Politeknik Negeri Jakarta Gelar Literasi Keuangan Pekerja Migran di Taiwan
Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) melakukan Pengabdian kepada Masyarakat Kolaborasi Internasional (PMKI) terhadap pekerja migran Indonesia (PMI) di Taiwan. Para pengajar di PNJ ini mengedukasi para PMI mengenai manajemen dan pengelola keuangan. Iwan susanto, Ketua Pelaksana bersama dua dosen jurusan akuntansi di PNJ Heti Suryani Fitri, dan Lini Ingriyani, serta dosen jurusan TIK di PNJ, Iwan Sonjaya, menjabarkan berbagai aspek mengenai perencanaan keuangan demi mendongkrak literasi keuangan para PMI di Taiwan.
Iwan menyampaikan pengabdian ini bertujuan untuk memberdayakan dan melakukan pendampingan para PMI di Taiwan terkait pengelolaan keuangan dari pekerjaan yang para PMI tersebut “Pengabdian ini kami lakukan sebagai bentuk kepedulian kami supaya para PMI mampu mengelola keuangan dengan baik dan mampu mengembangkan kesempatan mengumpulkan modal untuk investasi supaya saat kembali ke Indonesia bisa kontinue meningkatkan kesejahteraan," ujar Iwan pada siaran pers yang diterima swa.co.id di Taouyuan City, Taiwan pada Rabu (18/7/2024).
PNJ, pada program pengabdian masyarakat ini, berkolaborasi dengan PCINU (Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama) Taiwan. Ketua PCINU Taiwan, Didik Purwanto, menyampaikan para PMI yang juga merupakan jamaah Nahdatul Ulama di Taiwan tidak hanya mendapatkan uang dari pekerjaannya tapi juga bisa mengelola uangnya.
Menurutnya, para PMI di Taiwan harus diberi pendampingan terkait literasi cara mengatur uang, upaya saving money, dan alokasi investasi. Heti, pada paparan kegiatan pengelolaan keuangan, menyampaikan materi mengenai perencanaan keuangan agar para PMI memiliki pondasi dalam mengelola keuangan mulai dari mengelola arus kas supaya selalu surplus, memahami pentingnya memiliki macam-macam asuransi, dapat merencanakan dana pendidikan, dana pensiun serta strategi yang harus dilakukan guna mencapai kesejahteraan secara finansial.
Heti mengemukakan salah satu hal terpenting yang harus diutamakan mengelola sumber penghasilan adalah mengalokasikan tabungan dan dana darurat. “Setelah menyisihkan untuk tabungan, terutama untuk dana darurat yang harus dimiliki yaitu 3-12 kali dari pengeluaran bulanan, setelah itu sisanya baru mengatur untuk pengeluaran bulanan.” tutur Heti yang memegang lisensi Certified Personal Money Manager (CPMM).
Heti mengatakan sebelum membuat tabungan dan investasi, pelunasan utang dan tagihan tetap menjadi prioritas utama. Ia menjelaskan jumlah utang yang ada tidak boleh melebihi 30% dari pendapatan. Apabila melebihi itu merupakan ciri manajemen keuangan yang bermasalah.
Materi selanjutnya disampaikan oleh narasumber kedua menjelaskan tentang pengelolaan utang. "Tata kelola utang yang buruk bisa menyebabkan kebangkrutan, sehingga sebelum berutang harus memperhatikan tujuan berutang dan biaya yang harus dikeluarkan” tutur Lini yang memegang lisensi Certified Securities Analyst (CSA).
Sebelum berutang harus memastikan sumber pembayaran hutang dan bunganya terjamin sehingga bisa menghindari defisit keuangan. Dalam sesi ini juga disampaikan materi mengenal investasi supaya mereka mulai melakukan investasi sesuai dengan tujuan investasinya, untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja Indonesia di Taiwan.
Ketua PCINU Taiwan berharap dampak positif dari pengabdian masyarakat ini tidak hanya berhenti pada kegiatan sosialisasi literasi keuangan, tapi dapat berlanjut untuk kegiatan lainnya yang dilakukan dengan sinergi bersama, “Harapannya kolaborasi dengan PCINU dilaksanakan secara berkelanjutan agar para PMI diberikan pendampingan melalui video edukasi dan juga layanan lainnya” jelas Didik. (*)
Dilarang keras mengambil konten (tulisan, foto, infografis, video, dan sebagainya) yang dimuat di situs web ini, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk platform AI (artificial intelligence) dan platform digital lainnya, tanpa izin tertulis dari direksi yang berwenang di situs web ini.