Kraft Heinz Indonesia, Jalankan Transformasi HR Menuju Organisasi yang Agile
Sebagai sebuah entitas bisnis, Kraft Heinz Indonesia atau yang juga dikenal sebagai PT Heinz ABC Indonesia memiliki goal, yaitu win the market. Untuk mewujudkan goal tersebut, perusahaan ini memiliki tiga pilar dalam pengelolaan karyawannya.
Pilar pertama, membangun talenta yang tangguh dengan merangsang pengembangan diri. Kedua, menciptakan budaya belajar di tempat kerja. Ketiga, mendukung pengembangan sumber daya manusia dan kemajuan kariernya.
Hal tersebut dilakukan perusahaan ini karena ada dua tren terkait karier yang menjadi tantangannya, yaitu karyawan kurang motivasi untuk melakukan pengembangan diri dan terbatasnya bimbingan/referensi perkembangan karier.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kraft Heinz Indonesia menyediakan berbagai tools yang mudah dijangkau karyawan, yang meliputi tools terkait kompetensi, kerangka pengembangan, dan pelatihan berbasis kompetensi.
Yang unik dari tools tersebut ialah bisa membantu karyawan ketika mereka melakukan penilaian atau one on one dengan manajer mereka. “Padahal, sebelumnya para manajer ini merasa kebingungan harus membahas apa lagi ketika melakukan appraisal dengan timnya, sehingga hanya membahas soal pekerjaan atau cek Key Performance Indicators (KPI). Namun, setelah adanya tools tersebut, para manajer menjadi terbantu, terkait karier dan pengembangan diri para karyawan,” kata Yunitazari Purwomarwanto, Talent Senior Manager Kraft Heinz Indonesia.
Sebagai organisasi bisnis, perusahaan ini kemudian menemukan bahwa karyawan memiliki berbagai aspirasi atau demand/need untuk pengembangan dirinya. Untuk itu, perusahaan ini menyediakan carrier path sebagai referensi bagi karyawan untuk mengeksplorasi pergerakan dan pengembangan karier yang sifatnya menyeberang secara fungsional, vertikal ataupun horizontal.
Lalu, ada Mentorship Program yang diciptakan untuk memfasilitasi karyawan dengan mengadakan sesi mentoring dari para pemimpin senior di perusahaan ini. ”Yang menarik dari Mentorship Program ini, merekrut dari Board of Directors (BOD) untuk menjadi mentor yang tergabung dalam Mentor Club,” kata Yunitazari.
Ada lagi program Learn, Engage, Accelerate, Perform (LEAP Program). Program ini dirancang untuk memperkuat kebiasaan belajar di perusahaan ini.
Dengan berbagai program pengembangan SDM ini, hasilnya pun terasa. Misalnya, dalam empat tahun terakhir sejak 2020, turnover karyawan terus menurun. Bahkan, pada 2023 mencapai 9,24 atau jauh lebih rendah dibandingkan pada 2020 (11,55), pada 2021 (14,55), dan pada 2022 (14,87).
Dalam empat tahun terakhir, engagement score pun terus mengalami peningkatan. Seperti pada 2020 sebesar 74, dan pada 2023 meningkat menjadi 82.
Tak lupa, yang juga dikembangkan perusahaan ini ialah well-being management atau manajemen kesejahteraan karyawan. “Hal ini dilakukan untuk mempertahankan produktivitas karyawan untuk memberikan hasil yang lebih di tengah perubahan yang terjadi,” ungkap Fitria Rahma Sari, Senior Manager Rewards & Performance Kraft Heinz Indonesia. Bahkan, sejak 2024 kesejahteraan karyawan tidak hanya mencakup karyawan, tetapi juga keluarganya (anak dan istri) .
Yang tak kalah penting, transformasi digital melalui HR Digitalization and People Analytics. Transformasi ini dilakukan karena berbagai kondisi yang terjadi sebelum transformasi dijalankan. Antara lain, adanya pekerjaan manual untuk proses administrasi, proses yang tidak efisien (sekitar tiga jam untuk satu tugas), ada kemungkinan terjadinya human error, ketidakakuratan data, serta biaya lebih tinggi. “Berdasarkan hasil tersebut, perusahaan berkomitmen untuk melakukan transformasi yang mengubah proses manual menjadi digitalisasi,” ungkap Fitria.
Di bidang SDM, proses otomatisasi/digitalisasi ini untuk memberikan proses layanan mandiri SDM kepada karyawan yang memungkinkan mereka untuk mengakses dan mengelola kebutuhan SDM mereka sendiri. Lalu, menyederhanakan proses SDM sambil lebih fokus pada hal-hal strategis dan meningkatkan pengalaman perekrutan hingga pensiun karyawan.
Dampak digitalisasi SDM di Kraft Heinz Indonesia ini sangat terasa. Hasil inisiatif digitalisasi SDM tecermin pada skor survei keterlibatan karyawan yang didorong oleh resources yang skornya naik dari 71 menjadi 76.
“Yang pasti, transformasi ini membantu para HR yang tadinya waktunya tersita mengerjakan hal-hal yang sifatnya administratif menjadi bisa lebih fokus mengerjakan hal-hal yang bersifat core strategic sehingga bisa menyediakan insight recommendation bagi perusahaan,” Fitria menandaskan.
Tentunya, semua inisiatif ini merupakan rangkaian perjalanan transformasi di Kraf Heinz Indonesia yang telah dan sedang dijalankannya. “Tujuannya ialah untuk mencapai purpose perusahaan itu sendiri. Dan untuk mencapai tujuan ini, kami punya semangat: One Team Our Dream,” kata Dina Sitopu, People and Performance Director Kraft Heinz Indonesia & PNG. (*)