Siap ke Travel, Antar Makanan, Iklan Luar Ruang; Mencermati Manuver TikTok yang Makin Agresif
TikTok, platform media sosial yang berasal dari Tiongkok dan dimiliki oleh ByteDance, telah mengukir namanya di peta dunia dengan inovasi konten video pendek yang begitu memikat. Namun, ambisi TikTok tak berhenti pada hiburan. Dengan langkah-langkah strategis yang berani, TikTok kini mengejar tujuan yang lebih besar: menaklukkan berbagai sektor bisnis di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Bagaimana ceritanya? Dan mengapa TikTok agresif di Indonesia?
Indonesia Kontributor Utama
Sejak awal 2024 (31 Januari), TikTok telah memperkuat posisinya di sektor e-commerce dengan akuisisi Tokopedia, salah satu platform e-commerce terbesar di Indonesia. Akuisisi ini bukan hanya memperluas basis pengguna TikTok, tetapi juga berpotensi meningkatkan nilai transaksi brutonya (gross merchandise value/GMV).
Mengacu laporan Momentum Works bertajuk "Ecommerce in Southeast Asia 2024", nilai GMV TikTok Shop tahun 2023 menjadi yang terbesar kedua di Asia Tenggara jika dihitung dengan Tokopedia, mencapai US$32,6 miliar atau sekitar Rp533 triliun.
Langkah masuk ke Tokopedia, jelas mengisyaratkan potensi besar pasar e-commerce di kawasan ini, dengan pertumbuhan yang diperkirakan akan terus meningkat. Dan faktanya, Indonesia bukan hanya pengunduh terbesar TikTok (berdasarkan laporan We are Social, jumlah pengguna TikTok di Indonesia sebanyak 126,83 juta orang pada Januari 2024). Indonesia dan Thailand menjadi kontributor utama pendapatan TikTok di kawasan ini, masing-masing menyumbang 26% dan 28% dari total penjualan di Asia Tenggara.
Selama April 2024, pendapatan dari penjualan TikTok Shop di Asia Tenggara mencapai US$1,7 miliar atau sekitar Rp 27,3 triliun (kurs Rp 16.130 per US$). “Thailand dan Indonesia masing-masing menyumbang 28% dan 26% dari penjualan," demikian laporan TMO Group bertajuk "Southeast Asia E-Commerce Outlook 2024".
Akuisisi Tokopedia oleh TikTok Shop, jelas merupakan langkah strategis yang penuh perhitungan. Dengan memanfaatkan popularitas konten video pendek dan influencer, TikTok Shop berhasil menarik jutaan pengguna yang tertarik dengan cara belanja yang lebih interaktif dan menyenangkan. TikTok Shop hampir mengimbangi Shopee dalam hal jumlah pengguna dan transaksi, menempatkan TikTok sebagai ancaman serius bagi platform e-commerce yang sudah mapan seperti Shopee dan Lazada.
Merangsek Sektor Lain
Namun, ambisi TikTok tidak berhenti di e-commerce. TikTok juga disebut-sebut berencana memperluas jangkauannya ke sektor lain, termasuk layanan pesan antar makanan dan bisnis perhotelan. Rencana ini muncul sejalan dengan pernyataan Menteri BUMN Erick Thohir, 10 Juli 2023, yang meminta ByteDance untuk meningkatkan investasinya di Indonesia, mengingat potensi ekonomi yang besar di negara ini.
Menteri Erick menekankan pentingnya bagi TikTok untuk berani berinvestasi lebih besar di Indonesia dibandingkan negara lain. Dalam pertemuannya dengan para eksekutif TikTok, Erick menyampaikan pesan yang tegas: "Indonesia memiliki potensi ekonomi yang jauh lebih besar, sehingga jika negara lain mendapat 1, Indonesia harus mendapat 4."
Erick menyadari betul potensi ekonomi digital yang dimiliki oleh Indonesia. Dia mengingatkan bahwa proyeksi ekonomi digital Indonesia akan mencapai Rp4.500 triliun pada tahun 2030. Potensi ini menunjukkan betapa pentingnya Indonesia dalam peta ekonomi digital global. Dengan populasi yang besar dan adopsi teknologi yang cepat, Indonesia menjadi pasar yang sangat menarik bagi perusahaan teknologi internasional seperti TikTok.
Selain itu, Indonesia diproyeksikan akan menjadi salah satu dari 15 ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2029 dan masuk dalam lima besar ekonomi dunia pada tahun 2045. Proyeksi ini bukanlah sekadar angan-angan, tetapi didasarkan pada pertumbuhan ekonomi yang konsisten dan potensi pasar yang sangat besar. "Indonesia tidak boleh dianggap remeh dalam hal ini. Fakta ekonominya jauh lebih besar dari yang lain," Erick menegaskan.
Pihak TikTok Indonesia sendiri mengungkap bahwa nilai ekonomi Indonesia diproyeksikan mampu mencapai US$146 miliar atau sekitar Rp2.537 triliun (kurs Rp16.145 per dolar AS) pada 2025. Dan sejalan dengan permintaan Menteri Erick itu, dalam waktu dekat, TikTok disebut-sebut berencana memasuki bisnis hotel dan tiket pesawat di Indonesia, meskipun mereka tidak berencana mengakuisisi perusahaan teknologi online travel (OTA) seperti Traveloka atau Tiket.com. Selain itu, TikTok juga mengumumkan akan meluncurkan layanan pesan antar makanan di beberapa kota besar di Indonesia, menantang dominasi pemain lama seperti Grab dan Gojek.
Layanan Komprehensif
Rencana TikTok untuk memasuki bisnis hotel dan tiket pesawat menunjukkan ambisi mereka untuk menjadi penyedia layanan digital yang komprehensif. Dengan memanfaatkan basis pengguna yang besar dan teknologi AI yang canggih, TikTok berupaya untuk menciptakan pengalaman pengguna yang terpadu dan menarik.
Strategi ini juga mencerminkan tren global di mana platform media sosial semakin berusaha untuk menyediakan berbagai layanan di bawah satu atap, sehingga meningkatkan retensi pengguna dan monetisasi. TikTok tampaknya berupaya untuk menjadi superapps di Indonesia, sebuah aplikasi yang menyediakan berbagai layanan sekaligus, dari media sosial, e-commerce, hingga layanan pesan antar makanan dan reservasi hotel.
Namun, langkah-langkah ekspansif TikTok tidak luput dari tantangan. Banyak pihak yang khawatir tentang praktik "bakar uang" yang dilakukan TikTok untuk memenangkan pasar, yang dapat memicu persaingan tidak sehat di industri e-commerce dan layanan digital. Pemerintah dan pengamat industri mendesak perlunya pengawasan ketat untuk memastikan persaingan tetap sehat dan adil.
Selain itu, kekhawatiran mengenai privasi data dan pengaruh asing juga menjadi isu yang harus dihadapi TikTok seiring dengan pertumbuhan pesatnya. Isu privasi data menjadi sangat krusial mengingat latar belakang TikTok yang berbasis di Tiongkok, yang seringkali menimbulkan kekhawatiran tentang akses pemerintah Tiongkok terhadap data pengguna global.
Industri-industri yang sebelumnya mendominasi pasar kini jelas patut waspada oleh kehadiran TikTok. Misalnya, platform e-commerce seperti Shopee dan Lazada harus berinovasi untuk bersaing dengan model belanja interaktif TikTok Shop.
Di sektor jasa antar makanan, Gojek dan Grab juga harus berhadapan dengan potensi dominasi TikTok yang memanfaatkan basis pengguna besar dan teknologi canggihnya untuk memberikan layanan yang lebih efisien. Bahkan industri perhotelan dan travel harus bersiap menghadapi persaingan baru dari TikTok yang berencana untuk memasuki bisnis tersebut.
Dengan lebih dari 126 juta pengguna di Indonesia, TikTok memiliki basis pengguna yang besar dan terus berkembang. Hal ini memberikan peluang besar bagi TikTok untuk meraih dominasi di berbagai sektor bisnis di Indonesia dan Asia Tenggara.
Masuk Iklan Luar Ruang
Dalam perbincangan dengan seorang eksekutif perusahaan iklan luar ruang yang merupakan pemain papan atas di Indonesia (memiliki ribuan titik), bahkan tercetus rencara besar TikTok di Indonesia. Setelah mengambil Tokopedia, TikTok akan menayangkan produk-produk yang ada di data base mereka, tentunya setelah dikurasi, untuk ditayangkan di papan reklame luar ruang, seperti di lift.
Nantinya, pemirsa bisa langsung berinteraksi, seperti mengontak pembeli dengan cara melakukan pemindaian pada barcode yang ada, lalu terhubung dengan penjual dan melakukan transaksi di sana. "Ini merupakan terobosan yang luar biasa," ujar sang eksekutif seraya menandaskan bahwa kesepatakan telah dijalin antara pihaknya dengan TikTok untuk mengeksekusi rencana tersebut.
Pastinya, TikTok terus menunjukkan inovasi dan strategi agresif dalam mengejar dominasinya di pasar Asia Tenggara. Dan Indonesia menjadi tumpuan utamanya. Dengan basis pengguna yang besar dan ekosistem digital yang terus berkembang, TikTok siap mengeksplorasi dan memaksimalkan peluang yang muncul di Indonesia dan kawasan sekitarnya. Keberhasilan TikTok di wilayah ini akan menjadi contoh bagi ekspansi globalnya dan memperkuat posisinya sebagai salah satu platform digital terkemuka di dunia. (*)