahwa saat itu marak produk-produk selundupan yang harganya sangat murah. Kalau Philips ingin produknya laku di pasar Indonesia, harganya harus lebih rendah dan bisa lebih bersaing, dan untuk itu mesti diproduksi di Indonesia agar tidak terkena cukai impor yang tinggi. Sebab itu, Xaverius akan membujuk dan meyakinkan Philips di Belanda untuk mau memproduksi produknya di Indonesia.
“Untuk meyakinkan itu bukan hal yang mudah karena saat itu usia saya belum ada 30 tahun. Apalagi, mereka sudah punya pabrik besar dan bagus di Kota Eindhoven, Belanda. Tapi, kami yakinkan ke Philips di Belanda bahwa kami punya jaringan penjualan yang kuat, punya jaringan ribuan toko elektronik, dan market Indonesia ini puluhan juta penduduk. Potensinya sangat besar,” papar Xaverius.
Pada akhirnya keluarga Nursalim berhasil meyakinkan Philips untuk melakukan assembly (manufacturing) produknya di Indonesia, bekerjasama dengan pihaknya. Karena itulah, sejak 1985 perusahaan milik keluarga Nursalim dipercaya menjadi mitra assembly Philips untuk memproduksi home appliances-nya yang berlangsung hingga kini, dan dijalankan melalui SCNP.
Awalnya, tahun 1985, pabrik pertama yang dibangun masih skala sangat kecil, berlokasi di kawasan Daan Mogot, Jakarta, dengan luas 2.000 m2. Waktu itu hanya memproduksi mixer Philips. Lalu, pada 1993, memperluas area produksi dengan membangun pabrik di Cakung, Jakarta, di atas lahan seluas 6.500 m2, guna memproduksi mixer dan blender Philips.
Pada tahun 2001, fasilitas produksi tersebut dilipatgandakan dengan membeli area baru seluas 11 hektare di Cileungsi (Narogong), Bogor ‒di dalamnya ada kawasan berikat. Pabrik besar ini memproduksi berbagai home appliances Philips: mixer, blender, setrika, motor blender, dll. Bahkan, juga menjadi original equipment manufacturer (OEM) untuk sejumlah brand besar di luar merek Philips.
Karena sudah termasuk industri besar, pabrik ini pun juga dilengkapi dengan berbagai sertifikasi. Yaitu, sertifikasi ISO 9001 terkait sistem manajemen mutu, sertifikat DEKRA untuk standar keamanan produk, sertifikat SIRIM untuk standar pengakuan layak diekspor ke Malaysia, Sertifikat Nasional Indonesia (SNI), sertifikasi ISO 14001:2008 untuk sistem manajemen lingkungan, serta sertifikat SEDEX untuk Corporate Social Responsibility (CSR) compliance.
Selain itu, juga memperoleh pengakuan dari Amerika Serikat untuk penerapan sertifikat UL, suatu standar keamanan dan kualitas produk yang diwajibkan oleh negara tersebut. Sebagian produk yang dihasilkan SCNP memang diekspor ke AS, termasuk air purifier.
Pabrik di Cileungsi akhirnya bukan hanya memproduksi home appliances merek Philips, tapi juga merek-merek besar lain. Bahkan, keluarga Nursalim punya merek home appliances sendiri yang diproduksi di pabrik tersebut, yaitu Turbo, yang juga sudah dipasarkan ke toko-toko di seluruh Indonesia.
SCNP diposisikan sebagai pabrikan OEM untuk berbagai produk home appliances. Di antaranya, Philips, Turbo, Kris, Kels, Sharp, Tuc-Tac, Arra, dan Oxone yang terdiri dari berbagai tipe produk blender, setrika, kompor, kipas angin, rice cooker, hingga air purifier.
Masuk ke Bisnis Alat Kesehatan
Salah satu terobosan penting SCNP ialah mulai masuk ke bisnis alat kesehatan dengan memproduksi beberapa produk alkes berbasis elekronik. Sebagaimana diketahui, ada kebijakan pemerintah yang melarang impor 79 jenis produk alkes demi meningkatkan alkes produksi dalam negeri. Pemerintah meningkatkan syarat tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di atas 40% untuk alkes. Karena itu, SCNP tertarik masuk ke bisnis tersebut.
Xaverius mengilas balik, pihaknya beberapa tahun terakhir tertarik mengincar masuk bisnis alkes karena potensinya yang besar. “Setiap tahun anggaran pemerintah untuk kebutuhan alkes itu sangat besar, triliunan rupiah. Tapi sayangnya, market dipenuhi produk impor. Apalagi, produk alkes yang elektronis. Makanya, kami tertarik mengembangkan produk tersebut, bekerjasama dengan universitas,” kata Xaverius yang saat ini sudah menyerahkan pengelolaan SCNP ke tangan para profesional; ia sudah tak masuk dalam jajaran direksi dan komisaris.
Melihat market yang masih didominasi produk impor, SCNP bekerjasama dengan STEI-ITB melakukan kegiatan riset dan pengembangan alkes dalam negeri yang disebut NIVA, Non-Invasive Vascular Analyzer. NIVA yang diposisikan sebagai alat untuk mendeteksi dini penyakit jantung atau kardiovaskular ini sudah mengantongi izin edar atau perizinan dari pemerintah.
NIVA juga sudah disosialisasi dan didistribusikan ke beberapa rumah sakit dan fasilitas kesehatan (faskes) pertama, seperti Balai Besar Laboratorium Kesehatan, Lemhanas, dan Kementerian Kesehatan. Tahun 2023, sudah terjual lebih dari 100 unit NIVA yang harganya dibanderol di kisaran Rp 255 juta per unit. Dan, di tahun 2024 ini ditargetkan produk ini terjual lebih banyak.
NIVA adalah alat non-invasive, menggunakan sensor PPG (photo plethysmo graphy) dan sensor tekanan darah untuk menganalisis pembuluh darah di tubuh manusia. Saat ini kemampuan produksi SCNP tak hanya NIVA, tapi juga patient monitor, infusion pump, dan syringe pump.
Untuk mengembangkan brand NIVA, SCNP bekerjasama dengan dr. Jetty Sedyawan, kardiolog senior dari ITB yang juga menjadi brand ambassador NIVA. Peluncuran NIVA dilakukan pada akhir 2019, diresmikan langsung oleh Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia saat itu, Prof. Dr. Bambang Brodjonegoro.
Keseriusan SCNP masuk di bisnis alkes juga merupakan cerminan prinsip berbisnis yang harus dinamis dan mau beradaptasi dengan perubahan pasar. Setiap bisnis mesti cermat melihat potensi pasar yang sedang berkembang dan mau mengembangkan diri.
Memang, untuk itu tidak mudah, karena pihaknya harus banyak bekerjasama dengan universitas untuk menemukan produk-produk alkes terbaik berbasis riset. Selain itu, juga harus membangun jalur distribusi baru karena distribusi produk alkes jelas berbeda dengan jaringan distribusi home appliances.
Berani Berubah
Dalam hal ini, Xaverius, Hendrik, dan saudara-saudaranya belajar dari apa yang dilakukan Philips, korporasi Eropa yang menjadi mitranya selama puluhan tahun. Menurut Xaverius, Philips adalah contoh perusahaan yang menginspirasi karena berani berubah. “Dulu di Philips itu ada enam divisi bisnis, sekarang diperas, tinggal satu divisi, yakni divisi alat kesehatan,” katanya.
Bisnis Philips lain, seperti produksi televisi dan home appliances, dijual ke pihak lain. Bahkan, divisi bisnis lampu Philips juga dijual ke perusahaan China, Signify. Keputusan itu ditangisi penduduk Eindhoven karena Philips yang bermarkas di kota tersebut sejak dulu identik dengan lampu.
Namun, manajemen Philips punya keyakinan dengan fokusnya yang baru dan terbukti perusahaan ini sekarang makin kuat dan sehat di bisnis alkes. “Di bisnis, satu-satunya yang konstan adalah perubahan itu sendiri,” Xaverius meyakini.
Keluarga Nursalim tidaklah bermaksud melepas bisnis home appliances karena baik di lini distribusi maupun manufacturing sudah sangat kuat dan stabil dengan jaringan distribusi ke ribuan gerai. Keluarga ini akan intensif mengembangkan lini bisnis alkes, baik untuk merek sendiri maupun ke depan akan dikembangkan sebagai partner OEM. Dua-duanya akan berjalan beriringan.
Pihaknya yakin bahwa bisnis alkes dan home appliances sama-sama akan berkembang. Yang penting, pihaknya menjaga kepercayaan atau trust dari prinsipal, pelanggan, dan vendor. Keluarga ini yakin, inti bisnis adalah menjaga trust. Hal itu sudah dibuktikannya dalam kerjasama dengan Philips yang berlangsung 25 tahun.
“Kami bekerjasama dengan Philips sudah lebih dari 25 tahun. Tapi, kami tak pernah meminta Philips untuk membuka atau merevisi agreement yang sudah 25 tahun. Karena, kami sudah saling percaya, saling trust, dan menjaga loyalitas,” Xaverius menegaskan.
Kata-kata Xaverius tentu saja masuk akal. Pasalnya, banyak proyek joint venture antara perusahaan asing dan lokal yang setelah 10 tahun berjalan sering ada revisi atau amandemen terhadap pasal tentang profit sharing. Misalnya, ada salah satu pihak yang merasa kurang diuntungkan atau sebaliknya sehingga meminta agreement untuk ditinjau ulang dan direvisi. Keluarga Nursalim-Phllips tidak melakukan itu. Karena sudah saling percaya dan menghargai, walaupun sudah 25 tahun, agreement tidak dibuka atau ditinjau ulang.
Selain dengan Philips, keluarga Nursalim juga bekerjasama dengan mitra asing lainnya, baik dalam konteks kerjasama OEM maupun kerjasama level investasi ekuitas. Untuk kerjasama investasi, misalnya, mendirikan perusahaan patungan bersama Guangdong Xinbao Electrical Appliances Holdings Co., Ltd., yang diberi nama PT Selaras Donlim Indonesia (SDI), bergerak di bidang industri plastik dan peralatan rumah tangga, antara lain vacuum cleaner.
Menjaga Persaudaraan
Hal yang juga bisa dipelajari dari keluarga ini, kekompakan keluarga dalam mengelola bisnis secara bersama. Kebetulan, enam bersaudara Nursalim ini ketika ditinggal ayahnya wafat semua masih muda. Saat itu perekonomian mereka pun masih pas-pasan.
“Sebelum peti jenazah ayah kami ditutup, kami anak-anaknya berikrar untuk hidup senasib bersama-sama. Kami berusaha saling bantu,” ungkap Xaverius yang diamini Hendrik.
Diakui Xaverius, dalam perjalanannya, perbedaan pendapat antarkeluarga itu pasti ada. “Bohong kalau mengatakan tidak ada perbedaan pendapat atau friksi kecil. Yang penting, semua pendapat dikomunikasikan dan diselaraskan dengan baik sehingga akhirnya tetap rukun dan kompak. Berakhir dengan damai dan sejahtera,” katanya.
Cukup menarik, salah satu kiat untuk menjaga agar tetap kompak dan menghindari konflik, para ipar tidak diperkenankan masuk dalam pengelolaan bisnis keluarga. Jadi, yang boleh masuk dalam struktur bisnis hanya anak-anak kandung Simon Nursalim, sedangkan anak-mantu tidak ikut terlibat. “Para istri tidak ada yang ikut mengelola perusahaan ini, termasuk istri saya,” ungkap Hendrik.
Xaverius menceritakan, sejak pabrik seluas 11 ha dibangun di Cileungsi, Bogor, tahun 1998, istrinya baru dua kali datang. Yakni, saat awal dulu diresmikan dan bulan lalu ketika ikut menyaksikan Ivvana Nursalim, anak perempuannya, diangkat menjadi Presiden Komisaris SCNP menggantikan dirinya.
“Lagian, buat apa datang? Yang penting, kebutuhan dapur sudah terpenuhi, supaya keluarga kami tetap kompak. Karena, lebih baik mencegah daripada menetralisir ketika konflik itu sudah terjadi,” Xaverius mengungkapkan pandangannya.
Hendrik menambahkan, belakangan bukan hanya para istri yang dilarang ikut dalam pengelolaan SCNP, tapi juga anak (cucu). Anak hanya boleh masuk ke SCNP untuk menggantikan ayahnya, itu pun di posisi komisaris, bukan di level eksekutif.
Jadi, misalnya untuk Hendrik yang saat ini komisaris, suatu saat anaknya boleh masuk menggantikan poisisinya sebagai komisaris. Tidak bisa sebagai direksi atau level eksekutif lainnya.
Meski demikian, anggota keluarga (anak-cucu) dibebaskan untuk mendirikan bisnis sendiri. Misalnya, jika enam anak Simon masing-masing akan mendirikan bisnis sendiri untuk anak-anaknya, hal itu diperkenankan asal bukan bisnis yang punya konflik kepentingan dengan bisnis keluarga besar. “Karena, tak mungkin juga semua kerja di sini. Generasi ketiga sudah ada 21 orang,” ujar Xaverius.
Dan, pola itu sudah dilakukan. Misalnya, saat ini Hendrik dan anaknya punya bisnis manufaktur produk kaca yang skalanya sudah cukup besar. Xaverius juga punya bisnis perhotelan dan distributorship lampu yang dibangun untuk anak-anaknya.
Biasanya, ketika ada salah satu anggota keluarga yang punya bisnis baru, mereka akan menawari anggota keluarga yang lain untuk bergabung melakukan investasi. Kalau pada akhirnya tidak berminat, tentu tidak masalah karena itu hanya sebuah tawaran.
Yang terpenting, untuk menjaga bisnis terus survive, harus adaptif dan berani mengikuti dinamika pasar. Memang, mengikuti irama perubahan tidaklah mudah, butuh pengorbanan, kerja keras, dan kemauan untuk kembali belajar hal-hal baru.
Namun, itu pilihan yang harus dilakukan agar perusahaan memiliki masa depan yang baik. Hal itu sebagaimana terjadi pada SCNP, yang kini mengambil pilihan untuk masuk ke bisnis alat kesehatan yang tentu saja butuh kerja keras dan kemampuan berselancar mengikuti dinamika bisnis baru tersebut. (*)