Investor Cermati Sentimen Eksternal, IPOT Jagokan Saham Properti dan KLBF

Ilustrasi foto : Vicky Rachman/SWA.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan tren penguatan dalam sepekan sebesar 1,02% atau 74 poin ke level 7.327 dengan beli bersih (net buy) investor asing sebesar Rp1,3 triliun pada penutupan perdagangan di Jumat pekan lalu.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat perdagangan saham pada 8-12 Juli 2024 itu ditutup pada zona positif. Kautsar Primadi Nurahmad, Sekretaris Perusahaan BEI, menjabarkan kenaikan tertinggi pada perdagangan di sepanjang pekan lalu terjadi pada rata-rata frekuensi transaksi selama sepekan yang mengalami peningkatan sebesar 15,29% atau menjadi 1,09 juta kali transaksi dari 947 ribu kali transaksi pada pekan lalu.

Pada periode ini, lanjut Kautsar, rata-rata volume transaksi harian naik sebesar 11,97% menjadi 17,41 miliar lembar saham dari 15,55 miliar lembar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di penutupan pekan lalu naik 1,02% atau menjadi 7.327 poin dari 7.253 poin pada penutupan pekan sebelumnya. ⁠Kapitalisasi pasar bursa selama sepekan mengalami peningkatan sebesar 0,37%,, menjadi Rp12.478 triliun dari Rp12.431 triliun.

Imam Gunadi, Equity Analis PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), menjelaskan level IHSG mulai 21 Juni 2024 hingga saat ini konsisten bergerak di atas EMA5 yang menunjukkan bahwa pelaku pasar sangat optimis dengan kondisi pasar saat ini."IHSG akan menguji area psikologisnya di area 7.369 hingga 7.403 poin. Jika data-data selama satu pekan ini sesuai dengan ekspektasi pasar, ada kemungkinan IHSG akan menembus area psikologis tersebut dan akan menguji level berikutnya di 7.454 atau level all time high-nya," ujar Imam pada risetnya di Jakarta, Senin (15/7/2024).

Terkait penguatan IHSG pekan lalu, Imam menjelaskan IHSG tertopang 2 top gainers yakni indeks sektor properti yang menguat sebesar 7,25% dan indeks industri 3,32%. Sementara itu, 2 top losers yang adalah indeks sektor dasar yang melemah -0,53% dan IDX Eenergi menciut 1,49%.

Imam menjabarkan beberapa sentimen yang mewarnai penguatan IHSG pada pekan lalu, diantaranya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) atau Indonesia Consumer Confidence, Indonesia Total Car Sales, penjualan sepeda motor, inflasi AS serta inflasi dan neraca perdagangan China. Pertama,Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di Juni 2024 pada level 123,3, turun dari 125,2 pada Mei 2024. "Walaupun mengalami penurunan dari periode sebelumnya, namun level tersebut masih berada di atas level optimis atau di atas 100. Tetap optimisnya Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia didorong oleh kuatnya Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE)," tegas Imam.

Kemudian, penjualan mobil di bulan lalu turun sebesar 11,8% apabila dibandingkan Juni 2023. Perlambatan penjualan mobil ini sesuai dengan melambatnya ekonomi khususnya domestik, misalnya jika kita melihat bagaimana data PMI Manufaktur yang melambat ke level 50,7 poin di Juni 2024 dari level 52,5 poin di Juni 2023.

Berkutnya, penjualan sepeda motor di Juni 2024 naik 3,5% secara tahunan."Data ini menunjukkan bahwa mulai ada perbaikan dari kelas ekonomi menengah ke bawah yang tentunya cukup baik untuk negara berkembang seperti Indonesia. Lalu, nflasi tahunan AS turun ke level 3% di Juni 2024 dan sudah turun selama 3 bulan berturut-turut dan terendah sejak Juli 2023. Dari sisi core inflation (tidak memperhitungkan variabel energi dan makanan) juga mengalami penurunan ke level 3,3% yang merupakan angka terendah selama 3 tahun terakhir. "Bersamaan dengan data tersebut, pelaku pasar berharap bahwa The Fed akan segera menurunkan tingkat suku bunga acuannya pada FOMC September mendatang," Iman menjelaskan.

Berdasarkan CME FedWatch yang mengukur tingkat kemungkinan penurunan suku bunga yang dilakukan The Fed, 86,4% kemungkinan The Fed mulai akan memangkas suku bunganya pada September nanti, meningkat dibandingkan beberapa hari sebelumnya yang hanya sekitar 70%.

Investor mencermati pula data ekonomi China yang baru saja merilis data inflasi tahunan untuk Juni 2024. Hasilnya inflasi China turun ke level 0,2% jika dibandingkan Juni tahun lalu. Angka ini lebih rendah dari periode sebelumnya di level 0,3%, dan juga di bawah konsensus 0,4%. Menurut Imam, menurunnya inflasi China tentu menjadi sentimen negatif untuk ekonomi domestik, karena China merupakan partner dagang terbesar Indonesia dan bisa saja berimbas pada neraca dagang Indonesia yang akan rilis di pekan ini. "Data inflasi ini juga berkorelasi positif dengan data neraca perdagangan China untuk Juni 2024 yang walaupun naik 8,6% namun impor turun 2,3%. Hal ini menunjukkan bawah ekonominya domestiknya sedang melemah," tandas Imam.

Berbicara tentang potensi pasar saham pada 15-19 Juli 2024, Imam mengimbau para trader untuk memerhatikan sejumlah sentimen, yakni data pertumbuhan ekonomi China dan data lainnya, neraca dagang Indonesia dan suku bunga Bank Indonesia. Ia menjelaskan pada Senin pekan ini, China akan merilis data produk domestik bruto (PDB) untuk kuartal II tahun ini yang diperkirakan akan turun ke 5,1% secara tahunan.

Selain itu, China akan merilis data lainnya seperti Industrial Production Juni 2024 yang diperkirakan tumbuh 5% serta retail sales yang diperkirakan tumbuh 3,3% (yoy). "Pelemahan ekonomi China akan menjadi sentimen untuk ekonomi Indonesia atau IHSG terutama sektor komoditas yang mayoritas diekspor ke China. Di sisi lain juga ekonomi domestik sedang menunggu kebijakan The Fed untuk menurunkan suku bunganya di bulan September nanti, yang jika nanti dapat terealisasi tentu akan meringankan beban ekonomi domestik," tutur Iman.

Sentimen berikutnya yakni neraca dagang Indonesia yang irilis pekan ini. Konsensus memperkirakan neraca dagang nasional di bulan lalu naik US$2,98 miliar dari periode sebelumnya US$2,93 miliar. Rilis data ini akan dibayangi oleh sentimen negatif dari pelemahan ekonomi China karena merupakan negara dengan porsi ekspor terbesar dengan porsi 22,63% .

Sementara itu terkait sentimen suku bunga BI, pada Rabu pekan ini BI akan merilis kebijakan moneternya untuk menetapkan suku bunganya dan diperkirakan akan menahan suku bunganya di 6,25%. Tentunya, BI juga akan memantau bagaimana kebijakan The Fed di bulan September nanti. Berkaca pada sejumlah sentimen dan data ekonomi tersebut, Imam menyampaikan investor fokus pada kebijakan The Fed untuk menurunkan suku bunga. Secara langsung maupun tidak langsung, hal ini akan menjadi sentimen untuk sektor properti karena permintaan KPR meningkat, maka dari itu, ia pun merekomendasikan 2 emiten properti yakni beli saham BSDE (support: Rp985, resist: Rp1.120) dan buy CTRA (support: Rp1.230 resist: Rp1.330).

Imam mengatakan kurs rupiah terhadap dollar AS selama lebih dari dua pekan terakhir ini menyusut sebesar 2%. Hal ini tentu tidak terlepas dari menurunnya ketidakpastian terkait dengan keputusan The Fed di September2024. Apabila menilik data-data ekonomi AS yang dirilis semakin menguatkan kepastian The Fed akan menurunkan suku bunganya. IPOT mengamati pelemahan rupiah terhadap dollar AS itu akan menjadi sentimen positif untuk emiten-emiten yang cukup bergantung pada impor bahan baku.

Salah satunya adalah saham KLBF. Maka dari itu emiten ini, IPOT merrekomendasikan untuk trading dengan trading plan untuk aksi beli saham KLBF (support: Rp1.525, resist: Rp1.735). (*)

# Tag