Tiket.com; Perkuat Strategi Rekrutmen dan Engagement untuk Hadapi Tech Winter
Demi menjaga momentum pertumbuhan industri pariwisata, Tiket.com sebagai platform online travel agent terus memperkuat fondasi bisnis, khususnya di sisi people management.
Tiket.com sangat memperhatikan soal keberagaman karyawannya. Tak mengherankan, platform asal Indonesia ini mempunyai 1.200 karyawan yang terdiri dari sembilan kewarganegaraan yang bekerja di delapan negara. Rata-rata usia mereka 29 tahun. Yang juga perlu dicatat, jumlah pemimpin perempuan di perusahaan digital ini naik 6% jika dibandingkan di tahun 2023; sekarang ada 34% pemimpin perempuan.
Seperti halnya digital company lainnya, tentunya Tiket.com juga menghadapi tantangan tech winter. Karenanya, Tiket.com berupaya memastikan bisa melakukan rekrutmen yang berkualitas dan efektif. Pada masa ketika perusahaan teknologi sedang mengalami penurunan investasi dan tantangan keuangan, Tiket.com menyadari pentingnya menjaga kualitas rekrutmen untuk tetap dapat bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Salah satu langkah utama yang diambil ialah memastikan bahwa setiap posisi yang dibuka (lowongan) dapat terisi secara optimum. Ini berarti Tiket.com tidak hanya fokus pada kuantitas, tetapi juga pada kualitas kandidat yang direkrut.
Fokus utama dalam strategi rekrutmen ini ialah para profesional senior yang memiliki pengalaman dan keahlian yang mendalam di bidangnya. Dengan merekrut individu yang telah terbukti kompetensinya, Tiket.com berharap dapat meningkatkan kualitas tim secara keseluruhan dan mengakselerasi pertumbuhan perusahaan.
“Sebagai pembanding, tingkat success rate untuk masuk di Tiket.com adalah 15%, sementara berdasarkan data Badan Kepegawaian Negara (BKN), success rate untuk menjadi pegawai negeri sipil 35%. Artinya, perusahaan kami ingin memastikan hanya best of the best tier-1 employee yang dapat masuk ke Tiket.com,” kata Iman Setiadi, VP People Strategy Tiket.com.
Di luar program rekrutmen, perusahaan digital ini juga berusaha membangun talenta dari dalam dengan memberikan peluang pengembangan karier yang jelas dan terstruktur. Tiket.com, menurut Iman, juga berupaya melibatkan karyawan dalam seluruh proses transformasi dari praktik perusahaan teknologi tradisional menuju penerapan tata kelola yang baik.
Terkait kompensasi, Iman menyebutkan, perusahaannya menerapkan sistem agile reward, yakni sistem penghargaan yang lebih fleksibel dan responsif terhadap karyawan. Perusahaan ini juga menjalankan konsep berikut: karyawan yang memiliki kinerja tinggi mendapatkan penghargaan lebih besar.
“Dengan pendekatan ini, perusahaan tidak hanya memotivasi karyawan untuk berprestasi lebih baik, tetapi juga memastikan penghargaan yang diberikan sejalan dengan kontribusi mereka,” kata Iman.
Secara rutin, perusahaan ini juga melakukan sentiment check-up untuk memastikan keterlibatan karyawan terjaga sepanjang tahun. Sentiment check-up rutin ini memungkinkan perusahaan mendapatkan wawasan yang lebih mendalam tentang kebutuhan dan harapan karyawan, sehingga dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk meningkatkan kesejahteraan dan kinerja mereka.
Di Tiket.com, kata Iman, proses membangun engagement dilakukan secara terus-menerus selama 365 hari dalam setahun. Ini berarti bahwa setiap hari perusahaan dapat memantau kondisi karyawan dan memahami persepsi mereka terhadap lingkungan kerja dan kebijakan perusahaan. Melalui pendekatan yang berkelanjutan ini, Tiket.com dapat segera mengidentifikasi dan mengatasi masalah yang mungkin timbul, serta memastikan mereka merasa dihargai dan didengar.
Kondisi tech bubble menciptakan tekanan yang lebih tinggi bagi perusahaan digital, yang tentu saja berdampak terhadap suasana hati karyawan. Untuk itu, Tiket.com melakukan berbagai inisiatif seperti Off to Outing, yaitu kegiatan gathering antardirektorat yang bertujuan mempererat tali silaturahmi dan memperbarui semangat kolaborasi.
Di Tiket.com, karyawan juga merayakan milestone dan peristiwa penting dalam kehidupan, seperti memberikan ucapan selamat bagi yang berulang tahun, melahirkan anak, dan sebagainya. Tiket.com juga menerapkan Employee Assistance Program, untuk menjaga kesejahteraan t-Fams (sebutan untuk karyawan Tiket.com) melalui program konsultasi keuangan dan mental.
Dilihat dari hasil pengembangan pemimpin, 77% kebutuhan pemimpin Tiket.com didapat dari internal movement. Adapun dari sisi retention, 82% karyawan merasakan bahwa mereka diapresiasi dan mendapatkan pengakuan (recognition).
“Kami berhasil mengurangi turnover sebanyak 11%, yang menunjukkan komitmen manajemen untuk membangun tim yang tahan lama,” kata Iman. Beberapa hal utama yang menurutnya menjadi faktor engagement karyawan ialah dinamika tim yang solid, budaya organisasi, dan hubungan positif dengan manajer.
”Terlepas dari tantangan yang dinamis, kami tetap berdiri teguh untuk memberikan user experience terbaik, memaksimalkan profitabilitas, mendorong pertumbuhan berkelanjutan, dan memperkuat fondasi kami sebagai bagian integral dalam membentuk masa depan berkelanjutan,” Dudi Arisandi, Chief People Officer Tiket.com, menandaskan. (*)